Aku[Bukan] Pelakor

Aku[Bukan] Pelakor
Sisi Rapuh Bima


__ADS_3

bima pun mulai menaiki anak tangga menuju kamar sang mamah untuk menanyakan prihal apa yang telah dia lihat tadi di apartemen nya


tok tok tok....


"masuk"


seru mamah risma dari dalam kamarnya dan perlahan pintu kamar itu pun terbuka yang menampilkan bima yang masuk serta membawa paket yang tadi dia terima


"loh bim kok balik lagi?ada apa,apa terjadi sesuatu?"tanya mamah risma berlaku seakan tidak tahu apa yang terjadi pada anak bungsunya


"apa mamah tahu tentang semua ini?"tanya bima sendu sembari menyerahkan kotak yang dia bawa


"memang nya apa itu?"


"mamah buka saja sendiri dan lihat"


mamah risma menghela nafas sebelum membuka kotak yanh diberikan oleh bima dan setelah melihat isi nya yang kini telah berantakan san tidak terbungkus amplop lagi mamah risma pun mengangguk pelan


"sejak kapan mah?sejak kapan mamah tahu?"tanyq bima mulai berapi api karena sang mamah tidak memberi tahu tentang kebenaran yang alena sembunyikan dari nya


"setahun yang lalu"jawab mamah risma tanpa mengalihkan pandangan nya

__ADS_1


"se_setahun yang lalu?apa papah____"ucapan bima tercekat dada nya terasa sesak saat mengingat sang ayah


dan lagi lgi mamah risma hanya mampu mengangguk lemah.Bima ambruk tak sanggup lagi menahan sesak dan tangisnya pun pecah saat mendapati fakta tentang apa yang terjadi dibelakang nya


melihat sang anak yang terpuruk mamah risma pun tak mampu lagi menahan ego nya.Semarah dan sebenci apapun seorang ibu pada anak tetap saja tidak bisa membuatnya mengabaikan anak nya walaupun anak itu sudah membuatnya kecewa yang teramat dalam


mamah risma bangkit dari duduknya dan berhambur memeluk sang anak yang tengah menangis tersedu,dibelai sayang punggung sang anak yang bergetar akibat tangis nya


"inilah alasan papah bersikeras menikahkan kamu dengan ayana sayang,karena papah tahu kalau alena bukan wanita yang tepat untuk kamu sayang"


mendengar mamah risma menyebut nama ayana bima semakin mengeratkan pelukan nya pasa sang mamah


sakit dan sesak begitu menyelimutinya saat ini saking sesaknya bima bahkan sudah tidak bisa berkata kata lagi yang mampu dia lakukan hanya menangis melepas semua sesak didada nya.


***


"istirahatlah,besok kita pikirkan jalan keluarnya"bima pun menurut dan tanpa berkata bima meninggalkan kamar mamah risma dan menuju kekamar pribadinya


bima membaringkan tubuh lelah nya dikasur yang dulu dia tempati dengan ayana,bima memiringkan tubuh nya ke arah sisi ranjang yang selalu ayana tempati


bima mengusap sisi ranjang yang terasa dingin sedingin hatinya kini

__ADS_1


"inikah balasan yang tuhan berikan karena selalu mengabaikan cintamu yan?sungguh maafkan aku yan,pulanglah yanaku aku merindukanmu"gumam bima saat meraba sisi kasur yang selalu ayana tempati


cairan bening yang sudah berhenti keluar pun kini menerobos keluar lagi dari sarang nya dan membasahi bantal yang bima gunakan untuk menopang kepalanya


karena terlalu lelah menangis terus terusan bima pun terlelap dengan sendirinya masuk kedalam alam mimpi yang membuat hatinya terasa damai untuk sesaat.


pagi hari nya bima masih belum keluar dari kamar nya dan mamah risma pun hanya sarapan bersama si sulung andri


"bima nginap lagi disini mah?"tanya andri yang semalam pulang cukup larut mendapati mobil sang adik digarasi rumah itu


"dia sudah tahu semua nya kak dan mungkin sekarang dia masih butuh waktu untuk merenungi apa yang akan dia lakukan kedepan nya"


"aku bisa bayangin sih sakitnya kaya apa secara dia sayang banget sama wanita itu dan membuat dia buta akan fakta yang sebenarnya"


"jadi kakak juga tahu semua nya?"


tiba tiba percakapan antara andri dan mamah risma terhenti saat suara bariton bima memotong percakapan itu


mamah risma dan andri pun menoleh ka arah suara dan benar saja bima telah berdiri tidak jauh dari meja makan yang digunakan oleh mamah risma dan andri untuk sarapan.


.

__ADS_1


*****


***


__ADS_2