Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 58


__ADS_3

"Bi, dimana mbak Ria. Kok di kamarnya tidak ada?" Tanya Hanna.


"Bukannya sama si Riska, Non," ucap Bi Asih.


Hanna pun mencari keberadaan Riska. Di panggilannya nama Ria da Riska namun tidak ada yang menjawab. Hanna berlari hingga halaman, namun Ria tak kunjung ditemukan.


"Ma, dari mana. Kok Mama ngos-ngosan?" Tanya Hafidz.


"Cari mama Ria, Sayang! Kamu melihatnya?" Tanya Hanna.


"Nggak! Cuma kemarin mama Ria mau di kasih jus yang ada obatnya sama Mbak Riska," ucapnya lugu.


"Obat! Coba Hafid cerita sama Mama." Hanna mengajak Hafidz untuk duduk di kursi dekat taman.


Hafidz pun menceritakan semua yang kemarin di lihatnya, mulai dari Riska mengambil jus di dapur hingga Hafidz membuang jus itu ke halaman. Hanna sedikit tidak percaya. Namun, melihat keseriusan Hafidz bercerita membuatnya berpikir.


"Anak kecil, masih lugu tidak mungkin dia berbohong," selorohnya dalam hati.


"Tadi Hafidz lihat mama Ria di bawah keluar sama mbak Riska. Tapi, nggak tau pergi kemana," terang Hafidz.


"Ya sudah, kalau begitu Mama cari mama Ria dulu ya. Kasihan mama Ria, takut kalau dia dalam bahaya." Hanna berdiri dari duduknya dan segera mencari ponselnya yang tertinggal beserta tas jinjingnya di meja ruang tengah itu.


Hanna segera menghubungi Reyhan, memberitahu hilangnya Ria pagi ini, namun dia merasa lega, ternyata Ria hanya pergi ke kantor. Dan itu pun membuat Reyhan bertanya-tanya.


"Ya sudah, Be. Nanti kita bicarakan di rumah saja. Nggak enak ngomong di telpon." Pinta Hanna sebelum akhirnya mematikan panggilan telponnya.


*


*


*


Pagi tadi Reyhan dengan buru-buru turun dari mobilnya, dia takut terlambat karena jam sudah menunjukkan pukul 08.30 wib. Hari ini ada rapat penting di perusahaan milik mendiang ayah Ria. Dan semuanya di hibahkan atas nama Reyhan.


Reyhan berjalan menuju lift, sesampainya disana dia sedikit terkejut. Ria ternyata sudah ada di depan lift bersama dengan Riska.

__ADS_1


"Mas Rey, sudah sampai juga!" Sapanya pada Reyhan.


"Iya, baru saja," jawab Reyhan.


Mereka bertiga masuk kedalam lift yang sama, namun tidak ada pembicaraan apapun disana.


"Ting!"


Notifikasi ponsel Riska berbunyi. Merasa masih menunggu lama pintu lift terbuka, Riska segera melihat ponselnya.


"Cekrek ...,"


Baru saja dia mengambil gambar Ria dan Reyhan yang berada di depannya. Sambil tersenyum dia mengirim foto itu kepada seseorang di seberang sana.


"Ris, ayo!" Ajak Ria.


Reyhan berjalan di depan yang kemudian di ikuti Ria dengan Riska yang mendorong kursi rodanya.


"Kemana kita, Non?" tanyanya pada Ria.


Riska pun mengikuti kemana Reyhan berjalan, begitu pintu terbuka Reyhan menyuruh Dita menyiapkan tempat untuk Riska duduk, karena Reyhan tidak mau kalau ada orang asing masuk ke dalam ruangannya.


"Ta, kasih dia tempat duduk," Perintahnya kepada Dita.


"Iya, Pak!" Dita sambil berjalan mengambil tempat duduk di pojok ruangan. Ruangan Dita ada di depan ruangan Reyhan, hanya berbatas tembok saja. Reyhan tidak suka kebisingan, hingga akhirnya menempatkan sekretarisnya di depan ruangannya.


"Tapi, Mas!" sela Ria.


"Sudah, nggak usah pakai tapi." Reyhan memasuki ruangan tanpa mendorong kursi roda Ria.


"Ayo, Ris! Antara aku kedalam," Pinta nya pada Riska.


Riska pun mendorong kursi roda yang ditempati Ria, namun dalam hati dia mengumpat, karena apa yang dia inginkan tidak bisa tercapai. Riska sebenarnya ingin masuk kedalam ruangan Reyhan untuk memastikan dimana dokumen-dokumen penting milik perusahaan itu tersimpan. Namun semua gagal karena Reyhan tidak mengizinkan sembarangan orang masuk kedalam ruangannya itu.


"Brengsek! Nggak boleh masuk, lagi. Tunggu saja, sebentar lagi semua pasti tunduk kepada ku. Semuanya akan menjadi milik ku dan Alvin seutuhnya," ujar Riska dalam hati.

__ADS_1


"Tugas mu sudah selesai, silahkan keluar dari ruangan saya," perintah Reyhan.


Riska pun akhirnya keluar dari ruangan itu, dia menuju kursi yang telah disediakan oleh Dita sekretaris Reyhan yang baru.


"Silahkan, Mbak!" Dita menunjukkan kursi untuk Riska tempati.


"Terima kasih." Riska sembari mendudukkan bokongnya di kursi.


Sementara di dalam ruangan itu, Reyhan sibuk membuka beberapa file yang sebentar lagi akan di jadikan topik meeting. Setelah semua selesai diperiksa, Reyhan segera menghubungi Dita.


"Ta! Apa semua peserta meeting sudah hadir?" Tanyanya pada Dita.


"Sudah, Pak! Tinggal nunggu Bapak saja," jawab Dita.


Reyhan pun bergegas pergi keluar dari ruangannya, tidak lupa dia mendorong kursi roda sang istri ke ruangan meeting.


"Sudah, Mas! Biar Riska saja yang dorong," ujar Ria.


Sesampainya di ruangan meeting, seluruh kepala devisi sudah berkumpul di sana, termasuk pengacara Bram. Yang hari ini di jadwalkan akan membacakan isi surat wasiat tentang kepemilikan perusahaan peninggalan Bram.


"Selamat siang Pak Reyhan!" Sapa pengacara itu.


"Siang, Pak Hufron." Reyhan sambil menjabat tangan pengacara itu.


Setelah sekian menit berlalu akhirnya pengacara itu pun membacakan isi surat wasiat yang di tulis dengan tangan oleh Bram sendiri semasa hidupnya.


🍂


Tunggu ya gaess wasiatnya masih di eja, jadi belum bisa di baca secara baik dan benar. Sambil nunggu di baca, yuk baca karya sohib Syfa, Neng Syantik. Jangan lupa ditunggu jejaknya ya gaesss.


Like, Komen, Gift, Vote, Rate, favorit.


Dendam (aku bukan bayangan)


karya Neng syantiek.

__ADS_1



__ADS_2