![Aku[Bukan] Pelakor](https://asset.asean.biz.id/aku-bukan--pelakor.webp)
Rendi mempercepat langkahnya saat memasuki ruangan pribadi itu nampak Tania tengah menangis pilu meratapi nasibnya.
Dengan segera Rendi menarik Tania masuk kedalam pelukan nya dan mendekap erat tubuh yang nampak bergetar karena tangisnya
"Sudahlah jangan menangis,kita akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita lakukan"ucap Rendi mencoba memberi ketenangan kepada wanita muda yang akan menjadi Ibu dari anaknya itu.
"Ta_tapi aku takut Pak"jawab Tania disela isak tangisnya
"Takut kenapa,hhmm?tenang saja ada aku disini.Kita akan berjuang bersama membesarkan anak ini dengan kasih sayang,Ok"
"Tapi apa itu mungkin?kitakan tidak memiliki hubungan apapun dan tidak memiliki perasaan apapun jadi bagaimana bisa kita membesarkan nya penuh dengan kasih sayang?"jawab Tania lagi semakin terisak membayangkan bagaimana jika dia tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk janin itu.
Mengurus dirinya sendiri pun dia masih butuh bantuan sang Ibu,lalu harus bagaimana nanti saat dirinya harus mengurus seorang bayi mungil yang untuk menyentuhnya saja Tania sudah takut setengah mati.
"Itu kamu terhadapku dan tidak untuk aku terhadapmu"ucapan Rendi sontak membuat tangis Tania berhenti.
__ADS_1
Tania mendongakkan kepalanya agar bisa mendengar kembali apa yang dikatakan oleh Rendi barusan
"Ma_maksud Bapak apa?"tanya Tania yang masih belum bisa mencerna ucapan Rendi saat ini.
"Iya,yang tidak memiliki perasaan itu kamu terhadapku bukan aku terhadapmu Tania Sabiani Putri"tangan Rendi terulur membenahi helai helai rambut yang menghalangi wajah cantik Tania yang basah oleh air mata.
"Kamu tahu kenapa aku selalu menghalangi kamu untuk bergabung dalam kegiatan karyawan lain,hhmm?itu karena aku tidak suka kamu tertawa untuk pria lain bahkan pergi bersama mereka.Aku benci itu.Aku,kamu hanya boleh melihatku,hanya aku dan cuma aku"Rendi mengecup kening Tania dalam dan lama setelah mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini untuk sahabat adiknya itu.
Tania kembali menangis namun kali ini merupakan tangis bahagia karena pria yang sudah merenggut kesucian nya bahkan sudah membuatnya mengandung itu ternyata memiliki perasaan untuknya.
Tania membalas pelukan Rendi dan menyembunyikan wajah sembabnya didada bidang sang calon suami,alhasil kemeja Rendi pun menjadi basah oleh air mata dan ingus Tania yang terus saja menangis.
*
*
__ADS_1
Tania semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Rendi begitu menapaki halaman kedai Bu Ratna.
Dari kejauhan sudaj nampak wanita paruh baya tengah sibuk melayani pelanggan yang datang untuk mengisi perutnya.Karena sudah jamnya makan siang maka kedai itu nampak ramai pembeli.
Bu Ratna mengerutkan dahinya saat melihat putra semata wayangnya datang bersama seorang gadis yang tentu sudah cukup Bu Ratna kenali karena dulu saat masih ada Aina gadis itu selalu datang untuk bermain bahkan menginap untuk mengerjakan tugas kampus bersama.
Namun yang membuat Bu Ratna heran adalah adanya interaksi yang cukup mesra di antara keduanya.Padahal setahu Bu Ratna kedua orang itu tidak saling dekat hanya saling kenal tanpa bertegur sapa.
Dan berbeda dengan hari ini yang begitu nampak bagaikan sepasang kekasih.Terlihat dari genggaman tangan di antara kedunya yang nampak tidak terlepas meski sebentar.
"Assalamualaikum,Ibu"ucap keduanya memberi salam secara bersamaan lalu menyalim tangan Bu Ratna dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam,Nak Tania apa kabar"jawab Bu Ratna tersenyum menyambut tamunya walaupun masih dengan kebingungan nya.
"Alhamdulillah baik Bu"
__ADS_1
"Kita masuk Bu,ada yang ingin kami bicarakan".