Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 100


__ADS_3

Alhamdulillah, mencapai 100 bab. Terima kasih buat semua yang telah mendukung karya Syfa. Jangan lupa terus dukung kasih Like, Komen, Gift, Vote, Rate juga Favorit.


🍂


Happy Reading...


Tepat jam dua malam Hanna terbangun, perutnya kembali mengalami kontraksi yang hebat. Beberapa kali dia memanggil Reyhan, namun Reyhan yang tertidur di sebelah brangkar tidak mendengarnya.


"Be ...," lirih Hanna untuk kesekian kalinya hingga Reyhan terperanjat dari tidurnya.


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Reyhan yang langsung berdiri dan memegang tangan sangat istri.


"Sakit, Be ...."


"Sakit!" Reyhan langsung memencet tombol darurat di samping brangkar.


"Bertahan sayang, dokter sebentar lagi datang." Reyhan sembari mengecup kepala Hanna.


"Be ..., sakit banget." Hanna terisak hingga membuat Reyhan ikut meneteskan air mata.


Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Hanna datang, dengan segera dia memeriksa kondisi Hanna dan janin yang ada di dalam rahimnya.


"Bapak bisa menunggu di luar, biar kita bisa menangani pasien seoptimal mungkin." Suster mengarahkan Reyhan untuk keluar.

__ADS_1


"Tapi, Sus. Apa saya boleh di sini saja, saya janji tidak akan menggangu." Reyhan mengatupkan ke dua tangannya di depan dada seraya memohon kepada suster yang berjaga itu.


"Ya sudah, Bapak silahkan duduk di kursi tunggu sana." Suster menunjukkan ke arah sofa di ujung ruangan.


Reyhan tidak melepaskan pandangannya dari brankar Hanna berbaring. Diamatinya beberapa orang yang sedang menangani sangat istri. Hatinya begitu nyeri melihat Hanna yang terus merintih kesakitan. Hingga terkadang membuatnya semakin bersalah.


Dokter telah memberikan beberapa tindakan kepada Hanna sebelum akhirnya mendatangi Reyhan yang sedang termenung menatap kearah mereka.


"Pak Reyhan, ada kabar yang sedikit tidak enak. Tapi, saya harus tetap mengatakannya kepada Anda," ucap dokter yang baru saja mendekat itu.


Reyhan tidak menjawab, namun sorot mata yang tajam itu mengisyaratkan ingin segera mengetahui apa yang akan dikatakan oleh sang Dokter.


"Katakan saja, Dok!" seru Reyhan.


"Maksudnya, Dok!" seru Reyhan.


"Ada kelainan pada janinnya, Pak. Kalau tidak segera di keluarkan ini sangat membahayakan ke selamat sang ibu. Jadi, sesegera mungkin kita harus melakukan tindakan operasi."


"Apa, Dok! Kelainan dan harus segera dikeluarkan? Itu artinya ...," Reyhan menjeda ucapnya.


"Iya, Pak Rey. Jika tidak segera dikeluarkan bu Hanna akan terus merasakan kesakitan akibat kontraksi yang terus terjadi dan resikonya nyawa bu Hanna sendiri," ucap sang dokternya.


"Lakukan apapun yang menurut dokter baik. Selamatkan mereka, Dok," pinta Rey.

__ADS_1


"Ok, akan kita usahakan, sebisa mungkin keduanya selamat." Dokter itu menjelaskan sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.


Keesokan paginya, Hanna sudah berada di ruangan operasi, lampu merah yang terdapat di atas pintu ruangan itu sudah menyala beberapa menit yang lalu. Reyhan, kedua orang tua beserta ibu mertuanya sedang duduk di depan ruangan itu. Keempat orang itu terdiam dalam pikirannya masing-masing. Namun, mereka lebih banyak memanjatkan do'a untuk keselamatan Hanna.


Hampir dua jam, akhirnya lampu merah itu pun padam, menandakan telah usainya operasi. Tidak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter keluar dan memberikan informasi tentang keadaan Hanna. Reyhan segera berlari mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Reyhan.


"Iya, bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" Rita ikut bertanya.


"Pak, Bu, operasinya berjalan lancar. Namun, saya mohon maaf, karena tidak bisa menyelamatkan cucu bapak dan ibu, sementara keadaan bu Hanna baik-baik saja. Beliau belum sadarkan diri karena efek dari obat bius," terang sang dokter.


"Apa Dok! Cucu saya tidak bisa diselamatkan?" tanya Rita. Sementara Reyhan langsung duduk di kursi tunggu seraya menundukkan kepala.


"Iya, karena usia kandungannya yang masih dini, kelelahan akibat kegiatan sehari-hari, stres berkepanjangan dan juga beberapa faktor lain yang bisa memperngaruhi kehamilan bu Hanna. Sehingga kandungan bu Hanna bermasalah dan menyebabkan keguguran spontan. Sekali lagi, kami mohon maaf belum bisa menyelamatkan calon cucu ibu dan bapak," terang sang dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih, yang penting sekarang menantu saya masih selamat," ucap Wisnu.


Dokter pun berlalu dari hadapan mereka, sementara Reyhan masih setia dengan kursi di depan ruangan itu sembari menunggu Hanna dipindahkan ke ruangan rawat.


"Sabar ya, Rey. Belum rezeki kita." Wisnu menepuk punggung Reyhan." Dia penolongmu kelak di akhirat," ucap Wisnu lagi.


🍂

__ADS_1


Maaf ya gaess up nya sedikit. Syfa lagi mode anu. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘


__ADS_2