
Pesona malam hari di resort pinggir pantai itu semakin malam semakin indah. Semilir angin laut yang menembus pori-pori serasa begitu dingin. Hanna yang sedang duduk di balkon dengan memandang keindahan hamparan laut nan luas itu sedikit canggung dengan keberadaan Reyhan sang suami. Pasalnya beberapa saat lalu Hanna telah mengutarakan keinginannya untuk mengakhiri hubungan di antara keduanya.
"Be, tolong lepaskan aku, aku tidak mau lagi menjadi pengganggu di kehidupan rumah tangga kalian. Aku sadar, selama ini aku telah salah. Bahagia diatas penderitaan mbak Ria dan anak-anak. Aku juga ingin bahagia, Be. Menikmati kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Rumah tangga yang di idamkan banyak orang. Bukan hidup di antara kehidupan kalian." Hanna berucap sembari memandangi lautan yang gelap itu.
"Hanna! Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan pernah menceraikanmu, biarkan aku saja yang melepaskan Ria. Aku lebih ikhlas kehilangan dia, daripada harus kehilangan kamu. Sudah terlalu banyak penderitaan yang aku berikan kepadamu, menorehkan luka yang mungkin tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Dan aku janji, apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankan kamu." Reyhan memeluk Hanna, dan segera di tepis oleh Hanna.
"Maaf, aku tidak mau hidup bahagia diatas penderitaan orang lain. Akan ada banyak hati yang terluka jika kita masih bersama. Kita bahagia. Tapi, bagaimana dengan yang lain. Hidup itu hanya sekali, aku hanya ingin bisa bermanfaat buat orang lain, bukan memanfaatkan orang lain," ucap Hanna lagi.
"Kamu jangan hanya memikirkan kebahagiaan orang lain, kamu juga butuh bahagia, Na," ucap Reyhan.
"Iya, aku tau, mungkin jika kita tidak bersama aku akan bahagia." Hanna mengusap air mata yang dengan mudahnya lolos begitu saja dari manik hitam itu.
"Mungkin! Itu masih mungkin. Dan aku tau kebahagiaan kamu selama ini hanya ada pada ku, bukan!" Ucap Reyhan dengan pedenya.
"Do'akan saja aku bahagia jika tanpa kamu, Be."
" Tapi aku tidak akan pernah bahagia jika kehilangan kamu, Na!" Reyhan pergi meninggalkan balkon.
Hanna mendatangi Reyhan yang sedang duduk bersandar di sofa, sesekali dia memijat pangkal hidungnya. Terlalu lelah dengan perjalanan dan juga masalah rumah tangganya yang pelik.
"Be, maaf ya. Aku harus pulang!" Kamu berani kan sendiri disini?" Tanya Hanna.
"Apa maksudnya pulang! Aku masih suamimu. Apa benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kita bersama?" Tanya Reyhan.
"Bukan tidak ada, tapi aku lelah," jawab Hanna.
__ADS_1
"Kita bicarakan baik-baik, Na. Jangan mengambil keputusan saat hati sedang tidak baik. Aku tidak mau, suatu saat nanti kita akan menyesali semua ini."
Hanna keluar dari kamar hotel itu, dia menuju mes yang sudah di sediakan khusus untuk karyawan resort. Sementara Reyhan mengikutinya dari belakang. Di lihatnya Hanna masuk kedalam kamarnya, ada beberapa orang yang sedang duduk di teras mes untuk melepas penat akibat kerja seharian penuh.
"Maaf, Mas. Mau cari siapa?" Tanya salah seorang teman Hanna.
"Nunggu Hanna," jawab Reyhan singkat.
"Dari Jakarta ya, Mas?" Tanyanya lagi.
"Iya." Reyhan sambil tersenyum.
Teman Hanna pun masuk ke dalam mes, untuk memanggil Hanna. Belum sempat masuk, terdengar suara isak tangis dari dalam kamar itu.
"Mbak Nana, kamu di dalam kan Mbak! Kamu baik-baik saja kan Mbak?" Ucap teman Hanna sambil mengetuk pintu.
"Mbak kenapa? Ada yang menunggu Mbak Nana di luar," ucap sang teman.
"Siapa?"
"Seorang pria tampan, katanya dari Jakarta," jawab teman Hanna."
"Hufff! Mas Rey, keras kepala. Sudah di bilang aku mau istirahat, kenapa malah mengikutiku," ujar Hanna dalam hati.
"Uda, temui dia kasihan uda nunggu tuh! " Sembari melangkah pergi.
__ADS_1
Hanya pun akhirnya pergi menemui Reyhan yang sedang menunggunya di teras Mes.
"Kenapa sih, kamu keras kepala banget. Uda di bilang istirahat saja di resort, malah nyusulin kesini," ucap Hanna ketus.
"Aku kesini mau nemuin kamu, bawah kamu balik, bukan nikmati tidur di resort," ucap Reyhan tidak kalah ketus.
"Tunggu! Aku ambil jaket dulu." Pamit Hanna seraya melangkah masuk mes.
Tidak lama kemudian Hanna sudah keluar dengan menggunakan jaket tebal di badannya, dia mengajak Reyhan untuk berkeliling resort, duduk di kursi menghadap ke pantai kali ini tempat tujuan Hanna.
"Duduk di sini saja, Be. Aku tinggal sebentar." Hanna melangkah pergi mendatangi pelayan Resort yang bertugas malam hari.
"Lho, Mbak. Kok masih ada disini, bukannya sudah waktunya pulang."
"Aku mau pesan makanan, belum makan." Hanna memegang perutnya.
"Oh, yah sudah. Sini sama saya saja," Pelayan itu menawarkan diri.
"Makasih, aku tunggu di tempat biasa ya," ujar Hanna.
"Siap, Mbak! Pelayan itu melangkah pergi.
Hanna pun kembali mendatangi Reyhan yang sedang duduk dengan santai itu.
🍂
__ADS_1
Yup sambil nunggu makan malam Reyhan dan Hanna, yang entah romantis apa enggak, nih Syfa ada rekomendasi karya @covievy jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya ya gaess, like, komen, gift, rate, vote dan favorit.