A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
100. Pembantu Baru di Rumah Baru : Part 2


__ADS_3

Sebelum kejadian.


"Non Aleta, kata bapak, beliau sudah mengirimkan pembantu di rumah ini." ucap Safar memberitahu Aleta yang duduk di kursi belakangnya. Baru saja Safar menerima chat dari Evano.


"Papa udah kirim pembantu kesini?" tanya Aleta memastikan.


Safar mengangguk, "Iya, non. Dan kata bapak juga dia sudah di rumah ini"


"Apa?"


"Tapi, non, pembantu itu sedikit aneh" ucap Safar.


"Aneh gimana, pak?!"


"Kalau dia melihat yang menurutnya ganteng, bakalan nemplok terus, non" mendengar ucapan supirnya, Aleta langsung teringat dengan suaminya yang sudah masuk ke rumah.


"Raven? Gue mau masuk, jangan sampai pembantu itu berani godain suami gue!" batinnya seraya keluar dari mobil dengan rusuh. Diikuti Safar di belakangnya.


.


"Jangan seperti ini bu Urmi. Tolong lepasin aku!" ronta Raven, pembantu itu malah semakin erat memeluknya.


"RAVEN?!!"


DEG!


"Kak Aleta?"


"Nona Aleta?"


"Jauhin tubuh lo dari dia!" sentaknya setelah mendorong tubuh wanita itu dan berdiri membelakangi Raven.


"Saya hanya me-.."


"Diam! Jadi anda pembantu di rumah ini?" potong Aleta.


"Benar, nona" jawab pembantu itu setelah memberi hormat dengan membungkuk.


"Papa ini gimana sih, cari pembantu kok yang bentukkannya begini?" Aleta meneliti wanita di depannya dari bawah hingga atas.


"Kak Ale-.."


"Lo juga! Kayanya nyaman banget dipeluk sama pembantu itu!" potong Aleta setelah berbalik menghadap Raven.


"Bukan begitu, kak" ucap Raven.


"Habisnya Tuan itu badannya pelukable banget, jadinya saya tergoda buat peluk Tuan" sahut wanita di belakangnya.


"Jangan berani sentuh Raven lagi, atau gue aduin ke papa biar dipecat!" ucapnya penuh penekanan setelah kembali menghadap si pembantu.


"Ja-jangan nona, saya butuh pekerjaan. Tolong jangan dipecat" ucap wanita itu memohon.


"Jangan kak, kasihan bu Urmi" sahut Raven.


"Jadi namanya Urmi?" gumam Aleta.


"Benar. Nama saya Urmi, Tuan bisa panggil saya yayang Urmi kal-.."


"Yayang-yayang, kayang!" potongnya lagi geram.


"Udah kak, kasihan jangan dimarahin bu Urmi-nya" lirih Raven sambil menggenggam pergelangan tangan Aleta.


Aleta membalik badan lagi menghadap Raven. "Lo belain dia? Pengin lagi dipeluk sama dia, iya? Yaudah sana!" ucapnya setelah itu berlalu pergi ke kamar meninggalkan Raven di sana dengan pembantunya dan juga Safar yang menyaksikan.


"Kak, jangan ditinggal.."


"Mau dipeluk lagi, Tuan?" ucap pembantu itu menatapnya horor.


"Nggak mau! Pak Safar tolongin aku.." pinta Raven yang sepertinya sudah ketakutan saat pembantunya kembali memeluknya.


Astaga...


"Maaf bu Urmi, tolong lepaskan Raven. Istrinya sedang marah, tolong, jangan membuat suasana menjadi semakin keruh" ucap Safar mencoba memisahkan majikannya dari wanita itu.


"Pak Safar tolong.. Aku mau susul kak Aleta, bantuin aku lepas dari bu Urmi" rengek Raven yang hampir menangis karena takut. Takut dengan pembantu itu dan juga takut istrinya marah.


"Peluk saya aja bu, daripada peluk suami orang. Tidak apa-apa, yang penting majikan saya aman" ucap Safar.


"Pak Safar serius mau gantiin dipeluk bu Urmi?" Raven bertanya.


"Tidak apa-apa. Cepat kamu susul non Aleta sebelum dia semakin marah" titah Safar setelah tubuh pembantu itu berpindah ke tubuhnya.


"Baik pak, makasih pak Safar" setelah itu Raven berlari menyusul Aleta ke kamar.


Sedangkan di sisi lain, Aleta menelfon sang ayah setibanya di kamar.


"Papa, Al mau ganti pembantu! Pembantu yang papa kirim kayanya sudah gila. Kalau papa lihat pasti langsung papa pecat" adunya pada sang ayah.


"Kamu tenang dulu sayang, papa sudah kirim pembantu yang terbaik untuk kamu."


"Terbaik apanya kalau kegitu? Terus juga tingkahnya aneh dan mesum gitu, papa bilang terbaik? Terbalik iya pa!"


"Dia memang seperti itu sayang, nanti lama-kelamaan juga hilang kok sifat anehnya. Karena memang dia baru sebulan keluar dari rumah sakit jiwa"


"APA?! Papa jangan bercanda deh" pekiknya syok.


"Papa serius, buat apa papa bohong sama kamu?"


"Pokoknya Al mau diganti pembantunya yang waras!"


"Papa sudah mengetes kemampuan mereka dan menurut papa, bu Urmi lah yang pantas menjadi pembantu di rumah kalian."


"Papa.."


"Kamu tenang saja, masakan bu Urmi sangat enak. Pasti kalian suka deh"


"Ini bukan masalah masakan enak apa enggaknya tapi,.."


"Sudah, papa masih ada kerjaan. Pokoknya pembantu nggak boleh diganti. Kamu minta sudah papa turuti kan? Maka terima saja. Kalau masih minta diganti lebih baik nggak usah ada pembantu"


"Pa.."


Tut..

__ADS_1


"Papa nih ada-ada aja sih! Telfon mama aja deh"


"Kak!" atensinya teralihkan ke orang di belakangnya.


"Ngapain kesini? Bukannya masih nyaman dipeluk sama bu Urmi?" ketus Aleta.


"Kak Aleta jangan bilang gitu. Aku nggak mau dipeluk sama dia." ucap Raven yang sudah berdiri di samping Aleta.


"Kakak jangan marah" sambungnya saat Aleta tak menjawabnya.


"Gue nggak mau ada pembantu itu di rumah ini, Raven!" ucap Aleta lirih.


"Iya aku tahu. Coba kakak bilang sama papa, siapa tahu papa cariin pembantu yang lain?"


"Udah, baru aja gue aduin sama papa"


"Terus?"


"Papa suruh dia di sini dan nggak mau cariin pembantu yang waras!" ucap Aleta geram.


Raven mengernyit tak mengerti, "Maksudnya?"


"Kata papa, bu Urmi itu mantan orgil"


Lagi-lagi cowok lugu itu tak mengerti dengan yang diucapkan Aleta, "Orgil? Apa itu?"


"Ishh.. Orang gila! Kata papa sebulan yang lalu dia keluar dari Rumah Sakit Jiwa!" ucap Aleta jengah.


"Orang gila? T-tapi, bagaimana bisa papa kirim orang gila jadi pembantu?" tanyanya heran.


"Itu yang gue nggak ngerti sama papa"


"Kakak tenang aja, dia nggak akan berani macam-macam sama kakak" ucap Raven.


"Bukan gue yang bakal dimacam-macamin tapi, lo!" tunjuk Aleta ke arah Raven.


"Aku juga akan jaga jarak sama bu Urmi, kak. Jadi kakak nggak perlu khawatir soal itu" ujar Raven.


"Gue nggak yakin" gumam Aleta.


"Percaya sama aku." ucap Raven sambil menggenggam erat jemari istrinya.


Aleta terdiam sambil berfikir, "Ini serius? Kita terima bu Urmi jadi pembantu di sini?" tanya Aleta memastikan dan diangguki pelan oleh Raven.


SKIP


"Anak kamu tadi ngomel-ngomel katanya nggak cocok sama pembantu yang aku kirim" ujar Evano kepada dua wanita di hadapannya. Tepatnya mereka tengah menyantap makan malam.


"Papa udah kirim pembantu? Kapan?" tanya Mala antusias.


"Tadi sore" singkat Evano sebelum menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Papa serius? Makasih pa, karena udah kabulin permintaan Aleta. Tapi, maksudnya Aleta ngomel gimana?" ucap Mala.


Kepala Evano menggeleng, "Yaa katanya pembantu itu aneh."


"Aneh gimana?" sahut Zanna bertanya.


"Mungkin karena masih baru ya, dan dia baru sebulan yang lalu keluar dari rumah sakit jiwa" jelas Evano acuh, membuat dua wanita di sana terkejut. Bahkan Zanna yang sedang minum sampai tersedak.


Uhuk.. Uhuk...


"Maaf, Zan. Aku tidak sengaja mengejutkan kamu" ucapnya kepada Zanna.


Zanna menggelengkan kepala, "Bukan soal itu tapi, kata Evan.." Zanna menggantung ucapannya kemudian menatap Evano bermaksud meminta penjelasan.


"Apa salahnya sih? Lagian masakan dia enak kok" ucap Evano.


"Bukan di masakannya tapi, rumah sakit jiwa? Pantas saja Aleta protes, papa kirimnya orang gila" ucap Mala tak habis fikir.


"Benar, bagaimana bisa mereka tinggal serumah dengan orang gila?" sambung Zanna.


"Bisa-bisa mereka ikutan gila, pa!" pekik Mala yang seperti membantah.


"Kalian ini, kan saya sudah carikan mereka pembantu seperti yang Aleta inginkan, dan sudah dapat. Jadi sudahlah, lagipula Urmi orang baik" tukas Evano.


"Namanya Urmi?" tanya Zanna dan diangguki oleh Evano.


"Aku telfon Aleta" ucap Mala kemudian meraih ponselnya dari meja.


Di sisi lain, Aleta dan Raven berada di dalam kamar. Tepatnya di meja belajar. Aleta menemani Raven belajar, sekaligus membantu bila Raven tak mengerti.


"Butuh kandang nggak sih?" ucap Aleta tiba-tiba dan Raven menatapnya.


"Buat apa?" tanya Raven, tangannya memegang sebuah pensil.


"Buat tuh pembantu" ucap Aleta.


"Jangan dong, kasihan"


"Lebih kasihan lagi Pak Safar yang harus jadi pelampiasannya setiap kali kumat" ucap Aleta kemudian meraih ponsel yang ada di sampingnya yang berdering tanda ada yang menelfon.


Aleta menjawab panggilan telefonnya.


"Dari mama" tunjuknya kepada Raven, diangguki oleh cowok itu.


"Hallo, ma?"


"Sayang, gimana keadaan di sana?"


"Kurang baik ma, di sini kacau" ucapnya sambil meraih boneka dino pemberiannya untuk Raven, ia letakkan di pangkuannya.


"Astaga. Maafin papa kamu ya, karena kirim pembantu yang begitu"


"Nggak apa-apa, ma. Sekarang Al kasihan sama Pak Safar yang jadi korban bu Urmi"


"Kasihan sekali dia. Kamu harus jagain suami kamu terus supaya nggak diganggu sama Urmi. Kamu mau kan sayang?" mendengar itu Aleta terdiam.


"Kamu nggak mau kan kalau suami kamu kepincut sama Urmi?"


"Ya enggak lah enak aja! Punya Al nggak boleh ada yang ngambil!" jawabnya cepat dan sekilas melirik cowok yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu di lembar kertas.


"Ekhem! Sayang banget kayanya sama suami"

__ADS_1


"Ma-mama apaan sih!" Aleta tersipu malu.


"Udah punya kamu, jadi harus kamu jaga terus"


"Iya mama. Udah ya, Al mau lanjut temenin Raven belajar. Tadi dia suruh ajarin soal yang susah"


"Iya, semangat belajarnya sayang"


Tut..


"Udah selesai nulisnya?" tanyanya pada Raven setelah percakapan dengan mamanya berakhir.


Raven mengangguk, "Udah"


"Mau tidur sekarang?" Raven mengangguk lalu merapihkan buku-bukunya.


Aleta ke kasurnya, merebahkan tubuhnya di sana. Sedangkan Raven, dia menuju tempat tidurnya, yaitu sofa. Ya, ternyata cowok itu memilih tidur di sofa dibanding seranjang dengan Aleta. Bukannya tidak mau, melainkan tidak ingin membuat Aleta tak nyaman bila mereka tidur seranjang. Padahal Aleta ingin suaminya tidur dengannya tapi, Aleta masih gengsi untuk mengajak.


"Rav!" panggil Aleta memecah keheningan.


"Ada apa, kak?"


"Pasti nggak nyaman banget ya tidur di situ?" tanya Aleta.


"Di situ, maksudnya di sofa ini? Nyaman kok, lagian sofanya juga empuk terus ada bulu-bulunya" ucap Raven dengan kejujurannya.


"Kok lo bisa sih tidur di tempat sempit gitu?" tanyanya lagi.


"Enggak sempit kok, lagian aku kalau tidur nggak banyak gerak. Jadi nggak bakalan jatuh" jawab Raven.


"Ishh nggak peka banget sih Raven!" gerutu Aleta dari dalam hati.


"Memangnya kenapa, kak? Kenapa nanya gitu?" Tanya Raven.


"Nggak apa-apa, udah tidur gih"


"I-iya. Good night, kak Al"


"Heem"


2 detik..


5 detik..


8 detik..


"Rav, mending lo tidur ikut gue deh. Daripada tidur di situ sempit" hening. Hanya terdengar deru nafas dari keduanya.


Tak mendengar sahutan, Aleta bangun dan duduk, "Rav? Lo udah tidur? Dasar kebo emang"


Huftt.. Untunglah ajakannya tadi kemungkinan tak didengar oleh suaminya. Malu banget sebenarnya kalau sampai cowok itu belum tidur.


Aleta turun dari kasur dan berjalan menghampiri Raven. Aleta berdiri di samping kepala suaminya yang terbaring memejamkan mata.


"Raven-Raven.. Lo itu ya, emang beda dari cowok lain. Kalau cowok lain tuh abis nikah pasti maunya tidurnya nempel-nempel, lah lo? Malah pisah tempat tidur. Nggak tega gue tuh sebenarnya ngebiarin lo tidur sendirian di sofa gini, kalau misalnya tiba-tiba mama atau papa datang dan lihat kita nggak tidur bareng gimana? Dikira kita nggak harmonis.


Lo selalu menjaga perasaan gue. Se-nggak-mau itu lo bikin gue ngerasa nggak nyaman? Sampai-sampai lo milih menghindar daripada bikin gue marah sama lo? Asalkan lo nurut, gue nggak bakalan marah sama lo. Gue marahin lo itu sebenarnya karena seru aja ngerjain lo" batin Aleta sembari menatap lekat wajah polos suaminya yang tertidur pulas.


"Cowok lugu kaya lo emang langka sih menurut gue. Tapi, anehnya saat ada yang mengusik perasaan lo, sifat lo bisa berubah drastis. Lo punya kepribadian ganda ya? Bisa berubah-ubah dalam suatu kondisi?" sambungnya masih berbicara dalam hatinya.


Aleta menekuk lututnya ke bawah, mensejajarkan posisi kepalanya dengan suaminya. "Manis banget kalau lagi tidur gini. Muka lo tuh udah polos, ditambah lagi tidur gini semakin polos tahu nggak? Makin nggak tega buat gue nyakitin lo." ucapnya lirih di dekat wajah Raven.


"Eugh.. Kak Aleta ngapain di sini?" Raven terbangun dari tidurnya.


Sontak Aleta berdiri dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Eh? Eum.. Gue.." Raven merubah posisi menjadi duduk dan mendongak menatap Aleta yang berdiri di sampingnya.


"Udah lo tidur lagi aja. Tadi gue pengin nonton TV, cuman nggak jadi" ucap Aleta. Sungguh, ia menahan rasa gatal di hidungnya saat ini.


"Oh, yaudah. Aku kira ada apa" ucap Raven sambil mengucek sebelah matanya.


Aleta menggeleng. "Nggak ada apa-apa."


"Oiya kak, kok di luar sepi? Apa bu Urmi nggak berulah lagi?" tanya Raven.


"Udah diantar pulang sama Pak Safar. Kata mama, dia kesini cuman pagi sampai siang aja. Nggak tahu tadi dia ngapain kesini sore" jelasnya.


"Bagus kalau gitu. Jadi bu Urmi nggak bisa gangguin aku" ucap Raven sedikit lega.


"Bagus di lo, jelek di gue! Kalau gini sih lebih baik gue di rumah sendiri ketimbang ada temennya tapi, orgil!" cerocos Aleta yang nampak kesal.


"Kakak nggak boleh ngomong gitu, nggak baik. Seburuk-buruknya manusia, mereka tetap makhluk Allah. Jadi harus selalu bersikap baik, apalagi sama orang seperti bu Urmi" ucap Raven memperingatkan.


"Iya deh iya. Kalau nggak kuat, gue mau pergi aja dari rumah" gumam Aleta dan masih bisa didengar oleh suaminya.


"Eh jangan! Kakak di rumah aja" sergah Raven.


"Oiya gue baru inget, katanya besok pagi Fany mau main ke sini. Tumben banget sih menurut gue" ucapnya.


"Nah itu bagus, besok kak Al ada temennya" ucap Raven.


"Udah ah gue mau tidur" ucap Aleta sebelum kembali ke kasurnya.


"Aku juga. Selamat malam" Raven juga kembali merebahkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya.


Hening. Aleta nampak tak bisa tidur, karena masih menginginkan cowok itu untuk ikut seranjang dengannya.


"Lo bisa nggak tidur bareng gue?" pinta Aleta untuk kesekian kalinya.


Tak mendapati sahutan lagi, Aleta mengintip ke orang yang ada di sofa. "Udah tidur? Nyebelin banget sih Raven! Ishh.."


"Tahu ah, gue tidur aja. Dasar suami nggak peka!" gerutunya setelah itu menutup kepalanya dengan selimut tebalnya.


"Kak Aleta minta aku tidur dengannya? Apa aku tidak salah dengar?" batin Raven sambil tersipu malu.


.


.


.


Apa ada yang mau dikata-katain??


Komen next dongg

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Vote✨


.


__ADS_2