A & R (Aleta Dan Raven)

A & R (Aleta Dan Raven)
55. Menjadi Teman


__ADS_3

"Riki?" ucapnya lirih saat menoleh dan melihat wajahnya. Merasa ada yang memanggil namanya, Riki membalikkan badannya dan melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu.


"Aleta? benarkah ini lo?" tanyanya sedikit kaget dan berdiri. Riki berjalan mendekat namun dengan cepat Aleta mundur.


"gw nggak akan ngapa-ngapain lo kok, lo nggak usah takut" ucapnya menyadari pergerakan Aleta yang menolak ia dekati.


"cepetan lo mau ngomong apa" ucap Aleta datar.


"b-baiklah, tapi duduk dulu" Riki menarik kursi untuknya.


"nggak perlu, cepet ngomong" pinta Aleta menatapnya tajam.


"oke oke, gw nyuruh lo kesini karena gw mau minta maaf soal kejadian dulu. Gw sadar gw salah dan.."


"baguslah kalau lo udah menyadari kesalahan lo, mulai sekarang jangan pernah hubungun gw. Jadikan ini hari terakhir kali kita ketemu atau anggap aja hari ini kita nggak ketemu"


"Al, kok sikap lo berubah? nggak kayak Aleta yang gw kenal dulu yang selalu ceria, bawel dan suka senyum saat sama gw" Aleta senyum smirk.


"heh lo itu sadar nggak sih siapa orang yang ada di hadapan lo sekarang, inget ya gw bukan lagi Aleta yang dulu. Gw bukan Aleta yang mudah lo bohongin, bukan lagi Aleta yang bisa lo badutin. Aleta yang lo bilang selalu ceria, bawel dan suka senyum itu sudah nggak ada!" ucap Aleta penuh penekanan.


"uwaahh.. hebat ya lo sekarang udah bisa ngerangkai kata-kata, banyak banget perubahan lo sekarang. Gw jadi semangat buat balikan sama lo lagi" giliran Riki menatapnya tajam.


"ap-apa maksud lo? gw nggak akan sudi balikan sama orang kaya lo" Aleta membalas tak kalah tajam.


"lihat aja nanti"


"denger ya, sampai kapanpun gw nggak akan pernah mau balikan sama lo. Oiya, dulu bukannya lo udah punya tunangan ya? mana?" Riki terdiam.


"pasti dia udah tahu sikap asli lo dan ninggalin lo, syukur deh kalau dia sadar"


"Al, kok lo ngomongnya gitu? selain gw mau minta maaf gw juga mau jelasin soal itu"


"mau jelasin apa lagi? soal yang lo selingkuh dibelakang gw? halah basi!"


"Al dengerin dulu" Riki meraih pergelangan tangan Aleta.


"lepas!" Aleta menghempaskan pegangan Riki.


"asal lo tahu gimana hancurnya gw waktu itu, gw ngerasain sakit itu sendiri tanpa ada satu orang pun tahu, dan sekarang dengan entengnya lo minta maaf dan lebih parahnya lo minta balikan? lo punya hati nggak sih hah?" Aleta mulai tersulut emosi dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Al, gw mohon maafin gw. Gw sadar semuanya salah gw, tapi gw punya alasan mangkanya dengerin dulu penjelasan gw" Aleta terdiam menahan agar tak menangis.


"dan gw harap setelah lo dengerin penjelasan gw, lo mau maafin gw"


"udahlah Rik, gw udah muak sama permintaan maaf. Gw udah sering memaafkan orang, tapi orang itu selalu ngulangin kesalahan dan minta maaf lagi, lagi dan lagi"


"gw mohon sama lo, jangan pernah nunjukin muka lo lagi di hadapan gw. Gw udah lupain lo begitupun lo juga harus lupain gw, anggep aja kita nggak pernah jalin hubungan apapun"


"enggak Al, gw bisa lupain lo tapi untuk nganggep kita nggak pernah kenal itu gw nggak bisa. Setidaknya kalau kita nggak balik seperti dulu, gw mohon jadilah temen gw"


"Rik, lo ngerti nggak sih. Pliss lah.."


"gw nggak mau nganggep lo orang asing, tolong kasih gw kesempatan buat jadi temen lo" ucap Riki dengan wajah memelas, entah bagaimana Aleta merasa tersentuh dan merasa kasihan padanya.


"dan gw tahu, pasti lo masih suka kan sama gw" dengan pede nya Riki mengatakan itu.

__ADS_1


"ap-apa? enggak gw udah nggak suka sama lo" ucapnya tanpa sadar Aleta menggaruk hidungnya, Riki melihat reaksi Aleta tahu kebiasaan Aleta kalau sedang berbohong pasti akan menggaruk hidungnya.


"lo bohong" Riki menyunggingkan senyumnya tipis.


"enggak" lagi-lagi Aleta menggaruk hidungnya.


"gw tahu kalau saat ini lo bohong, gw tahu pasti lo masih suka sama gw"


"kata siapa? gw udah bilang enggak ya enggak" saat Aleta akan beranjak pergi tangannya ditahan dan kembali menatap Riki.


"lepas!" pinta Aleta.


"gw tahu kebiasaan saat lo bicara bohong lo akan menggaruk hidung lo" ucap Riki menatap Aleta lekat.


"apa maksud lo? lepasin tangan gw!" Aleta menggoncang-goncangkan tangannya namun Riki semakin erat menggenggamnya.


"apaan sih, lepas! gw mau pulang"


"gw nggak akan lepasin kalau lo nggak kasih gw kesempatan buat jadi temen lo"


"lo nggak denger yang gw bilang tadi? gw nggak mau!"


"pliss lah Al, masa jadi temen doang lo nggak mau sih"


"kalau gw nggak mau jangan maksa bisa nggak!" kini Aleta berteriak, untung saja Cafe itu sudah disewa Riki, jadi sepi.


"dan kalau gw menginginkan sesuatu harus terpenuhi" ucap Riki tajam.


"ooohh... jadi gitu? cara lo buat selingkuh, oke gw tahu sekarang gimana sifat asli lo. Sumpah gw nyesel pernah suka sama lo!" ucap Aleta tak kalah tajam.


"Al pliss.."


"plis.. gw pengin jadi temen lo" Riki memohon.


"Riki, lo jangan bersikap kayak gini, kalau lo begini terus gimana gw bisa lupain lo. Jujur, gw nggak bohong kalau gw masih suka sama lo. Tapi gw masih takut buat deket-deket sama lo, gw takut masalalu terulang lagi dan sakit lagi, gw nggak mau itu" batin Aleta.


"lo mau kan? kasih kesempatan buat gw jadi temen lo?"


"oke, gw kasih lo kesempatan buat jadi temen gw. Tapi gw belum maafin lo" akhirnya Aleta membuat keputusan untuk menerimanya sebagai teman, karena jujur saja ada rasa senang dari dalam dirinya karena bertemu dengan Riki walaupun masih ada rasa sakit dan kekecewaan di dalamnya.


"thanks Al, gw janji gw bakal jadi temen yang baik buat lo dan gw siap jadi pelindung lo"


"apaan sih, lo nggak usah kek gitu. Gw bisa jaga diri gw sendiri"


"tetep aja, karena lo udah kasih kesempatan gw buat jadi temen lo, gw bakal jagain lo"


"gw bilang nggak usah ya nggak usah, dan satu lagi, lo emang udah gw anggep temen gw tapi jangan bersikap sok deket atau sok akrab karena emang kita nggak sedeket dan seakab itu"


"baiklah, yang terpenting sekarang gw bisa jadi temen lo" Riki tersenyum senang.


"jadi temen bukan berarti lo bebas deketin gw"


"nggak masalah soal itu"


"yaudah"

__ADS_1


"oiya, kok Cafe nya sepi? jangan-jangan lo yang..." belum selesai bicara, Riki mengangguk sambil tersenyum. Aleta langsung tahu bahwa Riki lah yang menyewa Cafe ini.


"nggak seharusnya lo ngelakuin itu"


"nggak masalah buat gw, kan gw ingin ngobrol leluasa sama lo dan nggak boleh ada pengganggu"


"jadi lo anggap pembeli itu pengganggu?"


"hahahha.. ternyata lo masih sepolos dulu" Riki sekilas mengacak puncuk kepala Aleta.


"apaan sih gajelas banget"


"yaudah, mumpung waktu sewa masih 3 jam lagi lebih baik kita duduk dan pesen makan"


"enggak usah, gw mau balik"


"tadi lo kesini sama siapa? sendiri atau sama sopir?"


"sendiri"


"gw anterin mau?"


"enggak perlu, gw bisa naik taxi"


"nggak apa-apa, lagian gw gaada kerjaan lain"


"gw bilang nggak usah..." tak menerima tolakan dari Aleta, Riki meraih lengan Aleta dan menariknya ke parkiran.


"apaan sih lepasin gw, gw bisa pulang sendiri" ucapnya menepis lengan Riki yang menggenggamnya.


"gw anter aja ya, gw pengin jadi temen yang baik buat lo"


"udahlah Rik jangan berlebihan, gw bukan anak kecil"


"gw tahu, tapi menurut gw lo masih cewek ceria dan bawel kelas 10 dulu"


"cukup Rik, gw nggak mau bahas soal itu lagi"


"gw pulang sendiri aja, lo juga pulang dan kurangin tuh playboy lo. Nggak baik tau nggak, dengan lo selingkuh gw jamin lo nggak bakal nemu pasangan yang baik"


"gw bukan playboy, berapa kali gw bilang. Mangkanya dengerin dulu penjelasan gw"


"udah ya, gw nggak mood dengerin semua celotehan lo, gw pulang" Aleta berlalu pergi meninggalkan Riki di samping motornya.


"aah sial!! andai lo tahu kejadian yang sebenernya" ucapnya gusar.


Hai hai hai


Gimana nih gaiss xixixi..


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa


Like Komen dan Vote juga yaah


Mohon maaf kalau ada typo

__ADS_1


Terimakasih


Happy reading


__ADS_2