
Tidak ada yang salah dengan takdir. Hanya bagaimana cara kita agar bisa menyikapi dan menjalaninya. Jadilah seperti malam yang tidak pernah cemburu pada siang. Meski dia gelap dia tidak pernah membenci takdirnya. Dia tetap tanpak indah meski gelap selalu menyelimutinya.
🍂
Reyhan segera menghubungi Dicky, dia meminta Dicky segera datang ke tempat Hanna. Dicky kaget mendengar cerita Reyhan. Pasalnya selama ini dia tidak mengetahui bahwa Hanna
tinggal di salah satu kota di Jawa Timur juga.
"Loe itu nganggap gue saudara nggak, sih! kenapa baru bilang sekarang kalau Hanna tinggal di sana," omel Dicky.
"Ya maaf, gue juga lupa," tutur Reyhan.
"Ya uda, gue cari Aisyah dulu. Setelah itu langsung berangkat ke sana," ucap Dicky.
"Makasih ya, Ky. Loe selalu ada buat gue," ucap Reyhan.
"Apaan, pakai terima kasih segala. Kayak ke siapa aja loe. Ya uda, gue tutup dulu. Eh, salam buat mama sama papa," Dicky sebelum akhirnya menutup panggilannya.
*
Dicky dan Aisyah langsung berangkat menuju tempat Hanna berada. Empat jam sudah mereka di perjalanan. Kini keduanya telah sampai di mana Hanna berada.
"Sya, bener nggak sih, ini tempatnya?" tanya Dicky kepada Aisyah yang sedang mengamati sekelilingnya.
"Nggak tau juga, aku telepon dulu saja Si Hanna," ucap Aisyah.
__ADS_1
"Nggak surprise dong," sahut Dicky.
"Eh, iya juga ya, Mas. Terus kita langsung turun aja atau bagaimana ini?" tanya Aisyah.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang cari tau. Jangan ke mana-mana." Dicky sambil keluar dari mobilnya.
Tidak lama kemudian, Dicky telah kembali dari pencariannya. Sementara Aisyah sedang sibuk dengan gawai di tangannya.
"Serius bener, lagi chat sama siapa, sih!" seru Dicky.
"Sama Hanna, Mas," jawab Aisyah.
"Lho, kok sama Hanna. Dia tau dong kalau kita di sini."
"Nggak Mas. Enggak!" seru Aisyah.
"Mas sudah tau belum Hanna di mana?"
"Kamu itu, di tanya malah balik tanya," ujar Dicky.
"Yuk!" Dicky mengambil ponsel yang tersimpan di dashboard mobilnya.
"Eh, tunggu!" Aisyah berlari mengikuti langkah Dicky.
Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya Dicky dan Aisyah sampai juga di mes tempat tinggal Hanna. Diketuknya pintu kayu itu hingga terdengar suara sang penghuni ruangan membukanya. Begitu pintu terbuka betapa terkejutnya Hanna. Aisyah sang sahabat berada di depan matanya. Hanna langsung menghambur memeluk Aisyah seraya menangis terharu.
__ADS_1
" Sya, ini beneran kamu!" Hanna memukul pelan pipi Aisyah.
"Iya, Ini aku Aisyah. Sahabat yang telah terlupakan," ujar Aisyah.
Hanna kembali memeluk sahabatnya itu. Sesekali dia terisak.
"Hey, nggak diajak masuk, nih!" seru Aisyah.
"Eh, iya. Ayo!" Hanna segera melepaskan pelukannya dan segera mengajak ke dua orang temannya itu untuk masuk.
Hanna dan Aisyah melepas rindu di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Sementara, Ria yang di Jakarta sedang melawan rasa sakit yang teramat sangat. Sejak pertengkaran dengan Alvin beberapa waktu lalu membuat kondisi kesehatan Ria menurun drastis.
Ria kini sedang dirawat di Rumah Sakit. Tubuhnya lemas tidak berdaya, wajah pucat dengan mata terpejam dan mulut yang mengering. Membuat siap pun yang melihatnya akan merasa iba.
"Ria, bangun. Aqila dan Hafidz butuh kamu. Mereka masih mengharapkan kasih sayang dari kamu, Ria." Reyhan sembari mengusap tangan Ria pelan.
Pintu ruangan VVIP itu tiba-tiba saja diketuk. Dengan segera Reyhan berjalan menuju pintu itu. Tanpak seorang lelaki paru baya sedang berdiri. Reyhan segera mengajaknya untuk masuk.
"Maaf, Pak! Saya terpaksa datang kesini. Karena sejak kemarin saya kesusahan menghubungi Anda," ujar seorang pria itu.
"Iya, tidak apa, Pak. Saya memang sedang fokus merawat istri pertama saya." Reyhan sembari menoleh ke arah Ria yang sedang terkapar.
"Lalu, bagaimana dengan kelanjutan semua ini, Pak?" tanya pria itu.
"Lanjutkan saja, Pak," sahut Reyhan.
__ADS_1
🍂
Apa yang dilanjutkan ini, gaesss. Yuk jangan lupa tunggu up selanjutnya. Ditunggu jejak ya gaess, Like, Komen, Gift, Vote, Rate, Favorit juga. Terima kasih, 😘