Aku[Bukan] Pelakor

Aku[Bukan] Pelakor
Boncap.29


__ADS_3

"Tanda terima kasih nya mana?"tanya Rendi sembari mempererat pelukan nya pada tubuh Tania.


"Tanda terima kasih apa?"


"Bukan nya tadi kamu bilang Terima kasih ya sama Mas?lalu tanda terima kasih nya mana?"


"I_itu aku be__mmppttt"belum juga Tania menyelesaikan ucapannya Re di sudah kembali menyatuka nafas mereka.


Tania yang awalnya hanya diam karena kaget akhirnya membalas serangan sang suami dan pergulatan antara lidah dan saling bertukar seliva pun terjadi diantara keduanya.


Hingga beberapa saat pangutan itu terpaksa Rendi lepaskan karena sang istri sudah nampak kesusahan bernafas akibat serangan nya.


"Mandilah,Mas akan buatkan susu hangat untukmu.Untuk ini kita lanjutkan nanti malam,untuk sekarang cukup sampai disini saja.Diluar masih banyak orang tidak enak dan kurang baik jika kita lanjutkan,nggak apa apakan?"ujar Rendi yang di angguki oleh Tania.


Walaupun sebenarnya keduanya nya mendamba hal yang lebih namun dengan kondisi saat ini sungguh tidaklah mungkin.

__ADS_1


Selain mereka masih dirumah sang Ibu disana juga masih nampak ramai oleh para sanak saudara yang masih betah menghabiskan waktu kumpul yang teramat sangat jarang itu.


Rendi pun segera keluar kamar dan menuju ke arah dapur untuk membuatkan sang istri susu hangat yang diperuntukan khusus untuk bumil.


Rendi tersekiap bahkan susu yang dipegang nya hampir tumpah saat mendapati seorang wanita yang berstatus kakak iparnya berdiri tepat dibelakangnya.


Dan saat berbalik otomatis Rendi hampir menumbruk tubuh wanita yang nampak berbeda dengan balutan gamis ditubuhnya itu.


"Astaghfirullahaladzim"ucap Rendi sembari memundurkan langkahnya memberi jarak dengan mangusap ngusap dadanya yang berdenyut karena kaget.


"Aku juga mau dong dibuatkan susu hangat,masa cuma Tania saja sih yang dibuatkan"jawabnya dengan sedikit memanjakan suaranya yang membuat alias Rendi menyatu.


"Itu susunya ada disana dan air panas nya ada disitu silahkan buat sendiri atau bisa minta bantuan Bi Asih atau Bi Marsih untuk membantumu"jawab Rendi sembari berlalu meninggalka Sania disana sendiri


Dan sengaja menunjuk kedua art yang sengaja dibawa oleh Ayana untuk membantu disana.Namun langkah Rendi terhenti saat dengan lancangnya Sania meraih tangan Rendi dan menghentikan langkah kaki adik iparnya itu.

__ADS_1


Merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Sania reflek Rendi pun menghempaskan tangan wanita yang entah berniat apa dengan apa yang baru saja dia lakukan dan hal itu sangatlah tidak pantas dan tidak Rendi sukai.


"Aawww ssttt,kok kasar sih?"bentak Sania saat Rendi mengehempaskan tangan nya dan tidak sengaja berbenturan dengan kursi meja makan.


"Maaf jika aku kasar,tapi untuk ini seharusnya aku juga tidak perlu meminta maaf atas kelancanganmu menyentuh pria beristri"jawab Rendi menekan rasa sabarnya pada wanita yang memang sudah memiliki gelagat aneh sepulang dirinya dari Surabaya bersama dengan kedua orang tuanya.


"Aku hanya mau minta tolong dibuatkan minuman,kenapa kamu marah"ujarnya tanpa tahu malu dan tanpq rasa bersalah.


"Minta tolonglah pada orang yang tepat dan seharusnya karena aku disini bukan pembantu yang bisa membantumu kapanpun kamu mau"tegas Rendi lagi yang mulai terpancing emosi oleh tingkah wanita aneh didepan nya ini.


"Tapi kamu bisa membuatkan minuman itu untuk Tania tapi kenapa tidak bisa buatkan untukku?"ucap Sania lagi berenggut yang membuat Rendi tercengang tak percaya.


Sepercaya diri itukah wanita itu hingga membuatnya percaya diri dengan apa yang dia lakukan yang terbilang memalukan atau lebih tepatnya tidak tahu malu.


"Hey nona kamu lupa kalau Tania itu istriku?RATU dalam hidupku,jadi wajar kalau aku melakukan ini untuknya.Sedangkan kamu,memang kamu siapa?".

__ADS_1


__ADS_2