A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
3. Penjelasan


__ADS_3

"mama, Raven pulang"


"eh anak mama udah pulang"


"iya ma" Raven mencium punggung tangan mamnya dan ke kamar mandi. Selesai berganti pakaian Raven segera membuka buku dan belajar.


"mama..mama.." panggil Vania yang sedari tadi menunggu mamanya menyiapkan makan siang.


"iya sayang, ada apa?"


"kakak mana ma?"


"kakak ada di kamarnya sayang, kenapa? kangen ya sama kakak ya?" mengangkat tubuh mungil Vania ke gendongannya dan berjalan menuju meja makan sambil membawa piring berisi lauk ikan di tangan kanannya.


"Vania mau ketemu sama kakak dulu ya ma.." Vania turun dari gendongan ibunya dan berlari kecil menuju kamar kakaknya.


"iya sayang, sekalian ajak kakak ke meja makan"


"iya ma.."


"kakak...kakak.."


"eh, Vania...adek kakak yang paling cantik" Raven yang tengah belajar dikejutkan dengan kedatangan adiknya, langsung mengangkat tubuh kecilnya ke pangkuannya. Raven memang sangat sayang dengan Vania begitupun sebaliknya. Namun, yang namanya adik dan kakak ga mungkin ga pernah berantem.


"ada apa dek?"


"Vania kangen kakak" dengan gemas, Raven langsung memeluk adiknya.


"kakak juga kangen Vania"


"kakak sedang belajar?"


"iya, biar pinter, biar kalau di sekolah kakak dapat ranking satu"


"kalau gitu Vania juga mau belajar biar kalau di sekolah dapat ranking satu"


"hahahaha.. Vania sekolahnya nanti kalau udah gede"


"kan Vania udah gede"


"iya, iya kamu emang udah gede" sambil menahan ketawa.


"oia kak, tadi kata mama kakak di suruh ke meja makan"


"oh, yaudah ayok" berjalan ke meja makan sambil menggendong Vania.


"mama..." panggil keduanya.


"kompak banget"


"iya dong ma, harus itu hehe.."


"yaudah ayo makan, ini mama udah siapin masakan kesukaan kalian" sambil menunjuk ke arah ikan dan sayur.


"waaahh... kelihatannya enak banget nih hemm." kata Raven.


"iya dong ka, kan mama yang masak pasti enak dong"


"udah ayo makan"


"sini, biar mama yang ambilin, Vania mau pilih lauk yang mana? ikan apa sayur?"


"sayur dong ma, biar sehat"

__ADS_1


"kamu pinter banget sih, adek siapa sih ini" saking gemesnya, Raven mencubit pipi gembul Vania membuatnya mengaduh.


"sakit kak" mengusap kedua pipi gembulnya yang dicubit.


"eh kekencengan ya, maat hehe"


"udah ayo di makan keburu dingin, ini sayurnya sayang" menyendokkan sayur ke piring Vania.


"kok adek doang sih ma yang di ambilin?"


"kan kakak udah gede, harus ambil sendiri"


"kan kakak juga mau diambilin mama,dek"


"ambil sendiri kak"


"nggak mau! maunya diambilin mama"


"ih kakak bandel deh"


"kok kakak yang bandel"


"ya kakak emang bandel"


"kamu tuh yang bandel"


"kakak"


"kamu"


"kakak"


"kamu"


"kakak" Zanna yang sedari tadi memperhatikan perdebatan kedua anaknya hanya menggelengkan kepala dan segera mengakhiri perdebatan mereka.


"kok jadi kita sih yang bandel"


"wleekk.."ejek Raven membuat Vania cemberut kesal.


"ayo cepat baikan" perintah Zanna kepada kedua anaknya.


"gamau!" jawab bersamaan.


"kenapa gamau?" mereka diam. Melihat sikap kedua anaknya sama keras sepalanya mengingatkan Zanna pada almarhum suaminya. Tanpa dia sadari air matanya mulai membasahi pipinya. Merasa kalau mamanya menangis, Raven segera melihat ke mamanya.


"mama nangis?" bisik Raven, karena tidak mau adiknya yang tengah asik menyantap makanannya itu mendengarnya. Zanna menggeleng sambil menunduk.


"ma, Vania sudah kenyang. Vania main ke kamar dulu ya ma" dianggukkan oleh Vania. Kemudian Vania masuk ke kamarnya dan tinggal Zanna dan Raven yang ada berada di meja makan.


"mama nangis? pasti karena sikap aku dan Vania tadi" menunduk merasa bersalah.


"enggak sayang, bukan itu"


"lalu? kenapa mama nangis?"


"mama melihat kalian berdua yang sama keras kepala dan gamau ngalah, mama teringat sama papa kamu. Dulu papa juga seperti kalian"


"udah dong ma, papa udah tenang di sana. Jangan nangis lagi ya, dan maafin Raven karena Raven ngga bisa bersikap dewasa"


"enggak apa-apa kok, udah kamu habisin makan kamu dan bantu mama bawa semuanya ke dapur ya"


"iya ma" setelah menghabiskan makannya, Raven membantu membawa piring kotor ke dapur untuk di bersihkan. Sambil membantu mamanya, ia teringat bapak supir yang ia temui tadi siang di parkiran sekolah.

__ADS_1


"oiya ma, aku mau tanya"


"tanya apa sayang?"


"apa mama kenal sama orang yang bernama Pak Evano Prasetya dan Ibu Nirmana?"


"kenapa, apa terjadi sesuatu?" Zanna yang sedang membersihkan piring kotor seketika berhenti dan beralih menatap serius anaknya.


"enggak, tadi pas waktu aku jalan ke parkiran aku tidak sengaja menabrak kakak kelas aku yang jalan di depan aku, terus ada bapak-bapak dateng kelihatannya sih supirnya"


"terus?"


"kemudian bapak itu ngajak aku ngobrol, katanya majikannya nitip pesan sama dia disuruh nyampein ke orang yang bernama Eko Reinaldi dan Zana Kirana" (mamanya mendengarkan dengan seksama).


"terus anehnya bapak itu bisa tahu nama kepanjangan aku, katanya sih di tahu karena liat di seragam sekolah aku, tapi kan tulisan di seragam aku disingkat 'Raven Nandana G.' terus darimana bapak itu tahu nama belakang aku Gibran?"


"apa kamu mengenal bapak itu?"


"enggak kenal ma, cuman yang aku denger dari kakak kelas yang aku tabrak itu kalau ga salah namanya 'Pak Safar' deh"


"hah?" Zanna menutup mulutnya tidak percaya dengan yang ia dengar barusan.


"kenapa? mama kenal?"


"kata kamu tadi bapak itu nitip pesan, pesannya gimana?"


"katanya tadi, emm..'sampaikan ke orang tua kamu kalau kamu sudah bertemu dengan anaknya Pak Evano Prasetya dan Ibu Nirmala' gitu katanya. Tapi aku gatau maksudnya apa"


"Rav, pa kamu masih ingat kata-kata papa dan mama dulu waktu papa masih ada?"


"emm..yang mana ya ma?"


"yang dulu papa kamu bilang, jika kamu dan anak sahabat papa bertemu maka itu sudah waktunya"


"ma-maksud mama? waktu? waktu apa ma?"


(menggenggam kedua tangan Raven) "waktu untuk kamu menikah dengan anaknya sahabat papa"


"me-men-menikah? enggak! enggak mama pasti becanda, aku nggak mau ma. Aku aja masih kelas satu SMA masa MENIKAH sih"


"tenang dulu sayanh, bukan sekarang. Tapi mama gatau kapan itu terjadi" mencoba menjelaskan kepada anaknya agar tenang.


"enggak ma! aku nggak mau!" melepas pegangan tangan mamanya dan beralih mengusap wajahnya.


"mama tahu kalau ini sangat mendadak buat kamu, tapi ini wasiat terakhir dari papa kamu Rav. Kamu harus menikah setelah bertemu dengannya"


"tapi ma, Raven belum siap. Lagian dia itu kakak kelas aku ma, masa aku harus menikah dengan kakak kelas aku sendiri? kan enggak mungkin ma"


"mama tahu kamu butuh waktu, mungkin ini cara agar papa kamu bisa tersenyum bahagia di sana"


"tapi ma.."


"sudah terima saja perjodohan ini, biar papa juga bisa tenang"


"sudah, lebih baik sekarang kamu siap-siap. Ada les kan hari ini?"


"iy-iya ma" dengan wajah sedikit kesal dan tidak percaya, kemudian Raven menuju ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.


TERIMAKASIH UNTUK YANG MASIH MEMBACA CERITA DARI AKU, AKU MINTA MAAF KARENA LAMAAA BANGET GA UPDATE🙏


INSYA ALLAH AKU BAKAL USAHAIN UPDATE TIAP HARI😁😁


DAN JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN KOMEN YA, SUPAYA AKU SEMANGAT NULIS CERITA SELANJUTNYA...

__ADS_1


TERIMAKASIH,


HAPPY READING😊


__ADS_2