
Sementara Ria yang berada di rumah sakit sendirian mencari ide, apa yang harus dia lakukan setelah Hanna berhasil di culik. Banyak hal gila yang melintas di benaknya. Salah satu dengan menghabisi Hanna, namun otaknya masih sedikit waras, akan banyak resiko yang dia hadapi setelah berhasil menghabisi wanita berhijab itu.
" ****...!" Umpatnya.
"Gue akan bikin perhitungan sama si Reyhan, mau tidak mau dia harus mau dengan apa yang gue putuskan." Ria kembali duduk di sofa ruang tunggu pasien kelas VVIP rumah sakit itu.
Waktu telah menunjukkan pukul 03.30 pagi, Reyhan dan pak Edi masih mencari keberadaan wanita cantik itu." Pak, dimana lagi kita mencari keberadaan Hanna?" Tanyanya pada supir itu.
Tidak lama kemudian, dering ponsel Reyhan berbunyi, membuyarkan lamunannya yang sejak tadi hanya memikirkan tentang Hanna.
"Iya, ada apa," ucapnya ketus.
"Aku nggak ada temennya, Mas. Kamu kok nggak balik-balik sih, mulai tadi. Tega kamu ya sama aku, mentang-mentang sudah punya istri baru, aku kau abaikan," Cerocos Ria tanpa henti.
"Sudah ngomongnya!" ucap Reyhan. Seketika Ria langsung terdiam. Mendengar Ria tidak lagi berucap barulah Reyhan memulai untuk bicara.
"Dengar ya Ria, untuk saat ini maaf, aku tidak bisa lagi menemani kamu. Bukannya surat cerai itu sudah tiba di tangan kamu! Berarti tidak ada lagi hubungan diantara kita," ucap Reyhan tegas.
"Tapi, aku tidak menandatangani surat cerai itu, dan aku juga tidak mau bercerai dengan kamu, sampai kapanpun aku tidak akan mau, Mas! "ucap Ria emosi.
" Terserah! Dan gara-gara kerumah sakit, Hanna di culik, sebelum Hanna ditemukan jangan harap aku akan datang ke rumah sakit," tegas Reyhan.
Tanpa menjawab omongan Reyhan, Ria langsung menutup panggilannya." Ya, gue dapat ide, dan kamu bakalan memohon sama aku, buat balikan, Rey." Ria tersenyum jahat.
Kemudian Ria menghubungi anak buahnya, untuk meminta alamat dimana Hanna disekap.
"Iya, Bos!" Sahut penculik itu di ujung telpon.
"Kirim alamat dimana kalian menyekap itu perempuan! Gue mau ke sana.
__ADS_1
" Siap! Bos.
Mendengar ada orang bicara, namun tidak bisa membuka mata, bahkan kaki dan tangannya terasa amat pegal dan susah untuk bergerak membuat Hanna mengingat-ingat kejadian yang dia alami.
"Oh Tuhan, bukannya aku berada di rumah sakit. Siapa orang yang tega melakukan ini kepadaku?" Tanya Hanna dalam hati. Hanna kembali memasang telinga, mencoba mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh orang-orang disekitarnya.
"Gila tu bos, rencananya berubah-ubah mulu. Kemarin suruh habisin ini perempuan, sekarang nggak boleh, malah mau datang kesini lagi. Apa sih maunya tuh perempuan."
"Sudah jangan ngomongin dia, bentar lagi pasti datang tuh perempuan," sahut yang lain.
"Siapa yang mau membunuh ku, aku tidak pernah memiliki musuh, Mas Reyhan tolong Hanna, Mas. Hanna masih mau membahagiakan orang-orang yang Hanna sayangi." Hanna menangis dalam hati.
.
Gerimis yang melanda ibukota pagi ini seakan tau, ada sepasang manusia sedang memperjuangkan masa depannya. Reyhan begitu gusar setelah subuh tadi mendapatkan panggilan vidio dari Ria.
Seketika wajah tampan itu menjadi tegang, manik yang hitam kecoklatan itu menjadi memerah, melihat orang yang di cintainya sedang menjadi taruhan masa depannya.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan dia," ucapnya dengan tegas.
"Sabar dong, sayang! Jangan buru-buru, aku ada penawaran bagus buat kamu, jika kamu setuju aku akan melepaskan dia. Tapi, jika tidak makan dia akan pulang tinggal nama saja." Ria sambil mengarahkan belatih kearah leher Ria.
"Apa mau mu!"
"Aku hanya mau kamu kembali kepadaku lagi, dan menjadi suamiku lagi, hanya itu saja, mudah bukan." Ria sambil terus memainkan belatih itu di wajah Hanna. Sedikit saja ada pergerakan dari sang pemilik wajah, maka belati akan menggores kulit wajah yang cantik itu.
Sementara Hanna yang merasakan ada sesuatu yang menempel di wajahnya tiba-tiba mendengar suara Ria, mau bersuara pun Hanna tidak bisa, sebab mulutnya di sumpah menggunakan kain.
Terus saja Hanna mendengar percakapan itu, dan dapat dia ketahui bahwa dalang dari pelaku penculikan dirinya tidak lain dan tidak bukan adalah Ria. Istri pertama suaminya.
__ADS_1
"Ayo sayang, apa keputusan mu. Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan!" Ria dengan menggebu-gebu.
"Andai aku bisa memberikan pendapat, pasti aku akan membujuk mas Reyhan untuk tetap memperistri kamu, Mbak. Tapi apalah dayaku bahkan mas Reyhan juga menolak, dia tetap kekeh dengan keputusan nya, menceraikan mu, Mbak. Maaf, maafkan aku yang berada diantara kalian," tukas Hanna dalam hati.
"Aku akan bicara dulu dengan Hanna, lepaskan dia. Aku akan mempertimbangkannya." Reyhan terlihat gusar.
"Aku tunggu sampai jam sembilan pagi, aku tunggu keputusan kamu, dan ingat jika kamu menolak maka istri kesayangan kamu yang akan menjadi taruhannya." Ria tertawa sembari menutup panggilan vidionya.
🐰
Apakah keputusan yang akan di ambil Reyhan, akankah dia kembali lagi memperistri Ria, atau meninggalkan Hanna istri keduanya? Tunggu up selanjutnya ya gaesss. Jangan lupa, pembaca yang bijak wajib meninggalkan jejak.
Like
Komen yuk komen
Vote
Gift
Rate
Favorit jangan lupa ya.
Sambil nunggu up selanjutnya mampir gaess ke karya bestie aku, akak kece. Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya.
Jangan lupa mampir ya, di tunggu jejaknya
__ADS_1