Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 41


__ADS_3

Perjuangan yang sesungguhnya adalah bukan mampu untuk mendapatkan melainkan untuk mempertahankan.


🕊🕊🕊


** Habibie pernah berkata;


Masa lalu saya adalah milik saya, Masa lalu kamu adalah milik kamu. Tapi masa depan adalah milik kita. Kekurangan terhadap pasangan. Menjadi sesuatu yang membuat hubungan seharusnya saling melengkapi.


"Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu di ubah menjadi sebuah kelebihan kemudian mencintai."


"Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuat mu bahagia dan membuatmu lebih dari siapapun."


🍂🍂🍂


Selamat membaca,


"Papa!"


"Cepat katakan, siapa yang akan kamu habisi! Kalau sampai kamu membuat onar lagi, jangan harap kamu menerima se sen pun dari harta Papa, bahkan kau pun akan papa coret dari kartu keluarga."


Belum juga Ria menjawab, Bram sudah terjatuh ke lantai, serangan jantung yang dulu pernah menyerangnya kini datang menyerang lagi.


"Papa... " Ria histeris. Berteriak minta tolong, berlari mencari keberadaan supir pribadinya. Kedua orang yang sedang asik ngobrol itu langsung berlari mendengar teriakan Ria.


"Astaghfirullah, Tuan. Ayo non, buruan kita bawah ke rumah sakit," ajak sang supir.


Sesampainya di rumah sakit Bram langsung ditangani oleh dokter." Maaf, Bu. Silahkan ada tunggu disini, biar kami bisa fokus menangani pasien," ucap seorang suster kepada Ria yang sedang meronta ingin ikut masuk kedalam.


"Maafkan aku, Pa. Maafkan aku." Ria sambil terus menangis.


"Non, apa sebaiknya kita memberitahu pak Reyhan," ucap pak Edi supir pribadi keluarga Bram.


Sejenak Ria tidak menjawab, namun beberapa saat kemudian," kasih tau saja," jawab Ria dengan lesu.


Reyhan yang sejak tadi membahas tentang acara lamaran Dicky dan Aisyah, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

__ADS_1


"Pak Edi! Apa lagi ini," selorohnya dalam hati.


"Assalamu'alaikum, iya Pak Edi ada yang bisa saya bantu," sapanya di ujung telpon.


"Maaf tuan, saya hanya mau ngasih kabar, pak Bram sedang dilarikan kerumah sakit. Kata dokter terkena serangan jantung."


"Astaghfirullah, baik Pak, terima kasih informasi nya, saya akan segera kesana," Reyhan mengakhiri panggilannya.


"Ada apa, Be?" tanya Hanna.


"Pak Bram terkena serangan jantung, sekarang dia di bawah kerumah sakit," jelas Reyhan.


"Ya sudah, Be. Ayo kita segera kesana, kasihan mbak Ria. Dia pasti sedih.


Setelah berpamitan kepada Dicky dan sang mama Reyhan dan Hanna segera pergi menuju rumah sakit. Beberapa waktu kemudian, sampailah keduanya di depan ruangan VVIP di rumah sakit itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Reyhan ketika melihat Ria dan pak Edi sedang duduk di depan ruangan menanti kabar dari dokter.


Tanpa menjawab salam Reyhan wanita itu langsung berdiri dan menghampiri Reyhan, yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.


Sementara Hanna hanya memandangi keduanya dengan istighfar. Dia harus lebih banyak bersabar menghadapi kelakuan Ria. Tangannya selalu bergelayut manja di lengan Reyhan. Reyhan berusaha melepaskan tautan tangan itu. Dia tau Hanna pasti akan sedih dan kecewa melihat hal itu. Hamun Reyhan juga tidak mau membuat kegaduhan di rumah sakit.


"Ria, Lepas!" Reyhan sekali lagi melepaskan tangan itu, sejenak dia melihat ke arah Hanna. Dia hanya duduk dengan wajah menunduk tangannya meremas ujung hijab yang sedang di pakainya.


"Maafkan aku, Sayang!" Ucap Reyhan dalam hati.


"Maaf dengan keluarga bapak Bramantyo," ucap dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Iya, Dok! Saya anaknya." Ria dengan penuh semangat.


"Maaf, Bu! Saya harus memberikan kabar yang kurang baik ini kepada Anda dan keluarga.


" Dok kenapa papa, Dok! Dia baik-baik saja kan, dia pasti sembuh kan,Dok!" cerocos Ria.


"Saya tidak bisa memastikan apa-apa, semoga saja keajaiban Tuhan akan segera datang menghampiri bapak Bramantyo. Sekarang beliau keadaannya kritis. Berdoa saja semoga kondisinya segera stabil dan segera siuman." Terang sang dokternya sebelum akhirnya pergi dari hadapan mereka semua.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.45 Wib. Reyhan yang sedari tadi duduk disebelah Ria kini berdiri menghampiri Hanna.


"Sayang, maafkan aku." Reyhan memegang kedua tangan mungil itu.


"Sudah, Be. Nggak papa kok, lagian mbak Ria memang sedang membutuhkan kamu." Hanna sambil tersenyum.


"Sudah malam, ayo kita pulang. Besok kita bisa kembali lagi kesini.


" Kamu jangan pulang, Be. Kasihan mbak Ria, tidak ada yang temenin, biar aku pesan taksi online saja ya." Hanna dengan tersenyum.


"Jangan! Sudah malam juga, kamu nggak takut sendirian naik taksi malam-malam, sudah aku antar nanti aku balik kesini lagi," Reyhan dengan penuh penekanan.


"Biar saya saja yang ngantar, Den," sahut pak Edi.


"Iya, Be. Biar aku diantar sama supir saja."


"Ya sudah, hati-hati." Rey mengecup kening Hanna. Ria yang melihat perlakuan Reyhan kepada Hanna membuat dirinya terbakar api cemburu.


"Awas kamu ya, sudah berani mengambil hati Reyhan. Aku tidak akan pernah sekalipun maafkan kamu, dasar wanita ******." Seloroh Ria sembari terus melihat kearah Reyhan.


🍂🍂🍂


Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya!


Like


Komen


Gift


Vote


Rate


Favorit.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa, jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘


__ADS_2