Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 95


__ADS_3

Dicky dan Aisyah yang sejak tadi diam kini berpamitan untuk pulang, mereka akan pergi ke rumah orang tua Aisyah. Karena sejak mereka menikah hanya beberapa kali saja mereka berkunjung.


"Ma, Pa. Dicky mau pamit ke rumah orang tua Aisyah dulu ya. Mumpung masih di Jakarta, nanti kalau ada kabar terbaru tentang kondisi mbak Ria, jangan lupa kasih kabar ke Dicky," pesan Dicky.


"Iya, hati-hati di jalan. Salam buat orang tua Aisyah," Imbuh Rita.


Setelah berpamitan keduanya mencium tangan Rita dan Wisnu secara bergantian. Tidak lupa pula memeluk ke dua keponakan mereka Aqila dan Hafidz.


Sementara di dalam ruang ICU, Hanna mencoba tersenyum ke arah Ria. Walaupun di dalam hati dia begitu menangis pilu melihat kondisi Ria.


"Ma-maafin Mbak, ya. Mbak sudah jahat sama kamu. Mbak sudah banyak ngerepotin kamu. Mbak sudah banyak salah sama kamu. Mbak titip anak-anak. Anggap mereka seperti anak kalian sendiri," pinta Ria dengan terbata.


"Mbak nggak usah mikir macam-macam. Hanna sudah memaafkan Mbak sejak dulu. Hanna yang seharusnya minta maaf. Hanna menjadi orang ke tiga di antara kalian," ujar Hanna dengan berderai air mata.


"Mbak harus kuat, anak-anak masih butuh kasih sayang, Mbak," ucap Hanna lagi.


"Aku sudah tidak kuat lagi, Na. Nyawaku dicabut sekarang pun aku ikhlas walaupun masih banyak dosa dalam diriku. Mas, maafkan aku, belum bisa menjadi istri yang baik, aku harap kamu masih mau menjadi ayah dari anak-anak ku kelak setelah aku pergi, jangan biarkan mereka bertemu Alvin,Mas," pesan Ria kepada Reyhan dan Hanna dengan terbata.


"Ngomong apa, Kamu. Sudah, istirahat," tutur Reyhan.

__ADS_1


"Mbak, Mbak harus kuat. Mbak nggak mau lihat anakku sama mas Rey. Aku hamil, Mbak," ucap Hanna.


Ria tersenyum mendengar penuturan Hanna. Dia berusaha mengusap perut Hanna yang masih datar itu.


"Selamat ya, jaga dia baik-baik. Mbak minta maaf," ucapnya sekali lagi.


"Hanna juga minta maaf, Hanna juga janji akan merawat anak-anak seperti anak kandung Hanna sendiri." Hanna tersenyum melihat Ria yang juga tersenyum.


"Mas, Maaf," lirihnya lagi.


Mata Ria terpejam, wajahnya pucat, bibirnya tersenyum samar. Sejenak semua baik-baik saja. Namun, beberapa detik kemudian. Alat pendeteksi jantung itu berbunyi. Menandakan jantung seseorang telah berhenti berdetak.


Reyhan yang ikut panik dengan segera memanggil sang dokter. Tidak lama kemudian dokter pun datang. Setelah beberapa saat memeriksa kondisi Ria dokter sedikit menarik napasnya dalam.


"Urus kepulangannya,Sus."Dokter beranjak keluar ruangan memberikan kabar bahwa Ria telah tiada. Rita, Wisnu dan ke dua anak Ria segera ikut masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan alat medis itu.


"Mama, jangan tinggalin Qila, Ma. Qila tidak punya siapa-siapa lagi. Qila hanya punya mama." Qila menangis memeluk jasad Ria.


Semua yang ada di dalam ruangan itu menangis tanpa terkecuali. Hanna yang sejak tadi menangis tiba-tiba saja hilang kesadaran.

__ADS_1


"Hanna!" Reyhan merangkul tubuh Hanna yang hampir terjatuh. Dengan segera Hanna dilarikan ke UGD.


Rita dan kedua cucunya masih berada di ruangan Ria. Sementara Wisnu telah keluar untuk mengurus berbagai administrasi di resepsionis. Reyhan sendiri masih menunggu Hanna di UGD.


"Mbak, jangan pergi," ucap Hanna dengan mata masih tertutup. Reyhan yang sedang duduk segera berdiri menghampiri istrinya yang sedang hamil itu.


"Sayang," Reyhan memegang tangan Hanna.


Merasakan ada sentuhan di tangannya Hanna segera membuka mata. Dilihatnya Reyhan sedang berada di samping nya.


"Be, Mbak Ria, Be." Hanna kembali menagis.


"Sayang, dengerin aku!" seru Reyhan.


"Ikhlaskan Ria, dia sudah tidak merasakan sakit lagi, kita do'akan saja, semoga dia mendapatkan tempat terindah disis-NYA." Reyhan dengan mengusap sisa air mata di pipi mulus milik istrinya itu.


🍂


Jangan lupa tinggalkan jejak gaesss. Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2