
Reyhan masih tidak mau menyerah, dia terus saja membujuk Hanna. Hingga akhirnya muncullah sebuah kesepakatan bahwa diantara keduanya tidak ada yang namanya perceraian. Namun Hanna tetaplah Hanna, dia tetap tidak mau kembali ke Jakarta.
"Ya sudah, besok kita pulang ya," ajak Reyhan.
"Aku masih mau disini, kamu saja yang pulang. Semua pasti sudah menunggu kamu, Be," ucap Hanna.
"Be, bagaimana kalau aku tinggal dan menetap di sini, agar aku bisa tenang. Dan Mbak Ria pun tidak merasa terganggu karena kehadiranku.
Sejenak Reyhan terdiam, dia tidak menjawab ucapan Hanna. Dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini.
"Ok! Aku setuju dengan pendapatmu, Sayang, " jawab Reyhan ragu.
"Terima kasih ya, Be. Kamu mau menuruti kemauanku." Hanna memeluk tubuh kekar yang sedang duduk disampingnya itu.
Sementara Reyhan tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan segera dia membalas pelukan dari sang istri. Mencium kening Hanna, hingga mencumbu bibir ranum itu dengan begitu agresif.
Hanna mendorong tubuh Reyhan, hampir saja dia lepas kendali. Hanna baru sadar jika keduanya masih di tempat umum.
"Be, sudah! Ini di tempat umum," ujarnya kepada Reyhan.
"Ya sudah, kita balik saja ke kamar." Reyhan mengajak Hanna berdiri.
"Aku masih mau disini," ucap Hanna.
__ADS_1
"Si Anaconda sudah tidak sabar lagi masuk kedalam sarangnya, Sayang," bisik Reyhan.
"Mesum."
"Sama istri sendiri, tidak dilarang, Sayang. Sudah halal, bukan." Reyhan tersenyum genit.
Keduanya berjalan menuju resort, Reyhan tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangannya. Hingga sampai di kamar tempatnya menginap, Reyhan terus saja menciumi tangan itu.
Namun tidak hanya itu saja, sesekali Reyhan juga mencuri kesempatan untuk mencumbu sangat istri.
"Sayang, jangan pernah sekalipun kamu pergi meninggalkanku, yah. Aku tidak sanggup. Cukup sekali ini saja kamu membuatku tidak berdaya karena kepergianmu." Reyhan sembari menarik tubuh mungil itu kedalam pangkuannya.
"Iya, aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu. Baik suka maupun duka. Hingga akhir usiaku, aku akan selalu ada di sampingmu," ucap Hanna sendu.
Keduanya pun larut dalam suasana itu, Reyhan terus saja menciumi sangat istri. Dari pipi, kening, leher, hingga bibir ranum itu pun tidak tidak terlewatkan. Tanpa di sadari keduanya telah dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Hanya selimut saja yang menutupi kedua tubuh polos itu.
"Terimakasih, Sayang. Semoga kali ini Tuhan memberikan kita anugerahkan yang luar bisa untuk kita." Reyhan mengelus perut tanpa busana itu.
"Aminn," Semoga saja, Be. Aku juga sangat menginginkan malaikat kecil hadir diantara cinta kita." Tanpa sungkan lagi Hanna mengecup bibir sangat suami.
"Kau ingin menggodaku lagi?" Tanya Reyhan.
"Tidak, Be. Aku hanya terlalu bahagia bisa kembali hidup bersama dan berdampingan dengan kamu lagi."
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan, anggap saja ini adalah bulan madu mereka yang selalu tertunda. Karena setelah menikah dengan Reyhan, Hanna tidak sekalipun menikmati masa-masa itu. Waktunya lebih banyak di habiskan untuk merawat kedua anak sambungnya dan juga merawat Ria.
*
Pagi hari yang cerah, suara burung pun bersiul dengan merdunya. Membuat siapapun yang mendengarkan akan ikut bahagia. Namun tidak dengan Ria. Penyesalan selalu datang menghampirinya. Dia sangat menginginkan Reyhan bisa mencintainya lagi, namun di sisi lain dia tidak boleh egois. Dia harus berbagi suami dengan Hanna.
"Mas Reyhan, maafkan aku. Andai waktu bisa ku ulang lagi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kamu. Kenapa rasa itu harus datang terlambat. Kenapa?" Ria memukul dadanya dengan kuat.
Kini Ria merasa hidupnya benar-benar hampa. Tidak ada seorang pun yang perduli dengannya. Dia beranggapan bahwa dirinya hanya sebuah beban buat orang lain.
Menangis pun percuma, semua sudah terjadi. Mungkin mengabdi menjadi istri yang baik atau bercerai dengan Reyhan. Hanya itu dua pilihan yang harus dia pilih.
*
Di kediaman Rita, kedua kaka beradik itu telah siap untuk berangkat kesekolah. Sang kakek dengan suka hati mengantarkan mereka. Rita dan Wisnu begitu bahagia, meskipun bukan cucu mereka sendiri, namun keduanya sudah memberikan kebahagiaan untuk keluarga itu.
"Qila, Hafidz. Sekolah yang rajin ya, Nak. Biar kelak menjadi orang sukses." Wisnu sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Yah, mereka sedang sarapan bersama sebelum berangkat kesekolah.
"Iya, Opa. Hafidz janji akan sukses seperti papa Reyhan."
"Aku akan sukses seperti mama Hanna. Tapi, tidak untuk menjadi istri kedua," sahut Aqila.
🍂
__ADS_1
Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya, Like, komen, gift, vote, rate juga favorit.
Jaga kesehatan jangan lupa bahagia ya gaess.