
"Jika hadirku memang tidak kau hendaki, maka aku akan siap untuk pergi. Jika aku hanya sebagai beban di hidupmu. Maka lepaskanlah aku. Terima kasih, pernah singgah di hati walau akhirnya tetap tersakiti."
🍂🍂🍂
Selamat membaca.
Reyhan terus mencari keberadaan Hanna, pencarian terakhir dia fokuskan untuk mendatangi rumah mertuanya. Sesampainya disana dia langsung masuk kedalam rumah minimalis itu, dilihatnya Hanna sedang tertidur dengan kepala dipangkuan sang mama.
Reyhan mengucapkan salam, hingga membuat sang mama terlonjak kaget dibuatnya.
"Maaf, Ma! Mengagetkan." Reyhan sembari berjalan mendekati sang istri yang sedang tertidur.
"Biar Rey gantikan, Ma. Reyhan beralih menggantikan posisi duduk sang Mama mertuanya itu.
" Terima kasih ya, Rey. Mama ke dalam dulu," Pamit Rika kepada Reyhan.
Reyhan memandangi wajah cantik itu, sesekali dia merasa bersalah karena sudah memperistrinya. Mungkin memang sudah digariskan oleh Tuhan, Hanna menjadi istri kedua Reyhan. Namun sampai detik ini Reyhan masih berharap Ria mau menandatangani surat perceraian itu. Karena Reyhan juga hanya ingin Hanna menjadi satu-satunya wanita di dalam hidupnya.
"Maafkan aku, Na. Telah membuat begitu banyak kesalahan kepadamu, belum bisa membuatmu bahagia, belum bisa membuatmu menjadi ratu ku seutuhnya." Reyhan membelai kepala berhijab itu.
Lelah kepala Hanna berada di pangkuan Reyhan, dia segera mengubah posisinya tidur, namun betapa terkejutnya Hanna saat melihat Reyhan yang memangku kepalanya, bukan sang mama.
"Be, Hanna segera bangun. Kenapa kamu disini? Bagaimana dengan mbak Ria, pasti dia mencarimu." Hanna sembari membenarkan hijabnya.
"Sudah jangan bahas dia lagi. Aku akan mengambil ketegasan kepada dia. Aku sudah lelah selalu dipermainkan olehnya," Reyhan mulai emosi.
__ADS_1
.
Sementara Ria yang berada di rumah sakit sedang diperiksa oleh dokter. Dokter memutuskan keadaan Ria sudah membaik, namun kakinya memang sudah tidak bisa berfungsi lagi. Dan hari ini Ria sudah diperbolehkan untuk pulang.
Pak Edi sang supir Ria segera menghubungi Reyhan, memberitahu kabar berita kepulangan Ria.
"Assalamu'alaikum, Tuan! Nyonya Ria sudah diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini," terang bang Edi tanpa basa basi.
"Waalaikumsalam, ok Pak, saya akan segera kesana mengurus administrasinya," jawab Reyhan.
Reyhan dan Hanna segera bergegas kembali ke rumah sakit, awalnya Hanna menolak untuk kembali. Namun Reyhan tidak pantang menyerah membujuk Hanna untuk ikut bersamanya. Sesampainya di rumah sakit, Reyhan segera mendatangi tempat pembayaran. Dengan segera dia membayar biaya rumah sakit Ria. Reyhan yang datang dengan menggandeng tangan Hanna membuat Ria semakin emosi di buatnya.
"Mas, Rey. Kenapa masih datang dengan dia." Ria menunjuk kearah Hanna.
"Aku juga istri kamu, Mas! "
"Iya, sebentar lagi akan jadi mantan!"
"Sampai kapanpun aku tidak akan mau kamu ceraikan, Mas."
"Kalau kamu tidak mau aku ceraikan, terimah Hanna sebagai madumu."
Reyhan dan Ria menghentikan perdebatan nya ketika sang suster datang untuk melepas selang infus yang menempel di tangan kiri nya. Sementara Hanna membereskan barang-barang Ria yang tersimpan di nakas rumah sakit. Tidak lama kemudian mereka pulang, sesampainya di rumah, sudah ada bi Asih yang menyambut kedatangan mereka. Kamar Ria tidak lagi diatas, dia ditempatkan di kamar bawah agar memudahkan Ria yang menggunakan kursi roda.
"Lho kenapa aku di kamar bawah, kamarku kan di atas?" Tanya Ria.
__ADS_1
"Memang kamu bisa, naik turun tangga dengan kursi roda," ucap Reyhan membuat Ria sedikit shock.
Ria melupakan bahwa dirinya tidak bisa berjalan, lagi-lagi dia menyalahkan Hanna. Itu membuat Reyhan kembali emosi di buatnya.
"Ria, cukup kamu menyalakan Hanna, apa mau kamu di laporkan polisi, kalau bukan karena maaf dia, kamu sudah dipenjara," ucap Reyhan.
"Sudah, Be. Hanna menengahi. Sembari mengelus punggung Reyhan.
Ria terdiam pasrah, memang benar ucapan Reyhan, dia sudah berusaha menghabisi Hanna beberapa waktu lalu. Pikiran Ria berkecamuk tidak karuan dia meminta di pindahkan ke tempat tidur. Hanna dan Reyhan membantunya, setelah itu keduanya keluar dari kamar baru Ria.
"Ayo sayang, kita istirahat dulu di kamar atas." Reyhan menggandeng tangan Ria. Keduanya menuju kamar Reyhan yang dulu. Ria dan Reyhan selalu tidur di ruangan yang berbeda, meraka hanya akan tidur di ruangan yang sama ketika sang papa menginap saja, itupun Ria tidur di ranjang, sementara Reyhan tidur di sofa.
"Be, ini kamar kamu dengan Mbak Ria?" Tanya Hanna.
Reyhan tersenyum sudah bisa memastikan bahwa sang istri cantiknya sedang cemburu.
"Bukan, ini kamar ku saja, Ria di sebelah. Kita tidak pernah sekamar kecuali kalau papa datang, " jelas Reyhan.
"Oh!
" Aku mandi dulu, ya. Kamu bisa istirahat." Reyhan sembari melangkah ke kamar mandi yang berada di pojok kamar.
Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, Komen, Gift, Vote, Rate, dan Favorit.
Terima kasih, jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘.
__ADS_1