Aku[Bukan] Pelakor

Aku[Bukan] Pelakor
Boncap.33


__ADS_3

"Ayo kak sini,kita makan bersama"ujar Tania dengan cueknya dan tanpa rasa bersalah menyuapkan makanan yang khusus dibuat Sania untuk Rendi namun kini sudah masuk kedalam mulut adiknya itu.


"Mas juga makan ya biar aku suapin"lanjutnya lagi memperlihatkan kemesraannya dengan sang suami.


Rendi pun dengan senang hati menerima setiap suapan yang diberikan oleh Tania dan hal itu membuat mata dan juga hati Sania memanas.


"Kalau begitu kalian lanjutkan saja makan nya.Aku pulang dulu"tanpa mendengar jawaban dari Tania dan juga Rendi Sania pun pergi meninggalkan kedua pasutri yang tengah menikmati santapan siang yang Sania bawa tadi dengan membawa rasa kesal didada.


Sepeninggalan Sania,Tania dan juga Rendi mengehentikan acara makan siang itu,sungguh Tania merasa tidak punya dihadapan suaminya karena ulah sang kakak.


Dengan mata yang sudah basah Tania berhambur masuk kedalam pelukan Rendi dan menangis sesegukan didalam dekapan Rendi.


"Sudah jangan menangis,semoga dengan ini Sania bisa menyadari kesalahan nya"ujar Rendi membelai surai hitam Tania yang terurai begitu saja tanpa mengikat.


"Tapi aku merasa malu Mas,aku malu"jawab Tania disela isak tangisnya.


"Sudahlah jangan di ambil pusing,ayo lebih baik kita pulang saja"Rendi pun mengurai pelukan nya dan sedikit memberi jarak,mengusap air mata yang membasahi wajah cantik istrinya lalu memberi kecupan dimata yang masih basah itu.

__ADS_1


"Memang Mas sudah boleh pulang?inikan masih jam kantor?"


"Kamu lupa siapa suami mu ini,hhmm?atau perlu di ingatkan lagi kalau seorang Rendi Rahardiansyah suami dari Tania Sabiani Putri ini adalah seorang wakil direktur yang memiliki satengah kekuasaan disini?hhmm"jelas Rendi menyombongkan dirinya didepan sang istri yang sontak mendapat hadiah sebuah cubitan manja dari sang istri.


"Aduh,sakit sayang.Kok jadi galak sih?jangan bilang itu bawa baby?hhmm"ujar Rendi mendrama dengan pura pura meringis karena cubitan dipinggangnya barusan.


"Lebay ah,ayo pulang kalau begitu"Tania pun melepas pelukan nya dan berjalan mendahului Rendi keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Rendi yanh tersenyum gemes melihat wajah istrinya yang selalu merona jika digoda oleh nya.


*


*


Saat tiba tiba sepasang tangan memeluknya dari arah belakang.Rendi mengeraskan rahangnya,rasa marah dan juga kesal sudah tidak lagi bisa ditahan hingga kini naik ke ubun ubun demi mendapati siapa wanita yang sudah lancang memeluk tubuhnya bahkan begitu erat dengan kedua tangan yang saling mengunci diatas perut berotot nya.


Tidak bisa lagi bersabar dengan kelakuan wanita itu Rendi pun sekuat tenaga melepas pelukan nya lalu menghempaskan tubuh semampai Sania ke sembarang arah hingga tubuh Sania terpental dan tersungkur dilantai.


"Aawww sssttt"rintih Sania memegangi bokongnya yang terasa berdenyut karena berbenturan dengan lantai.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan hah?serendah itukah harga dirimu hingga melakukan berbagai cara untuk mendekatiku?"seru Rendi yang memekik ditelinga Sania dan hal itu menarik atensi orang orang dikantor itu.


Mereka pun reflek menghentikan kegiatan mereka masing masing dan fokus mendengarkan amukan sang atasan yang entah ditujukan pada siapa.


Semua karyawan yang mendengar seruan Rendi pun hanya bisa saling lirik dengan wajah yang kebingungan pasalnya ini pertama kalinya Rendi meninggikan suaranya.


Karena selama bekerja sama dengan seorang Rendi mereka tidak pernah melihat Rendi semarah itu.Semarah marahnya Rendi paling hanya akan menyuruh karyawan yang melakukan kesalahan itu untuk memperbaiki kesalahannya namun tidak pernah meninggika suaranya seperti saat ini.


"Tapi aku menyukai kamu Ren,aku bahkan rela jika kamu menjadikan aku yang kedua asalkan aku bisa bersamamu"jawab Sania dengan penuh percaya diri dan hal itu membuat Rendi semakin dibuat marah oleh ungkapan cinta dari seseorang yang menyandang status kakak ipar untuknya itu


"Kamu bilang apa tadi Sania?"


Deg...


Sania kembali dibuat kaget dengan suara seseorang,kini bukan lagi Rendi yang bertanya namun seseorang yang begitu memiliki kuasa akan hidupnya.


Dengan rasa ragu Sania memutar tubuhnya menoleh ka arah sumber suara demi memastikan siapa pemilik suara yang begitu mirip dengan sang ayah.

__ADS_1


"Pa_Papah".


__ADS_2