Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 93


__ADS_3

Sementara di balik tembok, seorang gadis kecil tengah mengamati dengan bibir tersenyum. Siapa lagi kalau bukan Aqila. Dia juga begitu rindu dengan mama sambungnya itu.


"Mama!" panggilnya dengan berjalan menghampiri Hanna.


"Qila." Hanna menghampiri dan segera memeluk sang anak.


"Qila rindu Mama, Qila nggak mau Mama pergi lagi. Qila janji akan menjadi anak baik, Qila sayang Mama. Jangan tinggalin Qila, Ma." Qila memeluk erat Hanna.


"Mama nggak pergi, Sayang. Mama hanya ingin menenangkan diri. Mama janji akan selalu ada buat kalian." Hanna mengecup kening anak gadisnya itu.


"Sudah, sekarang istirahat dulu, pasti capek habis melakukan perjalanan jauh, Mama siapkan makan dulu buat kalian." Rita berjalan meninggalkan ruang tengah itu menuju ke arah dapur.


Makanan yang disiapkan Rita telah selesai dan tertata rapi di atas meja makan. Reyhan yang baru saja masuk merasa sedikit aneh, pasalnya sang mama tidak pernah masak sebanyak itu.


"Ma, Mama." Reyhan berjalan mencari keberadaan sang mama.


Mengetahui yang di cari tidak menyahut, Reyhan berjalan menuju kamarnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat sang istri sedang tidur di ranjang big size miliknya.


"Apa aku nggak salah liat, apa aku hanya berhalusinasi." Reyhan sembari memukul pipinya sendiri.


"Sayang," Rey mendekati Hanna. Sementara sangat istri sedang bergelut dengan mimpinya.


Reyhan tersenyum melihat Hanna, di ciumnya kepala yang berbalut pasmina hitam itu. Tanpa disadari wanita yang sedang dia cium itu mengerjapkan mata. Hanna tersenyum melihat Reyhan kini sedang di dekatnya.


"Be," panggil Hanna lirih.


Reyhan melihat ke arah Hanna dengan senyum yang mengambang. Didekatinya bibir ranum sangat istri. Dengan secara dia memberikan ciuman di sana.

__ADS_1


"Maaf," ucapnya lirih.


"Maaf, maaf untuk apa, Be," Hanna mengulang ucapan Reyhan.


"Belum bisa menjadi suami sempurna buat kamu, belum bisa membahagiakanmu, belum bisa menjadikan mu wanita satu-satunya di hidupku." Reyhan menggenggam tangan Hanna.


"Aku ikhlas, apapun keputusan yang kamu ambil, Be. Akan aku jalani hidup ini walau harus berbagi suami," terang Hanna.


Nyata memang benar, apapun yang dilakukan oleh Hanna selalu saja dihujat oleh orang. Sebab, di mata mereka Hanna hanya seorang perebut suami orang. Orang hanya bisa menilai dari satu sisi tanpa bisa melihat dari sisi lainnya.


"Hanna, kamu harus tau, wanita satu-satunya yang mengisi hidup ku hanya kamu. Tidak ada yang lain." Reyhan memegang kedua pipi Hanna.


"Tidak, Be. Tidak hanya aku, ada Mbak Ria juga di sini." Hanna menunjuk ke arah dada Reyhan.


"Semua sudah berakhir, Na. Tinggal menunggu surat perceraian dari Pengadilan Agama. Setelah itu Ria bukan lagi istri ku," terang Reyhan.


"Dalam kondisi mbak Ria seperti ini!" seru Hanna.


"Bagaimana keadaan mbak Ria, Be?" tanya Hanna.


"Dia masih di ICU, kondisinya masih belum stabil. Masih butuh perawatan khusus," terang Reyhan.


"Ayo! antar aku ke rumah sakit, Be. Aku ingin bertemu dengan Mbak Ria," pinta Hanna.


"Kita makan dulu, mama sudah menyiapkan makan di bawah." Reyhan mengulurkan tangan mengajak Hanna untuk makan siang.


*

__ADS_1


Kursi meja makan kali ini penuh. Ke delapan kursi itu telah terisi semua. Rita dengan senyum yang terus mengembang menyajikan makanan kepiring suami, anak, menantu dan kedua cucunya di bantu Hanna dan Aisyah.


"Mau pakai lauk apa, Sayang?" tanya Hanna kepada ke dua anaknya itu.


"Apa aja, Ma. Semua pasti enak kalau oma yang masak," puji Qila.


"Iya, masakan Oma emang paling enak," timpakan Hafidz.


"Benarkah?" tanya Dicky.


"Iya, Om. Dijamin nagih." Hafidz sembari mengacungkan jempol ke arah Dicky.


"Sudah, sudah. Jangan memuji Oma terus, nanti kalau terbang nggak bisa turun lho. Makan dulu. Nanti lagi ngobrolnya," celoteh Rita.


Makan siang itu berjalan dengan hikmat, mereka semua memuji masakan Rita. Bahkan Dicky yang jarang sekali makan banyak kini bisa nambah sampai dua kali.


"Mas, ingat perut. Nanti tambah buncit bagaimana!" Seru Aisyah sembari menunjuk kearah perut Dicky.


"Nggak mungkin sekali makan langsung gemuk, Sya. Kecuali kalau tiap hari makannya kayak gini, sebulan bisa nggak muat ini baju," sangkal Dicky.


Sementara yang lain hanya tersenyum mendengar celotehan ke dua pasutri itu. Tidak lama kemudian dering ponsel milik Reyhan berbunyi. Dahinya sedikit mengerut melihat nomor yang tidak dia kenal tertera di sana.


"Hallo, Assalamu'alaikum. Ada yang bisa di bantu," sapa Reyhan.


Sejenak Reyhan mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di ujung telepon. Reyhan mengerjapkan matanya mendengar penuturan orang di seberang sana.


"Baik, saya akan segera ke sana," kata Reyhan sebelum akhirnya menutup panggilan itu.

__ADS_1


🍂


Ada apa gerangan? Cuss tunggu up selanjutnya ya gaesss. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Terima kasih 😘


__ADS_2