
Makan Siang
"Biar aku ambilkan. Kakak mau makan pake lauk apa?" tanya Raven saat Aleta akan meraih nasi di hadapannya.
"Tu-tumis Kangkung." jawabnya sedikit terbata.
"Baiklah. Nih! Terus sama apa lagi? Biar aku yang bantu ambilkan."
"Udah, ini aja."
"Bisa makan sendiri, nggak?"
"Bisa kok, tenang aja kan masih ada tangan kiri."
"Nggak boleh makan pakai tangan kiri. Aku suapin, ya?"
"Eh, nggak usah! Nggak apa-apa, serius!"
"Baiklah."
"Kalau kalian akur gini sih, mama bisa jauh lebih tenang" ucap Zanna yang sedaritadi memperhatikan kedua anaknya itu.
"Kami memang selalu akur, ma" ucap Raven yang sedikit membuat Aleta mengernyit heran, tapi yasudahlah.
"Baguslah. Dan selamanya harus seperti itu."
"Hmm." gumam mereka bersamaan.
"Kakaakk..."
Suara anak kecil melengking dari arah samping mereka.
"Adek?! Kakak kangen banget sama kamu." anak kecil itu langsung masuk ke pelukan sang kakak.
"Vania juga kangen banget sama kakak! Kak Al? Kakakk..." setelah melepas pelukan kakaknya, ia melihat kakak yang satunya. Lalu ia beralih ke dalam pelukan Aleta.
"Iya sayang? Kamu udah bangun?" Vania mengangguk cepat.
"Mama-mama, kak Al ikut ke lumah Vania. Vania sangat senang." adunya kepada sang ibu.
"Iya, nak." Zanna mengangguk bangga.
"Vania mau makan, nggak?" tanya Aleta dan anak kecil itu menggeleng.
"Vania masih kenyang."
"Vania sayang, sini yuk ikut mama. Biar kakak sama Kak Aleta makan dulu." ucap Zanna dan Vania langsung berlari kecil ke arah sang ibu.
"Baik, mama.."
"Kalian lanjutkan makan kalian, mama tinggal dulu ya." pamit Zanna setelah beranjak dan menggendong Vania.
"Iya, mama." jawab keduanya bersamaan.
"Ayo sayang kita kesana ambil es krim." ajaknya kepada si buah hati.
"Es kim? Kakak ya yang belikan Vania es kim? Lasa apa, ma? Aku mau yang lasa pisang." girang anak kecil itu.
"Kita lihat dulu di kulkas, yuk?" Vania mengangguk antusias, lalu ibunya membawanya pergi dari sana.
.
Mereka berdua makan dengan kidmat. Sesekali Raven melirik Aleta yang nampak kesusahan harus menyuap menggunakan tangan kiri. Namun, yang dibantu keukeuh menolak.
"Kakak sudah selesai? Berikan, biar aku yang mencucinya" tanyanya setelah beranjak sambil mengangkat piring miliknya.
"Nggak. Gue aja yang cuci." tolak Aleta.
"Mau nyuci dengan tangan kakak yang berbalut perban itu?" tunjuk Raven ke tangan kanan Aleta.
"Oiya, lupa. Hehee.." kekehnya.
"Yaudah sini."
"Sorry, gue jadi nyusahin lo." ucapnya seraya memberikan piringnya ke tangan Raven.
"Nggak masalah." setelah itu Raven membawa piring kotor itu untuk dibersihkan.
Kemudian Aleta mengikuti langkah Raven dari belakang.
"Rav.." panggilnya setibanya di samping Raven.
"Hm?"
Tepat saat Raven menoleh, Aleta berjinjit untuk mengelus puncuk kepalanya.
"Kenapa sekarang? Harusnya nanti saja selesai mencuci ini semua" ucapnya yang merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk Aleta memberikan ketenangan untuknya.
"Gue penginnya sekarang" gumam Aleta setelah menurunkan tangannya dari kepala Raven.
"Tapi nanti lagi, ya?" pintanya seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim lagi, padahal baru beli.
"Nggak janji." setelah mengatakan itu, Aleta berlalu pergi.
"Kak?!!" pekiknya melihat kepergian Aleta.
"Gue samperin Vania sama Mama!" teriak Aleta yang tubuhnya hampir menghilang dari pandangan Raven.
"Aku suka setiap hal kecil yang kakak berikan untukku. Dan aku ingin selamanya seperti ini." Raven bergumam sambil menampilkan senyum termanisnya.
Lalu ia melanjutkan membersihkan piring miliknya dan Aleta.
SKIP
"Ya ampun, sampai belepotan gitu mukanya..." gemas Aleta sambil menyeka sisa es krim yang berada di kedua pipi gembul anak kecil itu menggunakan tissue.
"Es kim nya enak! Lasa pisang!" seru anak itu sambil terus melahap es krim nya.
__ADS_1
"Enak? Nanti kakak belikan lagi yang banyaakk biar Vania senang." ucap Aleta dan membuat mata Vania berbinar.
"Yeaayy!! Makasih kakak!" girang Vania sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Gimana tangan kamu, Al?" Zanna bertanya dan Aleta menatapnya.
"Sudah lebih baik. Maafin Aleta ya, ma. Aleta sudah merusak barang mama." wajahnya berubah murung saat mengatakan itu.
"Tidak apa-apa, lagipula vas itu sudah pecah dan ingin mama buang cuman masih sayang." Zanna menggenggam jemari Aleta supaya Aleta tak melulu merasa bersalah.
"Dan Aleta malah merusaknya" lirihnya lagi seraya membalas genggaman Zanna di tangannya.
"No problem! Kalau untuk kamu, mama nggak mempermasalahkan." ucap Zanna meyakinkan.
Aleta mengangguk pelan, "Heem."
.
Selesai makan siang, kini waktunya Raven mengajari Aleta membuat kue. Ditemani Zanna dan Vania di sana. Namun, Zanna duduk dan melihat dari kejauhan saja. Hanya Vania yang bersama mereka berdua, dan sesekali gadis kecil itu berlarian menghampiri mamanya.
"Jadi, lo mau ajarin gue bikin kue apa?" tanya Aleta kepada Raven yang sedang mengambil sesuatu dari dalam lemari.
"Eum.. Kak Aleta pengin bikin apa?" Raven bertanya balik setelah meletakkan loyang di hadapannya.
"Emang lo bisa?" tanya Aleta memastikan.
"Bisa dong! Nanti minta tolong sama mama, hehehee.." kekehnya sambil melirik mamanya.
"Sama saja itu mah." timpal Aleta.
"Kalian mau bikin kue apa?" Tanya Zanna dari kejauhan.
"Belum tahu nih, ma. Masih bingung" jawab Aleta.
"Bikin yang paling mudah saja, nanti kalau masih belum bisa biar mama bantu" ucapnya mencoba memberi saran.
"Siap mama!" seru Raven.
"Kue yang bikinnya paling mudah itu apa?" Aleta bertanya kepada Raven.
Raven nampak berfikir kemudian menjentikkan jarinya tanda telah menemukan ide. "Aku tahu!
"Apa?" tanya Aleta cengo.
"Kita bikin Bolu Kukus saja. Itu yang paling mudah menurut aku" kata Raven.
"Bolu Kukus? Sepertinya menarik, oke!" Aleta setuju.
"Tapi Kak Aleta diam saja tidak usah membantu. Biar aku saja" ucap Raven saat sedang mencari telur berada.
"Kenapa? Katanya mau ajarin gue bikin kue?" wajah Aleta berubah cemberut saat Raven tidak memperbolehkannya membantu.
"Tangan kakak kan sakit, aku nggak mau kalau kakak ikut bantu" ucapnya lagi seraya memecahkan satu-persatu telur itu ke loyang.
"Udah nggak apa-apa tangan gue, udah sembuh. Gue mau bantu!" rengeknya. Namun tetap ditolak oleh cowok itu.
"Pokoknya gue mau bantu bikin!" tekan Aleta geram.
"Nggak boleh Kak Al.. Nanti tangannya tambah sakit" ucap Raven dengan nada sepelan dan selembut mungkin.
"Hey, luka gue cuman di satu tangan. Jadi gue bisa pakai tangan yang satunya, RAVEN!!" bantah Aleta penuh penekanan.
"Tetap saja nggak boleh."
"Kakak! Kakak!" panggil Vania kepada sang kakak sambil menarik-narik ujung baju milik kakaknya.
"Hm? Kenapa, Dek?" tanyanya setelah menunduk menatap adiknya.
"Lihat, Kak Al cemberut." tunjuk Vania ke arah Aleta yang memperlihatkan bibirnya sudah monyong hampir 5cm.
"Cemberut?" gumam Raven lalu melirik cewek di sampingnya.
"Kakak kenapa?" Raven bertanya dengan kepolosannya.
"Nggak apa-apa." jawab Aleta ketus.
"Nggak apa-apa kok, Dek. Kak Aleta nggak cemberut" jelasnya kepada si adik.
"Nggak peka banget jadi orang!" decak Aleta nyaris berbisik.
"Kak Aleta bilang apa tadi?" tanya Raven memastikan yang baru saja ia dengar karena kurang jelas masuk ke telinganya.
"Bukan apa-apa. Gue mau ikut mama, lo bikin aja tuh KUE sendiri." ucapnya dengan menekankan pada pengucapan 'KUE'.
"Loh? Katanya tadi suruh ngajarin?" tanya Raven bingung.
"Nggak jadi!" ketusnya, lalu ia berlalu pergi meninggalkan Raven.
"Gimana sih kakak, jadi kesel tuh Kak Aleta. Vania juga mau sampelin Kak Al." decak anak kecil itu yang tiba-tiba ikut kesal seperti Aleta.
"Loh? Kok aku ditinggalin sih? Jadi bikin kue apa nggak?" pekiknya.
"ENGGAK!" jawab keduanya bersamaan.
"Yaahh.. Telurnya udah dipecah semuanya." dengusnya sambil menatap kedua telurnya di dalam loyang.
Untung baru dua yang dipecah.
"Goreng aja udah!" Zanna mencoba memberi saran untuk putranya.
"Digoreng? Baiklah" jawabnya mengiyakan.
"Tuhkan dia nggak peka." gerutu Aleta setelah mendudukkan bokongnya di sofa samping Zanna.
"Kenapa sih Al? Jangan ditekuk gitu mukanya" tegur Zanna yang melihat ekspresi tak bersahabat milik Aleta.
"Itu ma, Raven ngeselin. Masa Al mau bantuin bikin kue malah nggak dibolehin. Cuman gara-gara tangan Al terluka. Padahal lukanya nggak serius banget!" cerocosnya sambil menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Iya nih, kakak nakal!" timpal Vania sambil menyilangkan kedua lengannya di dada.
"Nggak boleh ngomong gitu. Raven melarang kamu itu karena dia peduli sama kamu, Al. Bukannya dia nggak ngebolehin, tapi dia ingin menjaga kamu" Zanna mencoba memberi pengertian kepada remaja SMA itu.
"Yaa tapi kan Al mau bantu bikin kue, mama..." rengeknya lagi.
"Sudah, sudah. Nanti mama ajarin kamu kalau jari kamu sudah sembuh." ucapan Zanna mampu merubah ekspresi Aleta seketika menjadi berbinar.
"Beneran ya ma?"
"Iya" Zanna mengangguk mengiyakan.
"Yaayy!! Makasih mama!" girangnya yang sudah berada di dalam pelukan wanita itu.
"Sama-sama, sayang." Zanna membalas pelukan itu tak kalah erat.
SKIP
Tak terasa hari sudah sore dan Raven sudah siap akan mengantar Aleta pulang. Setelah tadi telurnya jadi, Raven segera memberikannya kepada ketiga wanita di rumah itu. Aleta sudah tidak kesal lagi dengan Raven, karena nanti Zanna akan mengajarinya membuat kue.
Kini mereka berdua akan kembali ke kediaman Evano.
"Kalian berdua hati-hati. Besok ke sini lagi ya sayang" ucap Zanna kepada kedua anaknya.
Aleta mengangguk patuh. "Iya mama. Pasti."
"Yaudah, kami pamit dulu ya. Mama sama adek jaga diri baik-baik selama Raven nggak di rumah." pamit Raven seraya mencium punggung tangan mamanya. Disusul Aleta setelahnya.
"Iya sayang, mama sama adek akan baik-baik saja." Zanna membalas mengusap punggung putranya.
"Assalamu'alaikum.." mereka berdua pamit.
"Waalaikumsallam.. Hati-hati!"
.
Di perjalanan.
"Kak/Rav.." panggil mereka bersamaan.
"Lo dulu!" lempar Aleta.
"Aku mau tanya sesuatu, boleh?" Raven bertanya dengan hati-hati.
"Soal apa?"
"Soal... Yang tadi siang, di minimarket. Pas aku keluar, kakak bersama seseorang."
Aleta mengernyit tak mengerti. "Terus? Apa yang mau lo tanyain?"
"Oh? Itu.. Dia..." Raven menggantung ucapannya.
"Dia mantan gue" jawab Aleta santai.
Tiba-tiba Raven mengerem motornya secara mendadak. Membuat Aleta hampir terjatuh, untung ia berpegangan erat di perut cowok itu.
Ciiittt!!
"Lo bisa bawa motor nggak sih? Hampir aja gue jatuh!" sentaknya sambil memukul punggung Raven.
"Ma-maaf kak, aku tidak sengaja. Apa Kak Aleta tidak apa-apa?" tanyanya sambil menoleh ke belakang tanpa memperdulikan punggungnya yang sedikit nyeri akibat dipukul Aleta.
"Hm.."
"Maaf.." ucapnya lirih.
"Kenapa nge-rem mendadak?" Aleta bertanya dan Raven menggeleng pelan.
"Yaudah, jalanin motornya." titahnya dengan nada pelan, ia tak ingin membuat hati orang itu sakit dengan bentakannya.
"I-iya" kemudian Raven kembali menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.
Hening.
"Oiya, tadi gue mau bilang kalau besok sabtu gue mau pergi" ucap Aleta tiba-tiba.
"Ke mana? Dengan siapa?" tanya Raven sedikit kepo.
"Lo nggak perlu tahu." jawab Aleta singkat dan itu membuat Raven bertanya-tanya.
"Baiklah."
"Tapi, gue mau lo sama gue berangkat dari rumah barengan. Biar mama sama papa nggak curiga. Nanti lo pergi kemana gitu terserah lo, besok gue bakalan dijemput. Atau lo bisa main ke rumah Arga." Aleta memberi penjelasan.
Raven mengernyit dari balik kaca helm nya. "Kenapa harus kegitu?"
"Harus dong! Kan kalau gue keluar malam sama lo bakal dibolehin sama mama, kalau sendiri nggak mungkin dibolehin." ujar Aleta.
"Lalu aku pergi ke mana?" Raven bertanya.
"Yaa terserah lo. Ke rumah Arga juga bisa" jawab Aleta dan Raven mengangguk sedikit ragu.
"Baiklah."
"Oke! Nanti gue kasih tahu kalau mau berangkat." sambungnya.
"I-iya"
Ternyata ajakan Riki tadi diterima oleh Aleta. Tentu saja karena bujuk rayuan dari playboy itu. Yang dengan mudah Aleta percaya. Bukan playboy namanya jika tak pandai merayu.
.
.
.
Jangan lupa Like manteman🙏😊
__ADS_1
.