Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 77


__ADS_3

Hanna kembali ke tempat dimana Reyhan berada, duduk di sebelah Reyhan dengan menyandarkan punggung ke kursi sementara kepalanya menghadap ke atas. Reyhan yang melihat itu menjadi iba kepada sang istri. Di lihatnya Hanna dengan begitu intens, gurat wajah yang begitu lelah terlihat disana.


"Sayang," panggil Reyhan tanpa menoleh.


"Hemm,"


"Kok hem saja sih!" Reyhan mengulangi.


"Iya, kenapa, Be?


" Besok, kita pulang ya. Mama sama anak-anak sudah kangen tuh sama kamu," ucap Reyhan memulai pembicaraan.


"Sudah ku bilang kan, Be. Aku tidak mau lagi menyakiti orang lain. Lepaskan aku, agar kamu bisa bahagia dengan Mbak Ria."


"Sayang, kamu itu kenapa, sih! Dulu saat pertama kita nikah aku mau menceraikan Ria, kamu yang menolak. Tapi, sekarang kenapa kamu malah meminta untuk bercerai.


" Itu dulu, bukan sekarang!" Jawab Hanna.


"Apa alasan kamu meminta bercerai?" Tanya Reyhan.


"Aku sudah lelah, aku merasa kalah menghadapi rumah tangga ini. Biarkan aku saja yang pergi, Be."


"Sekali tidak, ya tidak! Sampai kapanpun aku akan tetap mempertahankan kamu," sahut Reyhan.


"Egois!"


"Lebih baik aku egois dari pada harus kehilangan kamu," ucap Reyhan lagi.


"Kalau kamu tidak mau menceraikan aku, kamu cari saja solusi, bagaimana caranya kita bisa hidup berdampingan tanpa ada yang tersakiti, Be," ujar Hanna.


Belum sempat Reyhan menjawab makanan yang di pesan oleh Hanna pun telah datang, sejenak keduanya diam. Hanya memperhatikan sang pelayan menyuguhkan hidangan di atas meja.

__ADS_1


Ikan bakar, lobster dan beberapa menu seafood lainnya sudah tersaji di meja. Keduanya berpindah beradu pandang. Ternyata Hanna masih mengingat makanan favorit sang istri.


"Mbak, saya permisi. Silahkan di nikmati." Sembari tersenyum dan melangkah pergi.


"Makasih, ya!" Ucap Hanna setengah berteriak.


"Ok, Mbak!" Pelayanan yang sudah akrab dengan Hanna itu sambil berlalu.


Keduanya tidak melanjutkan pembicaraan lagi, melainkan menikmati lezatnya santapan aneka seafood itu. Keduanya telah selesai bersantap. Kini Hanna mengajak Reyhan untuk duduk di pinggir pantai. Dingin hembusan angin menusuk kepori-pori. Hingga Hanna menyadari bahwa Reyhan kedinginan.


"Sudah tau di pinggir pantai, malah nggak pakai jaket," ucap Hanna.


"Nggak bawah!" jawab Reyhan singkat.


Hanna mengambil ponsel yang di taruh di saku jaketnya. Dengan segera dia mengirim chat ke salah seorang temannya yang berjualan di butik dekat resort. Dan tidak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan paperback ke Hanna.


"Makasih, Mas!" Hanna memberi tips kepada pelayan itu.


"Terima kasih, Sayang!" Ucap Reyhan.


Keduanya terdiam menikmati suasana malam hari di tepi pantai, hanya gelap dan beberapa lampu terlihat sangat kecil di tengah lautan. Hanna sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Reyhan mancari cara bagaimana Hanna mau pulang bersamanya.


*


Sementara di kediaman Ria, Aqila dan Hafidz selalu saja beradu mulut dengan sang mama. Keduanya memaksa agar di antar kerumah Rita, Omanya.


"Ma, pokoknya kita mau kerumah oma Rita saja. Kita jenuh tinggal disini, mama selalu saja ngomel. Kita tidak bisa konsentrasi belajar." Aqila berjalan menjauhi sang Mama.


"Dia bukan oma kamu! Papa kamu Alvin bukan Reyhan," ucap Ria sembari berteriak.


"Papa kita cuma papa Reyhan, bukan yang lain," Hafidz menimpali.

__ADS_1


"Kalau dia papa kita, kemana saja selama ini, tidak pernah kelihatan. Bahkan mengenal kita saja tidak, ayah macam apa itu." Aqila menutup wajah dengan kedua tangannya seraya menangis.


Sementara Hafidz, sejak tadi mencoba menghubungi Reyhan. Tapi nihil, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Rita. Dia menjelaskan semua hal yang terjadi di rumahnya. Dan Rita pun segera menyuruh sang suami untuk segera menjemput ke dua kakak beradik itu.


"Pa! Buruan jemput mereka, kasihan. Bisa-bisa mereka ikutan stress kayak emaknya. Mama ogah punya cucu stress," ujar Rita.


"Huss! Jangan ngawur kalau bicara. Sudah papa jemput mereka dulu." Wisnu pergi menuju mobilnya di garasi.


Beberapa saat kemudian, sampailah Wisnu di rumah Ria, dengan segera dia masuk kedalam rumah mewah berlantai dua itu. Di carinya ke dua anak itu. Dan ternyata keduanya sudah menunggu di ruang tengah dengan membawa koper kecil milik dengan berbagai macam keperluan di dalamnya.


"Opa!" Keduanya berlari memeluk Wisnu.


Wisnu pun menjadi terharu melihat kedua cucunya itu, walaupun bukan cucu kandungnya. Namun, mereka sudah seperti cucu mereka sendiri.


"Sudah siap?" Tanya Wisnu.


"Sudah!" Keduanya berjalan mengambil koper yang berada di samping sofa. Tanpa berpamitan lagi kepada Ria keduanya langsung ikut Wisnu.


Ria yang melihat kepergian mereka dari balik jendela sontak membuatnya meneteskan air mata. Dalam hati kecilnya dia tidak ingin membuat orang lain menderita karenanya. Namun apalah daya, sisi negatif dalam dirinya selalu saja berontak di saat melihat kebahagiaan keluarga itu.


"Andai saja dulu aku menerimamu sebagai satu-satunya suamiku, andai saja dulu aku menuruti semua ke inginan papa, andai saja aku tidak mengenal laki-laki brengsek itu, mungkin kehidupan rumah tangga ku tidak akan seperti sekarang."


"Maafkan aku, Na. Itu semua aku lakukan agar kamu bisa bahagia bersama mas Rey dan anak-anak. Biarkan untuk sekali ini saja aku bisa membalas semua kebaikan yang pernah kamu berikan kepadaku selama ini." Ria sambil terisak.


"Maafkan aku, Na. Aku melakukan ini agar mas Rey mau menceraikan ku,agar kalian bisa hidup bahagia." Ria semakin tersedu dalam hatiny


🌸


Nah, bagaimana ini, ternyata si Ria hanya pura- pura saja jahatnya. Hais bagaimana dong. Apa yang akan terjadi dengan kehidupan mereka kedepannya, tungguin upnya lagi ya. Yuk! Sambil nunggu mampir ke karya temen Ku @teh ijo yang bertema Jerat Hasrat Sang CEO. Ditunggu ya kak jejaknya, jangan lupa juga Like, Komen vote, rate, gift juga favorit


__ADS_1


__ADS_2