A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
58. Jatuh


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Raven mengendarai motornya dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya.


"kenapa kak Aleta berteriak padaku? apa aku salah sudah bertanya? aku cuman pengin kak Al tahu kalau aku beneran suka sama kakak"


"kenapa setiap aku berusaha bicara kak Al selalu sukses bikin hati aku sakit? kenapa kak.. segitu buruk kah aku di mata kak Aleta?" Raven berteriak tanpa memperdulikan kendaraan yang melewatinya.


"aku hanya ingin kak Al bersikap hangat padaku, akankah itu mungkin? setiap kali bicara padaku dia selalu mengeluarkan kata-kata yang bikin hati aku sakit" Kini dibarengi dengan air matanya yang sudah membasahi wajahnya, untung saja ia memakai helm dan kacanya berwarna gelap.


Tak lama ia sudah sampai di rumahnya.


Begitu mendengar suara motor, Vania berlari keluar menghampiri kakaknya.


"KAKAK.." panggil Vania berlari ke arahnya, Raven melepas helmnya dan turun.


"adek.." Raven mengangkat tubuh mungil Vania ke gendongannya lalu ia masuk ke dalam rumah.


"udah pulang anak mama" ucap Zanna dari arah dapur sedang membuat kue seperti biasa.


"iya ma" Raven duduk di kursi tamu dan merebahkan kepalanya di kursi dan memejamkan matanya.


"capek banget, ya?" tanya Zanna menghampirinya dan duduk di sebelahnya, Raven mengangguk tanpa membuka mata.


"kak.." Vania menggoyang-goyangkan kakinya.


"ada apa dek?" tanya Raven mengangkat kepalanya dan menatap adiknya.


"eskrim aku mana?" tanya Vania dengan tatapan polosnya.


"eskrim?" Vania mengangguk.


"Rav? kamu nggak lupa kan untuk belikan eskrim buat adek?" tanya Zanna.


"Raven lupa astaga.."


"yaah kakak ini gimana sih" Vania kesal.


"kamu kenapa Rav? nggak biasanya kamu jadi pelupa gini" Zanna menyadari ada sesuatu yang terjadi pada putranya.


"enggak, Raven nggak apa-apa"


"terus gimana kak? Vania mau eskrim" rengek Vania.


"iyaudah, sekarang kakak beliin Vania eskrim ya" Vania mengangguk.


"tadi kamu bilang capek kok mau pergi?"


"nggak apa-apa ma, cuman ke toko depan aja kok belinya"


"adek tunggu di rumah aja ya, kakak beli eskrim dulu" lanjutnya. Vania mengangguk senang.


"yaudah ma, Raven pergi beli eskrim dulu ya"


"iya, hati-hati" Raven mengangguk dan langsung menaiki motornya dan langsung pergi.


Di sisi lain..


Aleta merebahkan dirinya di kasur tanpa melepas seragam sekolahnya. Ia menatap langit-langit kamarnya.


"gw bilang jangan deket-deket!!"


"maaf kak"


"aku minta maaf"


"maaf.."

__ADS_1


Pendengarannya dipenuhi dengan suara-suara itu, membuatnya tambah merasa bersalah sudah bersikap semaunya pada Raven.


"tolong pergi dari pikiran gw.." rintihnya sambil menutup kedua telinganya.


"Al.. Al.. cepat buka pintunya.." terdengar Mala berteriak sambil mengetuk pintu kamarnya keras.


"ada apa sih ma? pintunya nggak dikunci" teriak Aleta duduk di kasurnya. Kemudian Mala membuka pintu dan langsung berlari menghampirinya.


"mama kenapa kayak orang abis dikejar orang gila" kekeh Aleta melihat mamanya panik.


"dengerin dulu Al, Raven.." setelah mendengar nama Raven ia langsung merubah raut wajahnya dan berdiri.


"Raven? ada apa sama dia?" tanya Aleta mulai panik.


"baru aja mama Zanna telfon mama, katanya Raven jatuh dari motor" Aleta syok merasa lemas dan hampir kehilangan keseimbangannya.


"terus gimana kekadaannya sekarang?" tanya Aleta menatap mamanya.


"katanya Raven pingsan dan sampai sekarang belum sadar"


"dia di mana? di rumah sakit?"


"dia di rumahnya"


"gimana sih, orang sakit kok nggak di bawa ke rumah sakit" gerutu Aleta.


"sudah, mama mau ke sana kamu ikut apa di rumah?"


"Al ikut"


"yaudah ayo"


"bentar, Al ganti baju dulu"


"baiklah, mama tunggu di bawah" Aleta mengangguk, Mala berlalu keluar dari kamarnya.


"sudah Al?" tanya Mala, Aleta mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.


"jalan Pak" titah Aleta kepada Safar, mobil bergerak menuju rumah Raven.


Sedangkan...


"mama, kenapa kakak belum bangun?" tanya Vania kepada mamanya karena dari 15 menit yang lalu Raven belum sadar.


"kamu tenang dulu ya sayang, nanti kakak pasti bangun kan masih diperiksa sama dokter" ucap Zanna memberi pengertian kepada putri kecilnya itu.


"gimana dok keadaan anak saya?" tanya Zanna begitu dokter selesai memeriksa Raven.


"anak ibu tidak apa-apa, hanya luka ringan saja" ucap dokter itu.


"tapi kenapa dia belum bangun dok?"


"ibu jangan khawatir, mungkin anak ibu masih syok atas kecelakaan tadi. Ibu tunggu saja, mungkin sebentar lagi anak ibu akan sadar"


"baik dok, terimakasih"


"sama-sama, kalau begitu saya permisi" Zanna mengantar dokter itu sampai depan.


"ayo kita liat kakak lagi sayang" Vania mengangguk, saat hendak berbalik terdengar suara mobil menuju ke rumahnya.


"Zanna.." Mala keluar dari mobil dengan rusuh, sedangkan Aleta biasa saja.


"Mala.." Mala memeluk Zanna erat.


"gimana keadaan Raven?" tanyanya setelah melepas pelukan.

__ADS_1


"Raven masih belum sadar"


"bagaimana bisa dia kecelakaan?"


"ma.. lebih baik kita bicara di dalam saja, tidak enak sama tetangga" sahut Aleta dan disetujui kedua wanita paruh baya itu.


"bagaimana Raven bisa jatuh dari motor?" tanya Mala lagi setelah duduk di kursi ruang tengah.


"tadi sepulang sekolah dia lupa beliin eskrim buat Vania, terus dia pergi buat beli eskrim dan gatau gimana dia bisa jatuh. Tiba-tiba dia dibopong warga pulang sudah dalam keadaan pingsan dan motornya sudah penyok" jelas Zanna.


"terus gimana keadaannya sekarang?" Zanna menggeleng, Mala mengerti maksud gelengan itu. Mala mengusap lengan sahabatnya itu bermaksud menengkan.


"aku yakin Raven baik-baik aja dan dia akan segera sadar" Zanna mengangguk.


"apa aku boleh melihatnya?" tanya Mala.


"iya, silahkan. Kamarnya di sana" Zanna menunjuk ke arah kamar tak jauh dari tempatnya.


"aku mau lihat Raven sebentar, Al kamu nggak mau lihat Raven?" tanya Mala.


"mama duluan aja nanti Al masuk setelah mama" jawab Aleta.


"baiklah" lalu Mala masuk ke dalam kamar Raven.


"Al.." panggil Zanna pada Aleta.


"iya ma?"


"mama sudah dengar dari mama kamu kalau kamu bersedia menerima perjodohan itu" Aleta terdiam.


"mama senang kamu mau menerimanya"


"iya ma"


"mama harap kalian bisa saling mengerti satu sama lain dan selalu bahagia" Aleta mengangguk dan tersenyum.


"iya ma"


"dan mama mau minta maaf atas nama anak mama, kalau Raven berbuat yang tidak enak sama kamu" Aleta tersentak mendengar perkataan Zanna.


"yang seharusnya minta maaf itu Al ma, karena Al yang selama ini berbuat seenaknya sama Raven" batin Aleta sedih.


"yasudah, kalau kamu mau lihat Raven itu mama kamu udah keluar" ucapnya melihat Mala berjalan keluar dari kamar Raven.


"sudah Al, kamu lihat kondisi Raven"


"apa Raven sudah sadar Mal?" tanya Zanna dan dibalas gelengan oleh Mala.


"kalau gitu Al masuk"


"iya sayang, kalau Raven sadar kasih tahu mama ya" ucap Zanna, Aleta mengangguk dan masuk ke kamar Raven.


"aku ikut sedih melihatnya seperti itu, Zan" ucap Mala menahan air matanya.


"jangan seperti itu Mal, pasti Raven akan segera sadar" Mala mengangguk.


Nafas dulu gais...


Gimana part yang ini? kasih kritik dan saran dong


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian biar aku makin semangat buat up xixixi


Mohon maaf kalau ada typo


Terimakasih

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2