
Masa lalu adalah kenangan
Masa kini adalah tantangan
Dan hati esok adalah suatu harapan
Mari kita sulam bersama
Mari kita basuh bersama
Segala kesalahan yang ada
Agar kita lebih mantab dan percaya diri
Dalam menapak harkat dan cita-cita.
Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1443 H
Minal Aidin Walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. 🙏🙏
🍂🍂🍂
Selamat membaca,
"Papa, kenapa papa tega ninggali Ria, Pa!" Teriak Ria.
"Sudah, Mbak! Kasihan papanya Mbak, kalau Mbak seperti ini terus. Do'akan dia, Mbak! Saat ini yang beliau butuhkan hanya do'a dari Mbak." Hanna memeluk Ria, sembari terus berusaha menenangkan Ria.
"Antar aku kemakam papa," pintanya.
"Setelah Mbak benar-benar sehat ya," Hanna meyakinkan.
"Sekarang!" Bentaknya pada Hanna.
Hanna tidak menjawab lagi, walaupun sebenarnya hatinya sakit mendapat hentakan dari Ria, namun di tetap bersabar.
__ADS_1
"Kita izin ke dokter dulu ya Mbak," terang Hanna lagi.
Sesaat kemudian dokter pun datang. Beliau menjelaskan, bahwa kondisi Ria belum memungkinkan untuk beranjak dari tempat tidur. Namun itulah Ria, apapun yang dia mau harus bisa di wujudkan.
"Sudah, Dok! Dengan atau tanpa izin dari dokter saya akan tetap ke makam papa," ucap Ria ketus.
"Tapi, Bu. Kesehatan Ibu lebih penting untuk saat ini, dan jika ibu memaksa, saya tidak akan bertanggungjawab atas resiko yang terjadi. Jangankan untuk duduk di kursi roda, untuk merubah posisi tidur saja Ibu kesulitan, bukan!" Ucap dokter itu.
Sejenak Ria berpikir, mungkin jalan pikirannya sudah terbuka, dia hanya terdiam mendengar penjelasan dari dokter yang menanganinya itu. Air matanya tiba-tiba saja menetes, entah apa yang dia rasakan.
"Benci, benci gue sama hidup ini," ucap Ria.
"Sudah, Mbak. Sudah! Hanna kembali menenangkan Ria.
" Ini semua gara-gara kamu, kalau kamu tidak menikah dengan mas Rey, kalau kamu tidak ada di antar kita, semua ini tidak akan pernah terjadi. Papa tidak akan pernah pergi, dasar pembunuh!" Ucapan Ria seketika membuat Hanna membisu, tanpa ada kata apapun Ria langsung berlari keluar dari ruangan Ria sedang dirawat. Hatinya begitu hancur mendengar ucapan Ria.
"Hanna!" Reyhan berlari menyusul sang istri.
"Mas, kamu tega ninggalin aku?" Lagi-lagi Ria memasang wajah melasnya.
"Aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh!" seloroh Hanna dalam hati, sembari terus berjalan tanpa tujuan. Sesampainya di depan rumah sakit.
Citt ...
Hampir saja Hanna tertabrak mobil yang baru saja melintas di depan rumah sakit.
"Mbak lihat-lihat dong kalau jalan," ucap seorang pengemudi mobil.
"Maaf," Hanna mengangkat kedua tangan dan megatupkannya di depan dada. Sebagai tanda permintaan maaf.
Reyhan terus mencari keberadaan Hanna, hingga dilihatnya Hanna sedang berada di pinggir jalan. Dengan segera dia mendatanginya. Belum sampai Reyhan ke tempat Hanna, dia segera menghentikan taksi yang sedang melintas. Dengan segera dia naik kedalam taksi itu.
"Hanna, tunggu! Hanna!" Teriak Reyhan. Namun Hanna sudah pergi jauh dengan menggunakan taksi itu.
Reyhan kembali lagi kekamar rawat Ria, dia mengambil barangnya yang tertinggal disana. Tanpa berucap sepatah kata Reyhan mengambil ponsel dan tas milik Hanna yang tertinggal di atas meja dan segera pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Mas, kamu mau kemana, Mas!" Ria dengan nada memelas.
"Pergi dan tak akan pernah kembali lagi kesini," jawab Reyhan tegas.
"Kamu tega mau ninggalin aku yang seperti ini."
"Kenapa tidak! kamu juga tega menyakiti orang yang tidak bersalah. Maka dari itu jangan berharap akan kembali kesini lagi." Reyhan berjalan menuju pintu keluar.
"Mas aku tidak punya siapa pun, aku mohon jangan pergi, Mas!" Ria sambil menangis.
"Aku tidak akan pergi kalau Hanna juga ada disini, dan aku akan kembali jika Hanna yang memintaku, dan ingat satu hal. Dalam hidupku sekarang hanya Hanna sebagai prioritas ku. Dan kamu ...!" Reyhan menjeda ucapannya.
"Kamu apa, Mas!
" Kamu bukan siapa-siapa ku lagi, karena kita sebentar lagi akan bercerai bukan, atau kamu sudah melupakan itu," Reyhan kembali mengingatkan Ria.
"Tidak, Mas! Tidak! Aku tidak ingin bercerai. Aku tidak punya siapapun lagi, Mas." Ria terus menangis. Reyhan keluar dari ruangan itu.
"Mas, Mas Reyhan!" Teriak Ria.
Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Like
Komen
Vote
Rate
Gift
Favorit
Sekali lagi, Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Tetap jaga kesehatan jangan lupa bahagia ya, terima kasih 😘
__ADS_1