Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 68


__ADS_3

"Iya, Dek. Kenapa?" Aqila sembari menoleh ke arah Hafidz.


"Kak Qila habis nangis, ya?" Tanya Hafidz.


Aqila tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul ke adiknya. Tidak lama kemudian, Aqila teringat kalau bang Edi sang supir sudah lama mengabdi di keluarga Opanya, yaitu Bram.


"Bang, Qila boleh tanya sesuatu?" Tanya Qila kepada Edi supirnya.


"Mau tanya apa, Non?" Edi bertanya balik.


"Abang sudah lama kan bekerja dengan almarhum opa Bram!" Ucap Qila.


"Iya, sejak abang masih bujang, Non. Waktu itu abang masih berusia dua puluh empat tahun. Dan belum menikah." Jelas Edi sembari fokus mengemudi mobilnya.


"Terus, Bang! Mama Ria berapa kali menikah?" Tanya Aqila lagi.


"Sekali saja, Non," sahut Edi.


"Benar, Bang! cuma sekali saja," ujar Qila lagi.


"Iya, cuma sama pak bos Reyhan saja. Tidak ada yang lain," jawab Edi lagi.


"Terus aku sama Hafidz anaknya siapa, Bang! Anak pungut kah? Atau mengadopsi dari Panti Asuhan," tanya Qila.


"Non Qila sama aden itu anaknya Tuan Alvin," ujar Edi.


"Apa!" Teriak keduanya bersamaan.


"Yang pacarnya mbak Riska itu?" Tanya Aqila.


"Orang jahat itu?" Hafidz menimpali

__ADS_1


"Waduh, gawat keceplosan," batin Edi.


"Eh-eh maksud saya Tuan Reyhan, Non. Bukan yang lain," ucap Edi terbata.


"Sudah, nggak usah bohong, Bang. Bilang saja yang sebenarnya. Qila sudah tau kok, Bang. Kalau Qila sama Hafidz bukan anak kandung papa Reyhan." Aqila sembari menoleh, menyembunyikan air mata yang hendak menetes.


"Jadi, Non Qila sudah tau semuanya?" Tanya Edi.


"Belum semuanya, Bang. Hanya sebagian saja," jawab Qila.


"Kak, kakak tau dari mana semua ini? Tanya Hafidz.


" Nggak sengaja dengar omongan Oma Rita," jawab Aqila.


Tidak terasa keduanya telah sampai di sekolah dimana mereka menuntut ilmu, Aqila yang lebih tua dua tahun dari Hafidz kini telah memasuki kelas sembilan, sementara Hafidz baru kelas tujuan sekolah menengah pertama.


"Bang, jangan lupa. Masih hutang penjelasan sama Qila." Qila sembari menutup pintu mobil itu.


Sementara Hanna juga tidak kalah paniknya, setelah kedatangan Aqila pagi tadi membuat Hanna kelabakan. Dia segera menghubungi Reyhan. Menyuruhnya untuk segera datang ke rumah sakit.


"Be, kamu lagi dimana?" Tanya Hanna dalam panggilan telpon.


"Masih di kantor, ada apa sayang. Tumben sekali kamu menanyakan itu?" Tanya Reyhan.


"Kamu cepet ke rumah sakit, ya. Ada yang perlu Hanna bahas sama kamu, Be," pintar Hanna.


"Iya, sebentar lagi aku kesana," ucap Reyhan mengakhiri panggilannya.


Beberapa saat kemudian sampailah Reyhan di rumah sakit. Dengan segera dia menuju ke ruang rawat Ria. Dilihatnya Hanna sedang tertidur di samping berankar Ria, dengan lengan sebagai alas kepalanya.


Reyhan mendekati kedua istrinya itu, dilihatnya Ria, kemudian berganti melihat Hanna. Di elus nya kepala berbalut hijab toska itu, ada rasa iba di lubuk hatinya. Mengingat pernikahannya dengan Hanna selama ini lebih banyak di habiskan untuk merawat Ria.

__ADS_1


Hanna yang merasakan sentuhan di kepalanya sontak saja terbangun. Dilihatnya Ria, kemudian berganti ke arah Reyhan yang berdiri di sampingnya.


"Mas Rey sudah datang!" Ucapnya lirih.


Reyhan mengangguk, dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Bagaimana keadaan Ria?" Tanya Reyhan.


"Masih sama, Mas," jawab Hanna sendu.


Hanna berdiri kemudian mengajak Reyhan untuk duduk di sofa, keduanya duduk bersebelahan. Dengan hati-hati Hanna memberitahu tentang Aqila tadi pagi.


"Apa!" Ucap Reyhan kaget.


"Iya, Aqila menanyakan siapa ayah kandungnya," jelas Hanna.


"Lalu, kamu jawab apa!" ujar Reyhan.


"Ya aku bilang, siapapun ayah kandung mu, kami tetap menyayangi kalian, dan aku bilang nunggu penjelasan dari kamu, Be," jelas Hanna.


"Ya sudah! Biar nanti aku yang menjelaskan semuanya kepada mereka." Reyhan sembari memegang kedua tangan Hanna.


Sementara diatas berankar, Ria meneteskan air mata. Walaupun tubuhnya tidak bisa bergerak mungkin pendengarnya masih berjalan dengan normal. Hanna yang melihat napas Ria memburu seketika langsung beranjak dari duduknya.


"Be, Mbak Ria, Be!" Hanna berlari menuju berankar Ria.


😫


Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, sambil nunggu respon dari Ria yuk kepoin karya temen Syfa yang satu ini di jamin nggak kalah serunya. Karya Rahayu Ningtyas Bunga Kinanti. Jangan lupa jejaknya ya, Like, komen, gift, rate, vote juga favorit ya.


__ADS_1


__ADS_2