Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 8


__ADS_3

'Disetiap langkah adalah tujuan, Disetiap tujuan adalah harapan, Dan disetiap harapan pasti ada kepastian, Hanya perlu kesabaran dan ketabahan, Dalam menanti do'a untuk menjadi kenyataan.


🍂🍂🍂🍂🍂


Sinar mentari yang mulai menghangat, tersenyum menyinari bumi, menemani gadis berparas cantik ini untuk memulai hari. Senyuman yang terus merekah seakan menandakan bahwa mentari juga turut menyertai kebahagiaannya.


Pagi ini, Hana berada di bandara, dia akan melakukan perjalanan yang cukup panjang hari ini. Surabaya adalah kota tujuannya kali ini. Dia ingin mencoba peruntungan di kota pahlawan itu bersama sahabatnya Aisyah.


Tepat satu jam lebih tiga puluh lima menit pesawat yang di tumpangi Hana mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Setelah mengambil koper miliknya, Hana segera menghubungi Aisyah sahabatnya yang telah lebih dulu berangkat ke Surabaya.


"Assalamu'alaikum, Sya!" Nana mengucap salam memulai panggilan itu.


"Waalaikumsalam, Na. Uda sampai mana?" Tanya Aisyah.


"Uda di bandara," jawab Nana.


"Tunggu! bentar lagi aku sampai," jelas Aisyah mengakhiri panggilannya.


Hana berjalan menuju pintu keluar bandara, Hana yang sedang sibuk dengan ponselnya tiba-tiba saja ada seseorang yang menabraknya dari belakang.


"Astaghfirullah," ucap Hana kaget. Ponsel yang dia pegang hampir saja terlepas dari genggamnnya.


"Maaf, maaf," ucap laki-laki itu.


Lelaki itu segera membantu Hana untuk bangun. Namun Hana menepis dengan sopan tangan lelaki itu. Setelah Hana berdiri dengan posisi sempurna barulah keduanya saling memperhatikan satu sama lain.


"Kamu!" ucap keduanya spontan.


"Maaf, lagi-lagi saya menabrak kamu." Reyhan mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.


"Ya sudah! Kali ini aku maafkan. Tapi...


" Hai, Sya!" Nana melambaikan tangan kearah Aisyah yang berada tidak jauh dari tempatnya


"Maaf, saya pergi dulu ya!" Pamit Nana.


"Hai, Na... Na... Na siapa ya!" Reyhan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nana, Mas!" Nana sambil berlalu dari hadapan Reyhan.


"Eh, Nana tunggu! Reyhan mengejar Nana.


" Bisa minta nomor watsapp kamu!" Reyhan sambil mengimbangi langkah Nana.


"Lain kali saja kalau kita ketemu lagi," jawab Nana.

__ADS_1


"Ok! Semoga kita ketemu lagi." Reyhan berhenti mengikuti Nana yang sudah hampir sampai di depan pintu mobil Aisyah.


Nana masuk kedalam mobil, sementara Reyhan sibuk menghubungi supir yang tak kunjung datang menjemputnya.


"Na, siapa laki-laki tadi?" Tanya Aisyah.


"Nggak kenal, gue!" jawab Nana.


"Kayaknya uda akrab banget!" ucap Aisyah lagi.


"Tuh orang selalu nabrak gue," jujur Nana.


"Nabrak gimana, maksud loe!


" Ya... Nabrak Sya," ucap Nana.


"Jodoh!" Tegas Aisyah.


"Uda punya bini, Sya!" Tutur Nana.


"Nggak usah di bahas Sya, males ah!" Nana pura-pura merajuk.


***


Sambil menatap langit-langit kamarnya Reyhan mengingat beberapa kejadian disaat dirinya selalu bertemu dengan Nana, dan yang menjadi sedikit aneh menurutnya adalah saat dia tidak sengaja menabrak Nana.


Senyum mengembang di bibirnya saat dirinya mengingat momen itu, ada sedikit rasa kagum tumbuh di hatinya. Ntah rasa apa ini, yang jelas setiap bertemu dengan Nana, hatinya selalu bergetar.


"Aku harus tau, dimana Nana tinggal," Reyhan optimis.


"Ki! Ada misi buat loe, mau nggak?" Tanya Reyhan pada Dicky asisten pribadinya di Surabaya.


"Misi apa lagi, Sih!" Bukannya yang kemarin uda kelar!" Ujar Dicky.


"Beda kasus!" Ucap Reyhan dengan tegas.


"Maksud, loe!


" Uda buruan loe datang kerumah sekarang, nggak pakai lama." Rey, sembari mematikan sambungan telponnya.


Dua puluh menit kemudian, Dicky yang baru saja masuk ke rumah, Reyhan langsung saja menyuruhnya mencari keberadaan Hana yang entah dimana tempat tinggalnya.


"Ky, lo liat baik-baik, ingat dengan detail." Rey menunjukkan foto Nana, yang ntah sejak kapan ada di dalam penyimpanan ponselnya.


"Siapa dia?" Tanya Dicky.

__ADS_1


"Calon istri gue!" Sahut Rey tanpa basa basi.


"Bini!" Nggak salah denger gue, sejak kapan loe tertarik sama cewek. Sama mak Lampir yang aduhai aja loe nggak mau, ini malah cewek berhijab, nggak salah ini!" Dicky berucap.


"Dia... Rey menggantung ucapannya.


" Dia kenapa? Tanya Dicky kepo.


"Beda dari yang lain, gue tertarik sama dia sejak pandangan pertama," ucap Rey penuh keyakinan.


"Terus, gimana sama Mak Lampir, eh maksud gue si Ria!" Terang Dicky.


"Bentar lagi, gue bakal cerai sama dia, tugas gue uda selesai," jawab Rey penuh sesal.


"Ha... Cerai! Terus perusahaan loe,


" Gue balikin, tanpa dia gue juga uda kaya kali." Terang Rey.


Dicky pun dengan segera pergi meninggalkan kediaman Rey, dia mencoba mencari apa yang menjadi tugasnya. Namun tanpa disangka Nana yang sedang dia cari sedang berada di dekatnya.


Dicky memarkirkan mobil di depan kafe sederhana, dilihatnya ada beberapa orang sedang bersantai disana. Dia mendudukkan bokong di tempat favoritnya.


"Mbak!" Dicky memanggil pramuka saji yang sedang bertugas disana.


" Silahkan, Mas! Ini menunya." Pramusaji itu memberikan daftar menu kepada Dicky.


"Jus Alpukat aja, satu. Uda itu aja," ucapnya lagi.


"Ok, Mas! Ditunggu sebentar." Pramusaji itu sambil mengambil daftar menunya.


"Eh, tunggu! Mbak pernah ketemu orang ini nggak?" Tanya Dicky.


"Tadi kayaknya kesini deh, Mas! Tapi sudah pulang apa belum saya tidak tau," Terang pramusaji itu.


Pramusaji itupun pergi, sementara Dicky celingukan kanan kiri mencari keberadaan orang yang sedang dia cari, belum sampai lima menit, Dicky sudah menemukan targetnya.


"Rezeki emang nggak kemana!" Target sudah ditemukan." Dicky sambil merogoh kantong yang berisi ponselnya. Dengan segera dia menghubungi Reyhan.


"Rey... Target sudah di depan mata," ucapnya dalam panggilan telpon itu.


🍂🍂🍂🍂🍂


Hemmm... Kira-kira Si Dicky salah orang nggak ya! Tunggu up selanjutnya ya gaesss, jangan lupa tap jempolnya ya. Ditunggu Like, Komen, Favorit, juga gift jika berkenan.


Terimakasih, jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘😘

__ADS_1


__ADS_2