
'*Jika kamu berkomitmen dengan ku, maka jadilah semangat ku setiap hari. jadilah semangat ku untuk wujudkan mimpi, bukan justru jadi penghilang mood di hati.
Sebab, jika kamu sudah ku percayai, itu artinya aku butuh dirimu untuk menjadi tempat berbagi. bukan datang lalu seenaknya pergi*.'
By: Nurisha_mp
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Happy reading...
"Jadi, mereka tinggal dirumah pak Alif?" Tanya Rey.
"Iya, coba tanya saja sama pak Alif. Siapa tau dapat informasi lebih dari sana.
" Loe aja ya yang tanya gue males," papar Rey.
"Gengsi noh, gedein. Gimana mau dapat tuh cewek, kalau loe gengsian." Dicky sambil berdiri dari duduknya.
Sejenak Rey berfikir, jika dia bertanya kepada pak Alif, apakah tidak akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru? Sedangkan yang pak Alif ketahui, Rey sudah beristrikan Ria.
*
*
*
Hangatnya sinar mentari pagi membuat laki-laki yang tidak muda lagi ini, bersemangat menjalani hari. Sejak subuh tadi dia sudah meninggalkan tempat tidurnya.
Rutinitas pagi yang selalu dia lakukan sebelum berangkat kerja, membangun kedua anaknya. Walaupun hanya lewat panggilan telpon, itu selalu dia lakukan setiap hari.
"Halo, jagoan sama princes ayah! Sudah pada sarapan, apa belum nih?" Tanya Rey pada kedua anaknya.
"Belum, Pa! Masih ganti baju, nih!" Sahut Hafiz.
"Pa... Kapan papa pulang? Qila kangen papa!" Ucap Qila dengan manja.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti kalau sudah libur sekolah ajak Oma main ke tempat papa, yah!" Tegas Rey pada Qila.
"Hore... hore... hore... "Teriak keduanya kegirangan.
" Sudah, Papa tutup ya nanti telpon lagi, sekarang mau kerja dulu. Kalian rajin belajar, nurut sama Oma, nggak boleh bandel," Pesan Rey pada keduanya.
"Siap, Pa!" Ucap keduanya kompak, sebelum akhirnya panggilan itu berakhir.
Tepat jam tujuh pagi, Dicky telah sampai di rumah Reyhan. Melihat Rey sudah di teras rumah itu sudah membuatnya senang, karena dia tidak usah berlama-lama menunggu Si Reyhan.
"Tumben loe, masih pagi uda siap, biasanya juga paling lelet kayak siput," ledek si Dicky.
"Mau ke rumah pak Alif, ngapel!" Rey sambil membenarkan sepatunya.
"Berani nggak, Loe!"
"Mau gue timpuk pakai sepatu, Loe!" Sahut Rey.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, perdebatan-perdebatan kecil masih terus berlangsung diantara mereka. Rey yang tidak mau kalah, selalu saja menindas Dicky.
"Ntah! Loe ada ide nggak?" Tanya Rey balik.
"Nggak!" Jawab Dicky spontan.
Sesampainya dirumah pak Alif, Rey segera mengetuk pintu dan berharap Hana yang menbukanya.
"Semoga tuh cewek yang buka pintu, dia sudah janji mau ngasih nomor ponselnya jika bertemu lagi." Do'a Rey dalam hati.
Beberapa kali Faisal mengucapkan salam, namun tak ada jawaban dari dalam, hingga ucapan yang terakhir, barulah sangat pemilik rumah datang.
"Waalaikumsalam." Jawab pak Alif sembari membuka pintunya.
Pak Alif mempersilahkan keduanya masuk, dengan sopan keduanya pun masuk dan duduk di ruang tamu yang penuh ornamen sederhana namun terkesan mewah itu.
"Maaf, ini ada apa ya kok tumben datang kerumah?" Tanya pak Alif.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta Maaf, kemarin saya sempat mengikuti dua gadis, dan setelah beberapa saat saya ikuti ternyata keduanya masuk kerumah ini," terang Reyhan.
"Dua gadis... Oh, si Aisyah ponakan saya, dan temannya si Hanna. Iya, mereka baru dua hari tinggal disini. Mereka sedang mencari pekerjaan," jelas pak Alif.
"Wah, kebetulan sekali, Pak! Perusahaan Rey sedang mencari asisten dan beberapa karyawan yang di tugaskan di devisi khusus. Kalau begitu, bisa minta tolong, panggilkan mereka, Pak!" Sahut Dicky.
"Boleh, sebentar." Pak Alif sambil berdiri dari duduknya.
"Eh, apa maksudnya sedang mencari asisten dan karyawan, tempat kita uda penuh," bisik Rey pada Dicky.
"Uda, jangan berisik, nanti kita sambung di kantor," ucap Dicky.
Beberapa saat kemudian pak Alif datang dengan dua orang gadis di belakangnya. Dan betapa terkejutnya Hana, saat melihat Rey yang sedang duduk di ruang tamu itu.
Rey tersenyum melihat Hana yang pagi ini terlihat sangat cantik. Di balasnya sekilas senyuman itu oleh Hana. Tatapan Rey yang tajam membuat Hana segera menurunkan pandangannya.
"Rey, ini mereka yang kalian cari, bukan?" Tanya Pak Alif.
Namun Rey tidak segera membalas ucapan itu, dia hanya sedang melihat indahnya ciptaan Tuhan yang sedang ada di depannya. Hingga membuat Dicky segera menyenggol lengannya, barulah dia sadar saat ini sedang dimana.
"Eh, sorry!" Ucapnya.
"Ini mereka, Rey!" ucap pak Alif.
"Em, eh, iya, Pak!" Jawab Rey.
"Kenapa ya mencari kita!" Aisyah sambil menoleh ke arah Hana.
"Saya ada perlu sama Hanna," sahut Reyhan.
🤔
Si Rey ada perlu apa ya sama si Nana, tungguin up selanjutnya ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komen, vote, rate 5,juga favorit.
Terima kasih, masih setia sama ADM, tetep jaga kesehatan jangan lupa bahagia. 😘
__ADS_1