Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 72


__ADS_3

Hanna memutuskan untuk tetap pergi meninggalkan rumah mewah berlantai dua itu. Aqila dan Hafidz terus saja meronta mengejar kepergian Hanna.


"Ma, Mama jangan pergi, Ma!" Aqila sembari menarik tangan Hanna.


Hanna sebenarnya juga tidak tega melihat kedua anak yang beranjak dewasa itu terus memaksa dan memintanya untuk tetap tinggal.


Sementara Reyhan dan Ria terus berdebat di dalam rumah.


"Cukup Ria! Apa kamu lupa, siapa yang merawat kamu hingga detik ini," ucap Reyhan sedikit membentak.


"Aku tidak pernah lupa, cuma aku sudah muak dengan kalian semua," Bentak Ria tidak mau kalah.


"Ya sudah, apa mau mu?" Tanya Reyhan.


"Aku hanya ingin hidup tenang." Ria sambil memijat pangkal hidungnya.


"Ok! Kalau itu keinginan kamu. Aku akan pergi dari rumah ini." Reyhan melangkah pergi.


Dengan mengayuh roda di kursinya Ria mendekat ke arah meja di sampingnya, dengan segera dia menarik taplak meja yang bertengger di sana. Semua barang yang berada diatas jatuh berhamburan dan pecah.


Sementara Reyhan tidak menghiraukan semua itu, Dia tetap pergi meninggalkan Ria di rumah mewahnya itu. Reyhan berhenti ketika melihat ke dua anak itu meronta meminta Hanna untuk tetap tinggal. Ada rasa iba di dalam dirinya, namun semua harus dia relakan.


"Qila, Hafidz!" Panggil Reyhan.


Sontak kedua kakak beradik itu menoleh mendengar namanya dipanggil. Mereka berdua segera kembali menghibah kepada Reyhan agar bisa membujuk Hanna.

__ADS_1


"Pa, tolong jangan biarkan mama Hanna pergi," suara kecil Hafidz menghibah seambil sesenggukan.


Reyhan berlutut di depan kedua anak itu, memberikan pengertian tentang masalah rumah tangganya.


"Qila, Hafidz. Maafkan Papa, Papa tidak bisa mencegah mama Hanna untuk tetap tinggal. Dan hari ini juga Papa akan pindah ke rumah oma Rita." Reyhan sambil memegang kedua tangan Qila dan Hafidz.


"Tapi, Pa!" Sahut Hafidz.


"Papa tega mau ninggalin kita. Papa jahat, papa sama saja dengan mama Ria!" Aqila histeris.


Reyhan berdiri memeluk keduanya, membiarkan mereka menumpahkan segala kekecewaan mereka kepadanya. Hingga beberapa saat memudian Reyhan kembali berbicara setelah keduanya mulai tenang.


"Qila, Hafidz, bukan maksud Papa untuk meninggalkan kalian, Papa sama mama Hanna hanya ingin introspeksi diri. Mama Hanna sudah pergi, dan Papa harus bisa membujuknya agar mau kembali lagi," Reyhan berucap dengan sangat hati-hati.


"Sayang! Dengarkan Papa. Tugas Papa sekarang membujuk mama Hanna, dan tugas kalian membuat mama Ria. Untuk sementara tolong biarkan Papa tinggal di rumah Oma Rita. Kalau kalian butuh sesuatu telpon Papa. Ingat! Jaga mama Ria. Papa yakin kalian akan menjadi orang yang bisa Papa andalkan selain mama Hanna." Reyhan kembali memeluk kedua anak sambungnya itu.


"Sabar, yah! Kita pasti bisa melewati semua ini, dan bisa tinggal bersama lagi." Reyhan mengecup kepala mereka bergantian dan melangkah pergi meninggalkan rumah peninggalan Bram itu.


Sementara di dalam taksi, Hanna tidak berhenti menangis, menyesali kebodohannya selama ini.


Kenapa aku harus terjebak kehidupan yang serumit seperti ini?" Tanyanya dalam hati.


Hanna tersentak saat mendapat pertanyaan dari supir taksi.


"Iya, Pak! Ada apa?" Tanya supir taksi itu.

__ADS_1


"Ini tujuannya kemana, Mbak!


Hanna terdiam, dia tidak tahu harus pergi kemana. Ke rumah sang Mama tidak mungkin, dia tidak mau membuat sang mama terbebani dengan masalahnya. Ke rumah Mama Rita apalagi, untuk sementara ini dia enggan bertemu dengan Reyhan. Hingga panggilan kedua dari supir taksi membuatnya segera menjawab.


Ke Bandara saja, Pak!" Jawab Hanna.


"Baik, Mbak. Supir taksi itu segera melajukan mobilnya ke Bandara. Sesampainya di sana Hanna duduk di kursi tunggu, menanti keberangkatannya yang tinggal beberapa saat waktu lagi.


Hanna duduk sembari memainkan ponsel yang ada di tangannya. Memblokir beberapa nomor yang kemungkinan akan mencarinya. Untuk saat ini Hanna benar-benar ingin menenangkan diri, meratapi nasib pernikahannya, dan kemungkinan yang akan terjadi di dalam hidupnya yang akan datang.


Sementara duduk seorang laki-laki di samping kanan Hanna, dengan menggunakan kacamata hitam di wajahnya membuat ketampanan semakin terlihat begitu nyata.


Laki-laki itu tidak menyapa Hanna, dia hanya memperhatikan saja, dia tidak berani karena bisa dipastikan bahwa Hanna tidak baik-baik saja. Dia hanya mengawasi dan memperhatikan Hanna yang sedang menangis sesenggukan.


*


Yuhuuu, sambil nunggu siapa yang di sebelah Hanna yuk kepoin karya temen Syfa yang satu ini, di jamin nggak kalah menarik. Karya Siti Fatimah. " Penjara Cinta Mafia Kejam"



Kenapa hidupku harus menderita seperti ini, jika banyak orang yang bisa merasakan apa arti itu bahagia, kenapa hanya aku orang yang terjebak didalam lembah penderitaan ini sendiri.


Hidup bersama dengan seorang Mama tiri seperti halnya hidup didalam jeruji besi, sekaligus awal kehancuran bagiku setelah beberapa tahun yang lalu Mama kandungku meninggalkanku untuk selama-lamanya.


Dan Papa yang memutuskan untuk menikah lagi dengan Monika yang tak lain sekarang dia menjadi Mama tiri-ku sendiri, awalnya aku kira Mama tiri-ku peduli dan sayang kepadaku, tapi nyatanya setelah Papa pergi meninggalkanku dan menyusul Mama di Surga.

__ADS_1


Sifat dan perlakukan dia terhadapku seketika berubah, bahkan dia hanya menganggap-ku layaknya seperti hewan yang tidak ada gunanya dan hanya akan jadi bahan siksaan. Yang selalu ia kurung didalam kamar tanpa beralas yang hanya menyisakan selembar karpet tipis beserta selimutnya. Bahkan sangking jahatnya ia hanya akan mengeluarkan-ku ketika menyerahkan-ku pada laki-laki mesum yang berani membayarnya dengan harga tinggi yaitu 50 juta permalam sangat kejam bukan.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, 😘


__ADS_2