A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
102. Riki


__ADS_3

Raven sudah berangkat dengan motornya. Bu Urmi pergi entah kemana, mungkin di luar sedang menggoda Safar. Sedangkan di ruang tamu terdapat dua perempuan yang tengah bercengkrama.


Aleta mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh sahabatnya, hingga ia terkejut dengan salah satu kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


"APA?!!" Aleta berteriak kemudian melihat sekitar. "Arga ngajakin lo pacaran?" lanjutnya dengan suara pelan.


Fany mengangguk, "Katanya dia pengin kaya sahabatnya yang udah punya pasangan. Nggak faham lagi gue sama jalan pikiran dia"


"Tapi, nggak apa-apa juga kalau kalian pacaran" ucap Aleta santai.


"Enak aja! Gue nggak mau sama dia, bukan tipe gue." timpal Fany menolak.


SKIP


"Arga, muka kamu kenapa lebam gitu? Kamu berantem sama siapa?" tanya Raven khawatir, baru masuk sudah mendapati muka sahabatnya sudah bonyok.


Tumben sekali cowok tukang bolos itu pagi ini datang lebih awal. Mungkin Raven yang datang kesiangan atau memang Arga yang berangkat kepagian? Entahlah, hanya Tuhan dan Author yang tahu.


"Katanya kemarin digebukin sama cowok orang. Karma, karena godain cewek orang" sahut Bella dari bangku belakang mereka.


Sesampainya di kelas tadi, Bella melihat kedatangan Arga lantas tak bisa berhenti tertawa melihat lebam di beberapa bagian muka temannya itu. Kemudian Arga menceritakan, kalau kemarin dia digebukin sama orang gara-gara godain pacar orang itu. Membuat tawa Bella semakin pecah.


"Ya ampun kasihan banget. Lagian kamu sih" Raven ikut meringis seolah merasakan sakitnya luka itu.


"Gue tuh lagi nyari ayang biar bisa samaan kaya lo, Rav." ujarnya. Raven hanya menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Astaga! Tapi ya nggak gitu juga kali, Ga!" sahut Bella.


"Rav, lo mau nggak bantuin gue?" ucapnya pada Raven.


"Bantu apa?" Raven bertanya.


"Bantuin gue cari pacar, please.." pintanya dengan tatapan memohon. Raven dibuat terkejut oleh aksi Arga.


"Jangan mau, Rav. Lagian mana ada cewek yang mau sama dia" sarkas Bella.


"Diem lo! Gue nggak butuh komenan dari lo, Bella!" tekan Arga melirik sinis ke arah Bella.


"Udahlah, Ga, lebih baik kamu fokus sama sekolah dulu. Kalau urusan pasangan biar Tuhan yang bantu carikan." ucap Raven menasehati.


"Iya tapi, kapan? Gue pengin banget punya ayang!" rengek Arga tak sabaran.


"Sabar dong" ucap Raven pelan.


Cowok itu menghela nafas kasar, "Kemarin gue ngajakin cewek jadian, langsung ditolak" Arga bergumam dan didengar kedua temannya.


"Serius?" tanya memastikan keduanya serempak.


"Kok kalian bisa barengan gitu sih kagetnya? Gue aduin ayang lo nih.." Arga menatap keduanya bergantian, kemudian menunjuk ke arah Raven dengan sorot mata mengancam.


"J-jangan dong, nanti dia marah lagi sama aku" sergahnya.


"Lagian kagetnya bisa samaan gitu" kekeh Arga.


"Emangnya Raven punya pacar?" tanya Bella.


"Punya lah! Makanya gue juga pengin punya, biar bisa double date nanti" ucap Arga.


"Lo serius udah punya pacar, Rav?" tanyanya memastikan pada Raven.


Raven mengangguk-angguk pelan.


"Siapa?" tanya Bella kepo.


"Namanya-.."


"Lo nggak perlu tahu siapa nama pacarnya Raven, karena lo bukan siapa-siapanya dia. Mending sekarang lo pamit undur diri, karena sampai kapanpun lo nggak akan pernah bisa dapetin Raven" potong Arga setelah mengajak Bella menjauh dari Raven.


"Maksud lo apa? Gue akan tetap nyatain perasaan gue sama dia!" tekan Bella nyaris berbisik.


"Terserah! Kalau emang lo udah siap buat patah hati!" ucap Arga penuh dengan penekanan.


"Gue nggak bakal patah hati sebelum gue nyatain perasaan gue!" bantah Bella.


"Gue sih udah kasih tahu ya, tergantung lo nya aja yang mau percaya apa enggak" ucap Arga sembari menyilangkan kedua lengannya di dadanya.


"Gue nggak akan pernah percaya sama omong kosong lo!" tekan Bella dengan mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Arga.

__ADS_1


"Kalian berdua bisik-bisik apa sih?"


Suara bariton menghentikan perdebatan keduanya. Arga kembali duduk di bangkunya, disusul Bella juga kembali duduk di bangku miliknya.


"Bukan apa-apa kok, tadi itu gue cuman kasih pencerahan aja sama cewek yang kepo ini" jelas Arga diakhiri melirik sinis ke bangku belakangnya.


"Gue nggak kepo ya!" tekan Bella tak terima.


"Ga, nanti kamu mau kan main ke rumah aku? Ada Kak Fany juga, kalau dia belum pulang" tanya Raven dan membuat mata cowok itu berbinar.


"Kak Fany? Serius lo?" tanyanya memastikan. Raven mengangguk sebagai jawaban.


"Kak Fany, siapa lagi sih? Kemarin kak Al, sekarang Kak Fany. Sebenarnya kakak-kakak itu siapanya mereka?" batin Bella penasaran.


°°°°°


"Rav! Di belakang kayanya orang-orang itu ngikutin kita deh" pekik Arga dari belakang Raven.


"Masa sih? Mungkin emang mereka mau lewat sini" kata Raven setelah melihat dua motor di belakang mereka lewat kaca spionnya.


"Nggak mungkin! Kita jalannya udah pelan dan mereka ikutan pelan. Gue curiga mereka orang jahat yang mau ngelakuin sesuatu ke kita!" ucap Arga mulai was-was.


"Kamu jangan ngomong gitu, aku takut"


"Lo tenang aja, ayo, sekarang kita cepetin motor kita" mereka berdua menambah kecepatan berkendara mereka.


"Mereka semakin cepat, segera hadang di depan mereka!" perintah dari salah satu orang-orang bermotor yang ada di belakang Raven dan Arga tadi.


"Baik!" jawab keduanya patuh kemudian segera melajukan motor dan berhenti di depan Arga dan Raven.


"Weh! Weh! Ada apa nih?" Arga memberhentikan motornya mendadak.


Ciitt..


"Kalian siapa?" tanya Raven dari atas motornya.


"Minggir, kami mau lewat!" pinta Arga pada kedua orang di hadapannya yang sudah berjalan ke arahnya dan juga Raven.


"Serang!" titah seseorang dari belakang mereka, dua orang tersebut mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


"Ayo turun, Rav." Arga turun dari motornya dan bersiap meladeni dua orang itu.


"Kita lawan mereka!" pekik Arga ketika dua orang itu sudah memulai aksinya.


"Ap-apa? Lawan?" beo Raven kemudian turun dari motor.


"Ayo, bantuin gue jangan diem aja!" ucap Arga saat dirinya merasa kuwalahan melawan dua orang dengan masing-masing berbadan kekar itu.


"A-aku nggak bisa!" ucap Raven berteriak.


"Sial! Gue lupa kalau sohib gue polos" gumam Arga.


"Lo telfon polisi sekarang! Biar gue yang hadapi mereka semua sendiri" ucap Arga disela serangannya.


Raven mengangguk, "Iya, polisi" kemudian merogoh saku celananya menarik benda pipih dari dalam sana. Lalu mengetik nomor polisi di sana.


BUGH!


"Aakhh!!" Raven terlempar ke aspal saat tonjokan mendarat di perutnya. Ponselnya terpental di atasnya.


"Gue nggak akan biarin lo telfon polisi!" bisik seorang pria bertopi di dekat telinga Raven.


"Kamu siapa? Tolong jangan sakiti kami" ucap Raven dengan suara lirih, sesekali meringis merasakan ngilu di perutnya.


"Lo lupa sama gue?" tanya pria itu kemudian perlahan melepas topi dari kepalanya.


"Kamu?.." Raven menatap lekat wajah yang begitu ia kenali itu. Pria itu mengangguk membenarkan isi kepala Raven. Riki. Yap, pria itu adalah Riki, mantan kekasih Aleta.


"To-tolong jangan ganggu kami, please.." pinta Raven dengan tatapan memohon.


"Banyak omong! Gue bakal ambil Aleta dari lo!" ucap Riki, kemudian melanjutkan aksinya.


BUGH!


BUGH!


BUGH!

__ADS_1


Riki memukul, menendang, bahkan menginjak tubuh Raven yang berada di aspal dengan kasar. Raven hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu, seluruh tubuhnya seperti mati rasa dibuatnya.


"RAVEN?!! Lawan gue kalau berani!" Arga berlari ke arah Raven yang sudah lemas tak berdaya kemudian menghajar Riki


"Oke, siapa takut!" ucap Riki menerima tantangan.


Sedangkan Raven sudah babak belur, ia terkulai lemah di permukaan aspal dengan mata terpejam. Merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat ulah Riki. Perlahan ia membuka mata dan melirik ponselnya yang tadi terpental di atasnya.


Tangannya menjulur meraih ponsel tersebut sambil memegang perutnya yang terasa sakit.


Arga melawan Riki dan kedua orang suruhan Riki seorang diri. Dirasa lawannya sudah tak berdaya, kini Arga berganti menghajar Riki karena sudah berani menyentuh sahabatnya yang ia tahu bahwa Raven tak jago bela diri.


Sepertinya Riki kewalahan menghadapi Arga. Gini-gini Arga jago bela diri. Merasa dirinya sudah tak sanggup lagi menghadapi Arga, ia menghampiri orang-orangnya dan pergi dari sana. Meninggalkan Arga yang menyeka darah di ujung bibirnya akibat tonjokan Riki


"Bangs*t! Beraninya keroyokan!" murka Arga sambil mensumpah serapah ketiga cowok yang sudah melesat pergi.


Kemudian ia teringat dengan sahabatnya, ia menoleh dan menghampiri Raven yang sepertinya sudah pingsan dengan sebelah tangan masih menjulur, tak sampai meraih ponsel.


"Raven? Bangun!" Arga menggoyangkan tubuh Raven yang terkulai lemah dengan mata terpejam.


"Aduh, dia pingsan. Gimana nih, mana jalan di sini sepi nggak ada taksi lewat" gumamnya panik.


"Apa gue telfon Kak Aleta? Tapi,.." ucapan Arga terhenti saat mendengar rintihan dari orang di bawahnya.


"Jangan telfon.. Kak Al.."


"Rav? Lo sadar? Ayo, gue bantu duduk" kemudian Arga membantu sahabatnya bangun dan duduk.


"Mereka sudah pergi?" tanya Raven lirih.


"Udah. Ya ampun wajah ganteng lo, Rav" Arga meringis melihat darah di sudut bibir Raven, serta luka di beberapa bagian wajah cowok itu.


"Kamu nggak apa-apa kan? Itu bibir kamu ada darah. Luka kamu belum sembuh, sekarang ditambah lagi" cerocos Raven khawatir dengan keadaan Arga, tanpa memperdulikan lukanya sendiri.


"It's oke, no problem. Gue mah jago bela diri, jadi udah biasa." ucap Arga.


"Maafin aku, Ga" lirih Raven sambil menunduk.


"Kenapa lo yang minta maaf, yang seharusnya minta maaf itu mereka!" sentak Arga geram. Raven terdiam menahan rasa sakitnya.


"Mau pulang sekarang?" tanya Arga pelan.


"Tapi,.."


"Oh iya gue tahu, kalau pulang keadaan lo kaya gini pasti nanti Kak Aleta khawatir. Mau ke rumah gue aja?" potong Arga. Raven menggeleng tanda tidak mau.


"Enggak, aku mau pulang. Aku takut orang itu datang ke rumah dan ngapa-ngapain Kak Al. Ayo, Ga, kita pulang." rengeknya sambil menarik lengan Arga


"Iya-iya, lo bisa bawa motor dengan keadaan lo kaya gini?" tanya Arga dan dianggguki oleh Raven.


"Yaudah, gue bantu naik" kemudian Arga menuntun Raven ke motor milik Raven.


"Ayo!" ajaknya setelah menstater motornya, bahkan Arga baru memakai helm.


"Hati-hati baw-.. Eh malah ngebut tu anak? Nggak sayang nyawa apa gimana?!" pekik Arga saat Raven melesat pergi begitu saja meninggalkannya.


"Aku nggak akan biarin kalau sampai Riki melukai Kak Al lagi. Aku harus cepat sampai di rumah" ucap Raven di atas motornya. Ia takut kalau Riki akan datang ke rumahnya dan mengganggu Aleta lagi.


"Jangan ngebut woy!" teriak Arga dari motornya. Menambah kecepatan untuk ia bisa menyusul Raven.


.


.


.


Nafas dulu guys, tegang banget bacanya hahaa..


Gimana episode hari ini? Tolong beri kritik dan saran dari kalian yaa.. Terimakasih.


Aku minta maaf sebelumnya karena lamaaa banget ngilangnya😭 asal kalian tahu, aku hampir lupa kalau punya cerita di sini. Sebenarnya ini draft udah dari beberapa bulan yang lalu untungnya enggak ilang🥲


Dimaafin nggak? Maafin dong, plisss..🥹🙏🏼


Janji deh, bakal lanjutin cerita ini sampai tamat. Kalau bisa sampai A&R ada cucu hehehehe


Pokoknya ikutin terus sampai tamat. Ohya, kalau misalnya aku ngilang lagi, kalian boleh banget tagih update an ke aku lewat komen atau DM akun Instagram aku @wpme_8 yang queenbyelv, oke?❤️

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Vote juga yaa


Sayang kalian banyak-banyak🥰


__ADS_2