
Tidak perlu takut kita menjadi seorang yang mandiri, karena sesungguhnya lebih baik kita hidup bertumpu pada kaki kita sendiri.
Betapa sakitnya ketika engkau mencintai seseorang, yang engkau sendiri pun tahu bahwa dia tidak akan pernah menjadi milikmu. Tapi perlu di garis bawahi. Orang-orang yang mencintaimu, tidak akan pernah meninggalkanmu, meskipun engkau menjadi duri yang ada di hadapannya.
🍂🍂🍂
Selamat membaca.
Pagi-pagi sekali Rita, Wisnu, Dicky dan kedua anak Reyhan itu segera bersiap-siap menuju rumah Ria. Sebelum itu mereka menghampiri Aisyah terlebih dahulu. Sesampainya di rumah Reyhan, Aqila dan Hafidz segera mencari keberadaan Hanna.
"Bi Asih, dimana mama Nana?" Tanya Aqila kepada asisten rumah tangga itu.
"Masih di kamar atas, Non." Bi Asih sambil menata makanan di atas meja makan.
"Aqila segera berlari mencari keberadaan Hanna. Dilihatnya kamar lama Ria, disana dia tidak menemukan apapun. Berjalan menengok ke kamar sebelah, di dengarnya Reyhan dan Hanna sedang berdebat.
" Sayang, sayang! Pikirkan lagi, apa mungkin aku bisa mempertahankan pernikahan ini dengan Ria." Reyhan memohon kepada Hanna agar dia mengizinkan dirinya untuk menalak Ria.
"Be, apa kamu tega menceraikan wanita yang sedang sakit seperti itu. Bagaimana kalau posisinya sekarang ditukar. Aku yang berada di posisi Mbak Ria. Apa kamu akan tetap melakukan hal yang sama. Pikirkan perasaannya, pikirkan mentalnya. Dia sudah begitu banyak mengalami musibah akhir-akhir ini. Aku nggak mau, hadirnya diriku bukan membuat dia bahagia, malah menjadi beban buat kalian semua." Hanna sambil sesenggukan.
"Lalu aku tetap mempertahankan dia?"
"Atau aku saja yang akan pergi. Semua ini terjadi karena aku yang berada di antara kalian. Mungkin dengan aku yang pergi semua akan baik-baik saja." Hanna sembari mendudukkan bokongnya di sofa.
"Nggak, kamu nggak boleh pergi," kekeh Reyhan.
Keduanya terdiam, Aqila yang mendengar merasa kasihan kepada Hanna. Dengan langkah pelan dia mulai masuk kedalam ruangan itu. Dilihatnya Hanna sedang duduk dan menunduk sesenggukan. Sementara Reyhan berada di sampingnya. Memijit pangkal hidungnya.
__ADS_1
"Ma, Pa." Aqila ikut menangis melihat keduanya. Reyhan dan Hanna terkejut dengan kedatangan Aqila, segera di peluknya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Hanna sembari mengusap hidungnya.
"Mama jangan pergi, Qila janji nggak akan nakal lagi. Qila sayang Mama." Aqila mengeratkan pelukannya.
"Iya, Sayang! Iya. Mama nggak akan pergi." Hanna tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Reyhan menoleh ke arah keduanya di peluknya kedua orang wanita yang iya sayangi itu.
"Papa sayang kalian, jangan pernah tinggalkan Papa," ucap Reyhan.
Beberapa menit telah berlalu kini Reyhan dan seluruh anggota keluarga beserta kedua orang tuanya berada di meja makan yang sama. Mereka menikmati sarapan di pagi hari itu.
"Ky, kapan rencana kalian nikah?" Tanya Reyhan di sela-sela makannya.
"Seminggu lagi, Rey. Itu aja uda mundur terlalu jauh," jawab Iky dongkol. Karena pernikahannya selalu di undur akibat permasalahan Rey yang tidak kunjung usai.
"Jadi nggak jadi, pokoknya minggu depan tetap gue nikahin Aisyah, iya nggak Sya." Dicky melirik ke arah pujaan hatinya. Aisyah hanya tersenyum mendengar ucapan Iky.
Seusai sarapan mereka semua berkumpul di ruang tengah, Ria juga ikut bergabung disana, dengan duduk di kursi roda sesekali dia ikut menimpali mereka yang sedang berbincang.
Hanna yang baru saja datang membawah napan dengan berisikan camilan dan minuman diatasnya. Dia segera menaruhnya di atas meja itu lalu beranjak dari sana, Reyhan segera menyuruhnya untuk ikut bergabung dengan mereka.
"Sayang, duduk dulu," ucap Reyhan.
"Bentar lagi, Be. Kasihan bi Asih sendirian," jawab Reyhan.
__ADS_1
"Sudah sayang, duduk saja," sahut Rita.
Akhirnya Hanna pun ikut duduk diantara mereka. Dengan segera Reyhan ingin memberitahukan keputusan yang telah dia ambil. Dengan penuh pertimbangan tentunya.
"Ma, Pa! Dan kalian semua yang ada di sini, Saya sudah mengambil keputusan tentang kelangsungan pernikahan antara aku, Ria, dan Hanna," terang Reyhan.
Hanna sudah was-was, dia takut kalau Reyhan benar menceraikan Ria. Dia sudah beranggapan kalau dirinya yang bersalah atas semua ini. Sementara Ria, dia juga tidak sabar lagi keputusan apa yang akan di ambil Reyhan.
"Apa keputusan kamu, Rey!" Wisnu menimpali.
"Aku memutuskan bahwa Ria akan tetap menjadi istri ku, ini semua atas permintaan Hanna. Kelak jika suatu saat Ria sudah bisa berjalan lagi, dan dia meminta cerai, maka aku juga akan menceraikan nya."
"Aku juga akan berusaha adil untuk keduanya," tegas Reyhan lagi. Semua orang yang mendengar keputusan Reyhan hanya cs aling berpandangan, tidak percaya akan keputusan Reyhan.
🍂
Pembaca yang bijak, jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Like
Komen
Vote
Rare
Gift
__ADS_1
Favorit
Terimakasih sudah berkenan membaca karya Asyfa, 😘