
"lo lebih muda dari gw tapi pola fikir lo seperti orang dewasa" Raven tersenyum dari balik pintu karena Aleta belum membuka pintu kamarnya.
"aku hanya mengatakan apa yang aku fikirkan saja" ucap Raven sambil terkekeh, mungkin situasi sekarang sudah kembali menghangat.
tok tok (Raven mengetuk pintu lagi karena tidak mendengar ada suara dari dalam)
"gw masih di sini" ucap Aleta mengagetkan Raven.
"o-oh aku kira kakak sudah tidur"
"mana bisa gw tidur sedangkan gw sedang berfikir"
"ma.." Raven baru saja akan bicara, tapi Aleta sudah tahu ia akan ngomong apa.
"berhenti bilang maaf ke gw" Raven diam sambil menunduk.
ceklek (suara Aleta membuka kunci pintu kamarnya, dengan cepat Raven mendongak)
"lo ngapain masih berdiri di sini?" tanya Aleta begitu membuka pintu lansung berhadapan dengan Raven.
"ta-tadi mama bilang aku harus nunggu di sini sampai kakak keluar"
"terus kalau misalnya gw keluarnya besok lo mau berdiri di depan pintu kamar gw sampai besok, gitu?" Raven mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, entah kenapa setiap melihat Raven tersenyum seperti itu selalu menggetarkan jantungnya.
"minggir"
"hah?"
"minggir gw mau lewat" kemudian Raven sedikit bergeser karena ia berdiri di tengah-tengah pintu. Pada saat Aleta keluar, bajunya tersangkut di gagang pintu dan..
"aaakhh..." Raven berhasil menangkapnya, Aleta membuka matanya perlahan dan mata mereka bertemu.
"kakak nggak apa-apa" tanya Raven membuyarkan lamunannya.
"i-iya gw nggak apa-apa" Aleta melepas pelukannya dan berdiri.
"yaaahh..." rintihnya begitu melihat bajunya sobek.
"kenapa kak? apa kakak terluka?"
"baju gw huaaaa... ini baju pemberian mama, dasar pintu sialan" Aleta tak henti-henti memaki pintu dan memegangi bajunya yang sobek. Sebenarnya tidak begitu parah sih sobeknya, cuman kayak terlepas gitu benangnya.
"coba aku lihat" Raven melihat bajunya yang (katanya) sobek dan Aleta melihat kepala Raven mendekat ke arah perutnya ia spontan menabok kepala Raven.
"aauu.." rintihnya sembari memegang kepala bagian belakangnya.
"eehh maafin gw, gw nggak sengaja" mengelus kepala Raven yang ia pukul.
"ya lagian lo ngapain deket-deket?" lanjutnya.
__ADS_1
"aku tadi cuman mau lihat baju kakak yang sobek aja kok"
"kakak kalau bersikap manis kaya gini tambah cantik" lanjutnya, tiba-tiba saja kata itu keluar dari mulutnya. Sadar dengan ucapannya barusan ia langsung membungkam mulutnya sambil melotot.
"udah udah, gw mau ganti baju. Lo tunggu di sini" ucapnya menunjuk-nunjuk ke wajah Raven dan Raven mengangguk.
Dari balik pintu...
"apa-apaan dia" gumam Aleta masih bersandar di balik pintu.
"apa mungkin gw mulai suka sama dia?"
"aakhh.. lebih baik aku cepat ganti baju" kemudian Aleta mengganti bajunya dan membuka pintu.
"kemana dia?" Aleta membuka pintu dan tidak melihat keberadaan Raven di depan pintu kamarnya.
"huufftt.. katanya tadi nggak akan pergi sebelum gw keluar" gumamnya lirih.
"sudahlah, lebih baik aku turun mungkin dia sudah di bawah" kemudian Aleta menuruni anak tangga menuju ruang tengah.
"mereka kemana?" tanya Aleta bingung melihat tamunya sudah tidak ada di rumahnya.
"mereka sudah pulang" ucap Evano tiba-tiba.
"pulang?" ucapnya dalam hati.
"iya sayang, baru aja mereka diantar Safar" ucap Mala sembari menutup pintu utama.
"eh, kamu mau kemana?" tanya Mala saat Aleta pergi namun tidak ada jawaban.
"sudah biarkan saja dia, mungkin dia sedang menyesali perbuatannya.
Tadi...
"mama.." suara Vania dari dalam kamar.
"eh, sayang kenapa bangun?" Zanna mendekati anaknya dan menggendongnya.
"ayo pulang.." ucap Vania ingin menangis.
"eh sayang, kamu kenapa? jangan nangis gitu dong"
"ayo pulang, ma..."
"kok pulang sih? kenapa nggak nginep di rumah mama Mala aja?" Mala mendekati Vania dan mengelus pipi gembulnya.
"nggak bisa Mal, sebenarnya Vania nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak sama boneka kesayangannya"
"oohh gitu? nggak apa-apa di sini juga ada boneka banyak kok"
__ADS_1
"enggak mau, Vania maunya boneka Vania sendili" ucap Vania menggeleng.
"ayo pulang, kakak di mana?"
"kakak lagi di atas sayang"
"kakak ayo pulang.. hiks hiks" Vania menangis sambil memanggil kakaknya. Raven mendengar dari atas langsung turun menghampiri adeknya.
"Vania?" kemudian Raven turun.
"Vania? adek kenapa nangis?" ucapnya sampai dan menggendong adiknya.
"kakak ayo pulang"
"yaudah, ayo kita pulang"
"emm... Mala, Evano. Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya"
"sebelumnya aku mau ngucapin banyak sekali terimakasih untuk kalian" lanjutnya.
"iya om dan mama, Raven juga ngucapin banyak terimakasih karena sudah mengundang kami makan malam" ucap Raven mencium tangan Mala dan Evano bergantian.
"iya sayang" ucap Mala mengelus rambut Raven.
"untuk masalah perjodohan kalian kita bicaralan lain hari" ucap Evano dianggukkan Raven dan mamanya.
"yaudah kalau begitu aku panggilkan Safar untuk mengantar kalian pulang"
Raven, Vania dan Zanna sudah berada di dalam mobil.
"sampai ketemu lagi, Zanna" ucap Mala melambaikan tangan dibalas lambaian Zanna.
"dan Raven, mama akan coba lagi untuk bujuk Aleta. Kamu harus bersabar" dibalas anggukan oleh Raven.
"hati-hati kalian dan hati-hati kamu menyetirnya Safar, antarkan mereka sampai rumah dengan selamat"
"siap bu" kemudian mobil bergerak meninggalkan halaman rumah keluarga Evano.
HALLO GUYSS...🙌😁
AKU UP LAGI NIHHH😀
GIMANA CERITANYA? SERU NGGAK? KALAU KALIAN SUKA TINGGALKAN JEJAK KALIAN BERUPA
LIKE KOMEN DAN VOTE
MOHON MAAF BILA ADA TYPO😂
TERIMAKASIH♥
__ADS_1
HAPPY READING♥