
Hidup itu akan terus berlanjut, baik ketika kamu tertawa maupun menangis. Maka jangan engkau bawah dirimu pada kegundahan yang engkau tidak bisa mengambil manfaat darinya. Ingatlah bahwa kegundahan itu tidak bisa mencegah rasa sakit di esok hari, tetapi dia mencuri kesenangan hari ini.
Percayalah ...," tak perlu menjerit karena rasa sakit. Tak perlu cemburu hanya karena kau tak mampu. Tahukah kamu? Bahwa kebahagiaan itu tidak akan pernah tertukar. Meski hidup di hadapkan pada pilihan yang sulit, tapi percayalah bawa Tuhan selalu mempunyai cara tersendiri untuk membuatmu bahagia.
🍂🍂🍂
Selamat membaca.
Alvin dan Riska telah di gelandang ke kantor polisi, namun Ria masih saja histeris, dia teringat akan kejadian-kejadian di masa lalu yang membuatnya tersiksa akibat perlakuan Alvin.
"Mbak, sudah Mbak! Mereka sudah di bawah petugas yang berwajib. Mbak sudah Aman." Hanna merangkul Ria yang terus sesenggukan.
"Mbak takut, Na." Ria terus terisak.
"Sudah, Mbak istirahat." Hanna membantu Ria untuk berbaring. Hanna ikut merebahkan diri di samping Ria.
*
Sementara di tempat lain, Dicky dan Aisyah yang sedang menikmati menjadi pasangan pengantin baru sama-sama kikuk menghadapi pasangannya.
"Mas, Aisyah ganti baju dulu ya," pamitnya pada Iky.
"I-iya, silahkan," jawab Iky dengan terbata.
Aisyah dengan segera membersihkan wajahnya dari make up yang sejak tadi menempel disana. Setelah itu dia berusaha membuka resleting gaun pengantinnya, dan naas hingga beberapa waktu tetap saja dia tidak bisa membukanya. Sehingga membuat dia berlama-lama di dalam sana. Dicky yang mulai cemas karena sang istri tidak kunjung keluar dari kamar mandi membuat dirinya memutuskan untuk memanggil Aisyah.
"Sya! Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya dari luar kamar mandi.
"I-iya, Mas. Ini masih belum bisa di buka," jawab Aisyah.
"Buka, buka apaan?" tanya Dicky dalam hati.
"Mau di bantuin? Dicky menawarkan diri.
Sejenak Aisyah berpikir dan langsung menjawab.
__ADS_1
" Bo-boleh, Mas. Masuk saja," ucap Aisyah terbata.
Dicky pun masuk dan segera membantu Aisyah membuka resleting gaunnya itu. Perlahan Dicky membuka tangannya dengan sedikit bergetar, jakunnya naik turun melihat kulit punggung yang mulus tanpa celah itu. Membuat Dicky semakin salah tingkah di buatnya.
"Mas, kok diam. Apa ada yang salah?" tanya Aisyah.
"Nggak, Syah." Dicky dengan sedikit menunduk.
Seusai membantu Aisyah Dicky pun keluar duduk di sofa dekat ranjang tidurnya. Sambil sesekali teringat bayangan punggung putih mulus nan bersih itu. Sehingga membuat isi kepalanya trepeling kemana-mana.
"Mas, Mas! Panggil Aisyah hingga ketiga kalinya baru di respon oleh Dicky.
" Eh, i-iya Sya, ada apa!" jawab Dicky.
"Sudah, sana! Bersih-bersih dulu," suruh Aisyah.
Seusai membersihkan diri. Aisyah memberikan secangkir kopi panas untuk Dicky, serta susu hangat untuk dirinya. Disodorkan koli itu, di nikmati sedikit demi sedikit hingga tandas oleh Dicky. Begitupun Aisyah, dia menghabiskan segelas susu hangat itu. Beberapa saat kemudian, Dicky merasa ada yang aneh dalam dirinya.
"Mas, kenapa? tanya Aisyah.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Aisyah lagi.
"Kamu tadi bikin kopi ambil dimana?" Tanya Dicky.
"Di paper bag, di sebelah dispenser itu." Tunjuk Aisyah.
"Waduh, gawat!" Dicky menepuk jidatnya.
"Gawat, gawat kenapa, Mas?" Tanya Aisyah lagi.
"Itu kopi penambah stamina pria dewasa, Sya. Yang kemarin di kasih Reyhan."
"Terus itu bagaimana?" Tanya Aisyah lagi.
"Ya harus tersalurkan, Sya. Atau aku main solo aja di temani sabun di kamar mandi," Jawab Dicky sembari bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Mas! Kenapa harus main solo, kan ...," Aisyah menjeda ucapannya.
Kembali Dicky menatap sang istri, ada rasa dimana dia menginginkan malam ini Aisyah benar-benar mau melayaninya. Tapi, sulit untuk mengatakan pada Aisyah.
Aisyah duduk di sebelah Dicky, dengan sedikit ragu dia memantapkan diri untuk melayani sang suami malam ini, walaupun ada rasa malu yang lebih mendominasi.
"Mas, Aisyah siap menjadi istri yang sebenarnya, buat mas Dicky." Aisyah sembari menundukkan kepala dalam-dalam.
Tanpa berpikir panjang, Dicky langsung memeluk tubuh Aisyah yang sejenak menjadi dingin dan menegang itu. Baru pertama kali di sentuh oleh yang namanya mahluk laki-laki, sehingga membuat dirinya menjadi gugup dan tegang. Sebenarnya Dicky pun sama, Sama-sama anti pegang-pegang sebelum halal.
Ntah kenapa rasa bahagia yang baru saja dia dengar membuatnya langsung memeluk Aisyah.
"Maaf, Sya.
" Kenapa harus minta maaf, semua sudah menjadi milik mu, Mas. Apapun yang akan kamu lakukan aku akan terima. Asal, kamu tidak menyakiti ku." Aisyah sembari tersenyum.
"Jadi ...," Dicky menjeda ucapnya.
"Iya, aku siap, Mas!" Jawab Aisyah malu-malu.
Dicky kembali memeluk tubuh sang istri, tanpa dia sadari Aisyah merasakan ada sesuatu yang benar-benar mengeras. Keduanya pun larut dalam kenikmatan dunia itu hingga beberapa kali keduanya melakukan pelepasan yang benar-bener membuat keduanya bahagia.
🍂
Ah, maaf kembali telat up, sibuk luar biasa gaeess. Sambil menunggu up selanjutnya, baca karya teman Syfa juga ya. TRIPLE. 1 di tunggu jejaknya ya gaesss jangan lupa Like, komen, gift, vote, rate, juga fav.
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya.
Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun kelima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack.
Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun, Zack telah memiliki keluarga kecil.
Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?
__ADS_1