
Perjalanan pulang.
Di dalam mobil.
Aleta dan Raven duduk di belakang, sedangkan Mala duduk di kursi depan samping Safar yang menyetir.
"Semalam kalian pergi kemana?" tanya Mala tiba-tiba.
"Kami.." Aleta menggantung ucapannya sambil berfikir.
"Kenapa nggak pamit sama Mama dan Papa kalau mau pergi? Dan kenapa nggak diantar sama Safar? Kata Safar, semalam kalian pergi honeymoon. Tapi, kalian nggak bawa koper dan masa honeymoon di penginapan? Kayanya nggak mungkin, kalian kemana sampai nggak ngabarin kami semalaman?" cerocos Mala tiada henti.
"Kami nggak kemana-mana kok, Ma. Hanya saja.. Eum.. (gue harus bilang apa sama Mama, nggak mungkin kalau gue bilang yang sejujurnya. Bisa heboh nanti satu rumah kalau tahu semalam gue nolongin Raven dari Riki. Mana Riki bikin Raven minum sampai mabuk).. "
"Rave-.. Eh? Raven tidur ternyata. Kayanya dia capek banget, habis ngapain emang kalian semalam?" saat Mala menoleh ingin bertanya kepada menantunya, ternyata menantunya tertidur dengan pulasnya di pundak Aleta.
"Kami nggak ngapa-ngapain, semalam itu Al pengin jalan-jalan aja dan Raven pengin ikut, jadinya kami pergi berdua. Al nggak pamit karena kalian sudah tidur, dan Al nggak mau ganggu istirahat kalian." jelas Aleta dengan perasaan was-was. Sambil menahan gatal di hidungnya yang terasa luar biasa.
Mala memperhatikan hidung putrinya itu yang ia sudah tahu kalau Aleta berkata bohong akan menggarung hidung. Dan ternyata Aleta berhasil menahan rasa gatal itu, membuat Mala percaya bahwa putrinya berkata jujur.
"Sama sekali tidak sayang.. Seharusnya kalian bilang saja sama Mama, pasti Mama izinkan kok. Bahkan Safar saja yang tiap malam berjaga tidak tahu kalain pergi kemana. Dia malah bilang kalau kalian pergi honeymoon" ucap Mala apa adanya.
"Pak Safar ih, ngawur banget. Masa dibilang kami honeymoon padahal semalam Al mau no.." omelnya kepada supir itu dan membuatnya hampir mengatakan yang sejujurnya.
Hampir. Hampir saja... Keceplosan.
"Kamu mau 'no' apa, Al? Katanya mau jalan-jalan." Mala bertanya sambil menautkan kedua alisnya.
"Anu.. Itu.. Maksudnya Al itu, no.. Nobar, iya. Semalam kami ke bioskop buat nonton film. Iya." terpaksa Aleta harus berbohong lagi dan harus merasakan gatal di hidungnya itu. Tapi, ia harus tetap menahan rasa gatal itu.
"Oohh.. Jadi Raven kecapekan gara-gara semalam kamu ajak ke bioskop? Tapi, kenapa kalian nggak nginep di hotel atau apartemen aja yang fasilitasnya lebih baik. Kenapa malah kembali ke penginapan kecil itu? Bukannya bioskop dengan penginapan di sana jaraknya lumayan jauh, ya?" kata Mala yang masih merasa ada yang aneh dengan keduanya.
"Mama ini kepo deh, terserah kami dong mau nginep di mana aja. Mama nih banyak nanya udah kaya wartawan aja" sembur Aleta sedikit sewot.
"Bukannya Mama kepo. Tapi, Mama itu khawatir sama kalian berdua." ucap Mala.
"Sekarang kan kami udah sama Mama, jadi Mama ngak perlu khawatir-khawatir lagi, oke?" ucapnya dengan yakin agar wanita itu tidak bertanya banyak hal lagi padanya.
"Baik. Mama nggak akan bertanya lagi, asalkan besok-besok kalau mau pergi harus bilang sama orangtua. Supaya orangtua itu nggak khawatir, kamu mengerti?" ucapnya dan diangguki oleh Aleta.
"iya Mama, Aleta akan bilang kalau mau pergi lagi."
__ADS_1
"Yaudah. Kamu jagain Raven, takutnya nanti dia jatuh. Kalian pulang jam berapa sih dari bioskop sampai Raven kecapekan gitu?" diakhiri bergumam dan itu bisa didengar oleh Aleta.
"Tuhkan Mama nanya lagi.." Aleta merengek karena merasa Mamanya masih banyak tanya. Sambil menahan tubuh cowok itu yang hampir terjatuh.
"Iya deh iyaa.. Mama akan diam. Tapi..." Mala mengangguk pasrah dan menggantung ucapannya.
"Apa lagi, Mamaa??.." tanya Aleta dengan nada tabah.
"Semalam kalian..." dan Mala sengaja menggantung ucapannya lagi.
"Mama udah deh ish! Al nggak mau pegangin Raven nih kalau Mama masih nanya-nanya!" ancamnya kepada sang Ibu.
"Lepas aja, lagian kalau jatuh juga palingan dia nggak bisa marah" ucap Mala sambil terkekeh pelan setelah kembali menatap ke jalan depannya.
"Benar juga. Dia emang nggak pernah marah sama gue." batinnya sambil melirik cowok yang masih tertidur di sandarannya.
"Memangnya kamu nggak kasihan kalau nanti Raven jatuh?" tanya Mala.
"Kasihan sih enggak ya, cuman Al nggak mau aja lihat dia kesakitan" elaknya.
"Itu namanya kasihan, sayangku cintaku Aleta.." geram Mala pada putrinya itu.
"Kamu ini."
SKIP
Seorang cewek sedang berdiri di depan kaca panjang yang berada di kamarnya. Berhadapan dengan pantulan dirinya sendiri sambil berlatih sesuatu.
"Raven, gue suka sama lo dari awal kita ketemu. Lo mau nggak jadi pacar gue?" (latihan pertama)
"Raven, gue suka sama lo. Mau nggak jadi pacar gue?" (latihan kedua)
"Gue suka sama lo, jadi pacar gue ya?" (latihan ketiga)
"Rav, lo mau nggak jadian sama gue?" (latihan keempat)
"Ishh! Gimana sih cara ngungkapin perasaan?! Udah latihan daritadi nggak nemu yang pas buat nembak Raven!" gerutunya kesal saat sedaritadi tak bisa merangkai kata-katanya untuk mengungkapkan perasaannya kepada seseorang.
"Kira-kira Raven bakalan nerima cinta gue nggak ya?" tanyanya entah kepada siapa sambil membayangkan sesuatu.
.
__ADS_1
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" ucap seorang cewek kepada seorang cowok di taman.
Cowok itu mengernyit bingung, kemudian bertanya, "Maksud kamu, Bell?"
"Gue suka sama lo udah dari lama, dan sekarang gue baru bisa nyatain perasaan gue" ucap cewek itu lagi.
"Kenapa baru sekarang?" tanya cowok itu dan membuat si cewek terkejut dengan perkataan cowok itu.
"Hah?"
"Aku juga suka sama kamu dari awal kita ketemu, cuman aku belum berani nyatainnya ke kamu." kata cowok tersebut.
"Jadi, sekarang kita.. Jadian?" tanya si cewek memastikan, dan diangguki oleh si cowok.
"Heem."
"Akhirnya gue jadian juga sama Raven. Dan kakel itu nggak akan bisa deket-deket lagi sama Raven." cewek itu mambatin dengan perasaan bahagia karena pernyataan cintanya diterima.
Tetapi, sayangnya semua itu hanya mimpi belaka. Nggak ada salahnya sih cewek itu percaya diri untuk tetap mengutarakan perasaannya, walaupun endingnya bakalan ditolak, namun ia tidak mau menyerah.
.
.
.
Gimana guyss, apa ada yang mau dikata-katain??
Kalau alurnya terlalu bertele-tele dan nggak langsung to the point, memang, aku sengaja bikin kegini, karena aku nggak mau cepet-cepet pisah sama novel ini hiks..
Pengin sebenarnya, cuman masih belum rela aja kalau diakhiri. Kaya sesayang itu nggak sih sama novel ini walaupun viewers nya dikit.
Asal kalian tahu, dukungan dari kalian itu sangat-sangat berarti besar buat aku. Dapet notif dari kalian, entah itu notif like atau komen dari kalian udah bisa naikin mood aku tahu nggak?
Jadi, jangan jadi pembaca ghoib ya.. Sekiranya kalau nggak komen, kalian bisa like, supaya aku tuh tahu kalau novel aku ada yang baca.
Kalian bisa rekomendasikan novel ini kepada teman-teman kalian, biar bisa baca sama-sama..
Jangan lupa Like!
.
__ADS_1