Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 84


__ADS_3

Reyhan dan Ria saling berpandangan, mereka menunggu kabar apa yang akan Hanna berikan. Namun semua di luar ekspetasi keduanya. Hanna menunjukkan test pack dengan garis dua di dalamnya. Melihat semua itu Ria reflek memeluk Reyhan. Sehingga membuat Reyhan terkejut di buatnya.


"Apa ini maksudnya?" Tanya Reyhan.


"Mas, Hanna hamil." Ria memeluk lengan Reyhan.


Reyhan masih tidak percaya dengan ucapan Ria. Dan akhirnya meminta Hanna untuk menjelaskan semuanya. Setelah mendengar penjelasan Hanna dan Ria barulah Reyhan menyadari dan mengerti apa yang di ucapkan Hanna dan Ria.


Reyhan tersenyum bahagia, dan tidak lupa pula untuk bersyukur atas nikmat yang di berikan Tuhan kepada keluarganya. Tidak henti-hentinya dia menciumi Ria. Hingga Hanna yang sejak tadi melihat melalui panggilan vidionya meneteskan air mata.


"Hai, Sayang. Kenapa menangis?" Tanya Reyhan.


"Ini air mata bahagia." Hanna sembari mengusap air mata yang tidak henti-hentinya menangis.


"Nana tutup telponnya ya, Mas." Hanna masih berusaha untuk tersenyum.


"Hati-hati ya, Sayang! Akhir pekan aku akan berkunjung," ujar Rey sebelum akhirnya panggilan itu di tutup.


Hanna menangis, belum pernah dia melihat kemesraan antara Reyhan dan Ria sebelumnya. Namun, dia harus rela karena semua juga atas kemauannya, menikahi orang yang sudah bersuami. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi lagi. Rey kali ini yang menelponnya.


Hanna dengan segera mengusap air matanya, tidak hanya itu saja, suaranya pun di buat sedemikian rupa agar tidak di ketahui Reyhan bahwa dirinya sedang menangis.


"Be, kenapa telpon lagi?" Tanya Hanna.


"Kamu pasti tidak baik-baik saja kan? Kamu pasti bersedih kan melihat aku dan Ria sedekat tadi?" Tanya Reyhan lagi.

__ADS_1


"Aku harus ikhlas, Be. Memang itu yang seharusnya kalian lakukan dari dulu. Mbak Ria juga istri kamu. Jadi, kamu harus adil." Ria sambil menyeka hidungnya.


"Sayang, ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepada kamu."


"Apa itu, Mas! Katakan," ucap Hanna.


"Aku telah mendaftarkan gugatan perceraian kepada Ria."


Deg.


"Mas ...."


"Jangan mencegah ku lagi, Na. Ini sudah keputusan ku dan Ria," imbuh Reyhan.


"Bagaimana dengan anak-anak?" Tanya Reyhan lagi.


"Apa maksud kamu, Mas?" Tanya Hanna.


"Kata Dokter, Ria mengidap kanker stadium akhir, dan untuk sembuh itu sangat sulit. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menolongnya," jelas Reyhan.


"Apa, Mas. Kanker!" Hanna sedikit berteriak.


"Iya," jawab Reyhan.


"Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini. Kenapa harus Mbak Ria!" Hanna menangis.

__ADS_1


"Sayang, sudah. Jangan menangis lagi. Nanti aku ceritakan semua, setelah aku sampai disana. Sudah dulu ya, besok aku telpon lagi." Reyhan menutup panggilannya.


Sementara Ria yang berada di atas brankar merasa kesakitan. Dia meremas perutnya, sambil sesekali mengusap air mata yang lolos begitu saja tanpa di minta.


"Sakit!" Reyhan sembari mendekati Ria.


Ria hanya mengangguk, memejamkan matanya tanpa bersuara. Reyhan bergegas memanggil kan dokter yang menangani Ria. Tidak lama kemudian, Dokter pun datang. Di berikannya suntikan pada Ria. Tidak lama kemudian Ria sudah terlelap.


"Dok, bagaimana kondisi Ria saat ini?" Tanya Reyhan.


"Sel-sel kanker dalam tubuhnya cepat sekali menyebar, kita harus segera mengambil tindakan, Pak!" Jelas Dokter.


"Lakukan yang terbaik, Dok! Tolong." Reyhan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Kita usahakan ya, Pak. Jangan lupa, Bapak bantu do'a dan dukungan agar bu Ria terus bersemangat," tutur sang Dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih."


🍂


Hai gaesss, jangan lupa tunggu up selanjutnya ya, sambil nunggu ini Syfa rekomendasikan karya teman Syfa ya, karya @ Tie tik, ditunggu ya kak jejaknya. Like, Komen, Vote, Gift, Rate, juga favorit.



"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.

__ADS_1


"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.


__ADS_2