
Hari ini tepat seratus hari kematian Ria. Malam nanti akan diadakan acara do'a bersama di kediaman Ria. Semua orang sedang sibuk menyiapkan berbagai macam keperluan.
Hanna sedang di sibukkan dengan membersihkan dapur karena sejak kematian Ria rumah itu hanya sesekali di bersihkan. Rumah yang penuh debu itu dibersihkan sejak tadi pagi. Namun, masih saja ada yang tertinggal.
Hanna berhenti sejenak, kandungannya yang memasuki bulan ke lima membuatnya sering merasakan cepat capek. Di sandarkannya punggu itu di sandaran kursi makan. Merasakan punggungnya yang tiba-tiba sedikit sakit.
"Kenapa, Na. Apa ada yang sakit?" tanya sang mertua.
"Nggak, hanya sedikit lelah saja," jawab Hanna.
"Kamu istirahat saja, ya. Mulai tadi kamu belum istirahat," ujar Rita.
"Nggak, Ma. Ini belum selesai. Dibuat duduk sebentar pasti sudah enakan," ujar Hanna.
"Kamu itu, ya. Diberi tahu malah ngeyel. Sudah, sana, kamu istirahat saja. Biar mama yang selesaikan ini." Rita sembari mengambil lap yang berada di depan Hanna.
"Tapi ...."
"Nggak usah pakai tapi, nurut saja sama orang tua." Rita sembari menggandeng tangan Hanna agar mau istirahat. Dengan terpaksa akhirnya Hanna pun mengikuti ucapan Rita.
__ADS_1
Tepat sehabis isya acara do'a dan tahlil digelar, para tamu undangan sudah berdatangan. Namun, ada sosok tamu yang tidak asing tapi tidak diundang. Ada sedikit keterkejutan di sana. Apalagi sosok laki-laki ini adalah yang selalu dihindari.
"Alvin," Reyhan terkejut melihat kedatangan ayah kandung dari Aqila dan Hafidz.
Alvin mendekat ke arah Reyhan yang berada di depan pintu untuk menyambut tamu undangan.
"Rey." Alvin mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Ada perlu apa kamu ke sini!" seru Reyhan tidak segera membalas uluran tangan Alvin.
"Maaf, Rey. Saya menyesal atas semua kejadian yang telah terjadi." Alvin dengan menundukkan pandangannya.
Reyhan yang mendengar permintaan maaf Alvin tersenyum hambar. Seketika Reyhan mengingat permintaan Ria, agar Alvin tidak bertemu dengan anak-anaknya. Namun, melihat keseriusan Alvin Reyhan menjadi sedikit bimbang.
"Aku hanya ingin meminta maaf dan bertemu anak-anak. Juga ingin ikut mendo'akan Ria." Alvin sembari melihat ke dalam rumah.
"Apa aku tidak salah dengar!" seru Reyhan.
"Tidak, aku sungguh-sungguh ingin minta maaf, setelah kematian Ria tempo hari aku semakin yakin. Terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan kepadanya dan aku juga telah mendapatkan karmanya," sahut Alvin.
__ADS_1
"Apa maksudmu? apakah kau hanya berpura-pura dan setelah itu kembali melakukan kejahatan yang sama," papar Reyhan.
"Tidak, aku benar-benar ingin minta maaf, aku sudah menyesali semua yang telah aku lakukan. Maafkan aku, Rey," Alvin kembali meminta maaf.
"Masuklah, jika kau ingin ikut mendo'akan Ria." Reyhan berjalan membelakangi Alvin. Alvin berhenti di depan pintu. Masih ragu untuk masuk ke dalam rumah itu. Namun, Reyhan yang melihatnya juga sedikit aneh.
"Kenapa, Vin?" tanya Reyhan.
Alvin tidak menjawab, dia hanya terus melihat ke dalam rumah.Mungkin dia mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Memperlakukan Ria dengan sangat buruk di dalam rumah itu.
Reyhan menepuk punggung Alvin, sontak membuatnya terperanjat kaget.
"Maaf." Alvin berjalan mengikuti Reyhan. Saat melihat ke dua anaknya Alvi7
"Ayo masuk!" Seru Reyhan lagi.
*
Gimana jadinya kalau Alvin masuk, bagaimana tanggapan Aqila dan Hafid melihat itu. Kepoin up selanjutnya ya gaes.
__ADS_1
🍂
Hai ketemu lagi, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Jaga kesehatan jangan lupa bahagia. Terima kasih 😘