
Waktu yang di tunggu-tunggu.
Aleta sudah rapih dengan dress selutut berwarna cream miliknya, serta tas slempang mini yang begitu pas dengannya.
Sedangkan Raven hanya memakai celana jeans panjang dan hoodie berwarna hitam. Itu pun sudah mampu membuat para ciwi terpesona oleh penampilannya.
Janji temu Aleta dengan seseorang sudah di depan mata. Mereka berangkat berdua dari rumah, dan benar saja diizinkan oleh orang tuanya.
Mala dan Evano sangat senang melihat kebersamaan kedua anaknya tersebut.
Setelah berpamitan mereka segera berangkat. Raven mengantar Aleta ke sebuah tempat yang menjadi janji temunya dengan seseorang. Raven menurut tentunya.
"Makasih Raven. Lo boleh pergi" ucap Aleta setelah turun dari motor.
"T-tapi Kak? Bagaimana dengan Kak Aleta?" Raven bertanya memastikan.
"Nanti gue berangkatnya sama temen gue. Udah sana lo ke rumah Arga." ujarnya.
"Nanti kakak pulangnya bagaimana?" tanya Raven lagi yang sepertinya tidak ingin meninggalkan Aleta begitu saja.
"Nggak usah difikirin, nanti lo jemput gue di sini lagi."
"Baiklah. Tapi kak..." Raven menggantung ucapannya.
"Sudah sana pergi!"
"Kakak jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa segera hubungin aku" ucapnya sebelum pergi.
"Nggak akan terjadi apa-apa sama gue. Udah sana"
"Aku pergi, nanti aku jemput dua jam lagi" ucapnya lagi.
"Lima jam?" tawar Aleta.
"Tiga jam!" Raven mengurangi waktu yang ditentukan Aleta.
"Empat jam deh."
"Tiga jam!" finall Raven.
"Yaudah deh terserah. Kalau gitu gue masuk dulu, bye!"
"Iya."
Kemudian Aleta masuk ke tempat itu. Dilihat dari luar sih seperti cafe pada umumnya, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Lalu Raven segera melajukan motornya meninggalkan tempat itu seperti yang diperintahkan oleh Aleta padanya. Dengan ragu-ragu dan perasaannya yang tidak enak sama sekali sejak dari rumah tadi, ia memilih menunggu saja dari kejauhan.
.
"Dia di mana?" terlihat Aleta celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang sambil meremas tali tas slempang mininya.
Tak lama ia dikejutkan dengan tangan seseorang yang berada di pundaknya. Dengan perlahan kepalanya menoleh ke pemilik tangan tersebut.
"Riki? Lo ngagetin gue"
"Sorry. Waaww! Your'e so beautifull!" serunya takjub melihat penampilan Aleta dari bawah hingga atas.
"Makasih. Tapi, bisa lo turunin tangan lo dari pundak gue?" pintanya kemudian lengan kekar itu langsung turun.
__ADS_1
"Oh? Oke! Ayo duduk di sana dulu." Riki menarik kursi untuk Aleta duduk.
"Tunggu, lo bilang kemarin mau ajak gue ke pasar malam? Kenapa malah ke sini?" tanyanya heran setelah duduk.
"Iya, nanti kita ke sana. Gue mau makan dulu, lapar." ucapnya setelah ikut duduk di depan Aleta.
"Ba-baiklah. Tapi selesai lo makan, kita segera berangkat ya? Gue nggak nyaman ada di sini, orang-orangnya pada serem" gumamnya sambil bergidik ngeri.
"Don't worry Baby. Mereka semua baik-baik. KALIAN! JANGAN LIHATIN CEWEK GUE! NGGAK LIHAT DIA KETAKUTAN LIHAT MUKA KALIAN?" Riki mengeraskan suaranya untuk menegur beberapa orang di sana.
Dengan cepat orang-orang itu memalingkan wajah menghindari mereka berdua.
"Clear! Mereka nggak lihatin kita" ucapnya kepada Aleta dengan senyum yang merekah.
"I-iya."
Aleta sedikit dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita dengan pakaian yang terlihat mini dan memperlihatkan bentuk tubuh serta dadanya. Ditambah wanita tersebut membungkuk saat meletakkan sepiring makanan dan dua gelas minuman di depannya dan Riki.
Aleta bisa melihat ke mana arah mata Riki tertuju saat wanita itu juga menatapnya dengan tatapan menggoda.
Sungguh, Aleta semakin dibuat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Kenalin, dia Qhia. Dan Qhia, kenalin dia Aleta. Cewek yang sering gue ceritain sama lo." ucapnya kepada cewek bernama Qhia tersebut.
"Seriously?! Lo cantik banget! Kenalin nama gue Qhia, teman sekaligus sahabat Riki." ucapnya dengan mata berbinar sambil memperkenalkan diri.
"Iya kak, gue Aleta." Aleta tersenyum sedikit kaku.
"Silahkan diminum." ucap Qhia layaknya karyawan cafe.
Kemudian wanita itu berlalu pergi. Sedangkan Riki sudah mulai melahap makanannya.
Riki yang menyadari ada yang menatapnya itupun mengangkat wajahnya menatap Aleta.
"Ada apa? Minumlah! Gue hampir selesai" titahnya disela kunyahannya.
"Tidak perlu, gue nggak haus" singkat Aleta.
"Apa perlu menunggu haus untuk minum? Minumlah, gue udah pesan kan sayang kalau nggak diminum" ucap Riki yang terdengar menggiurkan.
"Iya, nanti gue minum"
"Oke." lalu Riki melanjutkan makan malamnya.
Selesai dengan makanannya, Riki meraih gelasnya dan mengajak Aleta untuk minum juga.
"Ayo diminum!"
"Baiklah." dengan gerakan ragu-ragu, Aleta mengambil gelasnya.
Ting! -dentungan gelas mereka berdua.
Setelah Aleta meneguk minuman itu, terlihat orang-orang di sana keluar dari cafe itu.
Sedangkan Riki menunjukkan smirk nya dibalik gelas yang tengah berada di bibirnya sambil melirik penuh kemenangan ke arah Aleta.
"Kemana semua orang?" tanya Aleta setelah menghabiskan minumannya. Dan melihat sekeliling orang-orang menyeramkan itu telah tiada.
"Gue nggak tahu" Riki menghendik acuh.
__ADS_1
"Loh? Kok pintunya ditutup? Sudah tutup ya cafe-nya?" Aleta bertanya seperti orang bodoh menurut Riki.
"Gue nggak tahu." lagi-lagi cowok itu menghendik acuh.
"Rik, yang bener aja sih. Gue takut.." nada suara Aleta mulai terdengar gemetar.
"Santai aja, nggak ada apapun" sedangkan Riki masih santai.
"Rik, ayo kita keluar dari sini. Gue takut.."
"Bentar, gue masih kenyang. Istirahat bentar" dan Riki malah menyandarkan punggungnya di kursinya.
"Kalau lo nggak mau keluar, biar gue sendiri aja. Ke pasar malamnya nggak jadi!" pekik Aleta yang sudah kesal sepertinya.
"Ayolah girl! Come on.. Kemarilah!" saat Aleta berdiri, Riki melambaikan tangan kirinya bermaksud menyuruh Aleta mendekat.
"Apa? Jangan bilang kalau..." Aketa menggantung ucapannya dikala melihat senyum yang terukir pada bibir cowok itu.
"Gue nggak tahu apa yang sedang lo pikirin. Tapi iya, seperti itu" Riki mangguk-mangguk seolah mengerti apa yang difikirkan Aleta.
"Rik, lo jangan macam-macam sama gue!" sentaknya yang kini mulai was-was.
"Nggak macam-macam kok, hanya saja gue mau lo malam ini" kini ia berjalan mendekati Aleta dengan kedua matanya menatap tajam ke arah Aleta.
"Jangan mendekat! Atau gue teriak!" Aleta berjalan mundur dengan perasaan takut.
"Teriaknya nanti aja kalau kita sudah di sana. Lo siap?" tunjuknya ke arah sofa empuk berada.
Aleta menggeleng cepat. "Nggak! Apa maksud lo? Gue nggak akan pernah mau ngelakuin kegitu. Aduhh.." tiba-tiba ia merasakan aneh pada tubuhnya.
"Kenapa, panas ya?" Riki bertanya santai namun seperti sudah tahu apa yang dirasakan Aleta.
"Sshhh.. Kenapa badan gue gerah banget." gumamnya sambil mengibaskan telapak tangannya ke wajahnya.
"Sini gue bantu dinginin biar nggak gerah" tangannya terjulur ke pundak Aleta, namun lebih dulu Aleta menghindar.
"Stop! Jangan sentuh gue, aakkhhh.. Kenapa sama gue?! Nyalain kipas cepetan!" rontanya yang semakin membuat cowok itu tersenyum penuh kemenangan.
Rencananya berhasil!
"Nggak ada AC sayang.. Adanya gue" bisiknya dekat telinga Aleta dengan tatapan menggoda.
.
.
.
Wah Apeni?😱
Jangan bilang kalau...
Kalau, apa hayooo
Next? Komen dulu gengss😉
Jangan lupa Like!
.
__ADS_1