Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 23


__ADS_3

"Ma ...." Hanna memegang pelan tangan yang mulai keriput itu.


"Apa yang kamu katakan, Nak!" Rika menoleh berharap Hanna menjelaskan semuanya.


"Maafkan Hanna, Ma! Hanna tidak minta izin sama Mama. Karena pernikahan ini belum sah menurut hukum, Ma.


" Apa maksudmu?" tanya Rika.


"Hanna sama Mas Reyhan hanya menikah siri saja, Ma." Hanna sembari memegang kedua tangan Rika.


"Karena Reyhan masih belum resmi bercerai, Tante," Reyhan menimpali.


Rika semakin shok mendengar penuturan Reyhan. Anak gadis yang selama ini dia sayangi dengan tega menikah tanpa izin darinya. Sebenarnya yang menjadi permasalah bukan tentang dengan siapa dia menikah. Namun, kenapa Hanna tega menikah tanpa memberitahu dirinya.


"Mama kecewa sama kamu Hanna." Rika pergi meninggalkan ruang tamu itu.


Hanna sesenggukan, entah dengan cara apa lagi dia bisa menjelaskan semuanya kepada Rika. Ibunya yang keras kepala membuat Hanna bimbang. Akankah pernikahannya di tentang oleh sang ibu? Hanna semakin tersedu memikirkan nasibnya.


"Mas, bagaimana kalau mama tidak merestui pernikahan kita?"


"Sayang, sabar. Nanti Mas bantu bicara sama mama." Reyhan merangkul sang istri, berharap Hanna bisa lebih tenang.

__ADS_1


Sementara Rika yang berada di dalam kamarnya menangis sesenggukan. Pikirannya yang terlalu mendominasi membuat dia emosi. Ingin marah, namun semua sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Ingin memaafkan tapi hatinya berkata tidak.


"Apa yang harus aku lakukan Tuhan! Aku gagal mendidik anak ku menjadi orang baik-baik." Rika terus saja menagis.


Waktu telah menunjukkan pukul 19.30 malam, namun Rika belum juga keluar dari kamarnya. Hanna yang mulai gelisah memutuskan untuk mendatangi Rika. Dia mengetuk pintu itu, namun tidak ada jawaban dari dalam dan dicobanya membuka gagang pintu, ternyata tidak di kunci. Hanna melihat mamanya tertidur setelah menangis beberapa saat lalu. Dia mendekati sang mama yang tertidur.


"Ma, maafin Hanna, ini semua juga demi Mama. Hanna nggak mau Mama susah lagi. Sudah cukup penderitaan kita selama ini. Hanna hanya mau Mama bahagia." Hanna sambil berlinang air mata.


Rika yang ternyata tidak tidur, bisa mendengar semua apa yang di ucapkan Hanna. Demi membahagiakan dirinya dia rela melakukan ini semua, hal itu membuat Rika kembali meneteskan airmata. Bangun dan memeluk sang anak hanya itu yang bisa Rika lakukan.


"Maafin Mama, Nak! Maafin Mama," Rika terus saja meminta maaf.


Reyhan yang sejak tadi memperhatikan dari balik pintu yang terbuka itu, memutuskan untuk masuk ke kamar sang mertua. Perlahan dia mendekati Hanna yang sedang menangis bersama mamanya.


"Sudah lah semua sudah terjadi, Tante hanya minta jangan pernah sekali pun kamu menyakiti Hanna. Sebab, hingga sebesar ini pun Tante belum pernah membuat Hanna menangis. Sekali pun dia di besarkan tanpa kasih sayang seorang ayah, tapi dia tidak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun.


Reyhan mengangguk paham atas semua yang di ucapkan Rika. Ketiganya kini menikmati makan malam pertama di rumah Hanna.


"Ma, Hanna sama Mas Rey berencana untuk menetap di Surabaya. Kalau tidak keberatan Hanna ingin mengajak Mama untuk tinggal bersama kami," Hanna mengutarakan keinginannya mengajak sang mama pindah ke Surabaya.


"Bagaimana dengan rumah ini, Sayang. Mama terlalu sayang untuk meninggalkannya. Rumah ini peninggalan almarhum papa kamu, hanya tinggal rumah ini yang memiliki banyak kenangan bersamanya," terang Rika.

__ADS_1


"Kita bisa menyewakannya Ma. Jadi ada orang yang merawat rumah ini," terang Hanna.


Ketiganya pun makan malam bersama dengan diselingi obrolan-obrolan kecil. Sementara di kediaman Reyhan, Ria datang dengan marah-marah, karena tidak menemukan keberadaan Reyhan.


"Rey, Reyhan. Dimana kamu bersembunyi! Keluarlah kamu, aku ingin bicara kepadamu," Ria berteriak mencari Reyhan, dengan suara yang menggema diseluruh ruangan.


"Eh, punya sopan santun nggak sih kamu! Masuk rumah orang main nyelonong aja, emang kamu pikir rumah ku ini hutan!" Rita memperingatkan Ria.


"Eh, Mama, maaf. Ria pikir tidak ada orang," Ria dengan rasa tidak bersalah.


"Ma, Reyhan kemana sih? Di cariin papa, disuruh balik katanya." Ria sembari mendudukkan bokongnya di sofa.


"Reyhan sudah bahagia, kamu nggak perlu lagi mengusiknya," jelas Rita.


"Mana bisa bahagia tanpa uang dari papa, semuanya kan bergantung sama papa," ucap Ria.


"Emang kamu pikir Reyhan semiskin itu? tanpa kamu dan keluarga kamu Reyhan sudah kaya. Ingat baik-baik! Kalau bukan karena Reyhan perusahaan papamu juga sudah bangkrut," ucap nya menohok.


Ria terdiam, menelaah semua ucapan sang mertua. Sejak awal Reyhan memang sudah berkompeten dalam menjalankan perusaan, hanya saja karena hutang sang ayah yang waktu itu sangatlah banyak, membuatnya harus menikahi Ria.


Tanpa berpamitan Ria langsung pergi meninggalkan rumah itu, ntah kemana lagi tujuannya saat ini, Reyhan yang dia pikir berada dirumahnya justru tidak ada di tempat. Saat hendak meninggal rumah itu, tanpa sengaja mobilnya berpapasan dengan mobil milik Reyhan. Dengan segera dia menghentikan Mobilnya.

__ADS_1


"Rey ...," Ria mengurungkan niatnya untuk memanggil Reyhan saat mengetahui ada seorang perempuan muda turun dari mobil milik Reyhan.


"Siapa wanita itu?"


__ADS_2