
Sesuai janji ya gaesss, ini up kedua hari ini. Maaf telat, masih sibuk berselancar 🤭
🍂🍂🍂🍂🍂
" Saya ada perlu sama Hanna!" Sahut Reyhan.
"Perlu apa, Pak!" ucap Hanna.
"Kamu masih ada hutang sama saya!" Ujar Rey.
"Hutang!" Hanna mengulang ucapan Reyhan.
"Iya! Hutang," sahut Rey.
" Ok! Karena saya sudah tau tempat tinggal kamu, jadi saya tidak usah capek-capek nyari kamu lagi. Soal hutang, nanti kamu bisa jelaskan di kantor saja," ucap Rey lagi.
Sementara pak Alif dan Aisyah hanya terdiam mengamati pembicaraan antara Reyhan dan Hanna, Dicky yang sejak tadi sudah tak sabar ingin menertawakan Rey akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari rumah itu.
"Ya sudah, Pak! Kalau begitu kita pamit dulu, jangan lupa datang ke kantor sekalian surat lamaran kerjanya juga. Kalian bisa berangkat bersama pak Alif." Dicky sambil berdiri dan berpamitan .
Sejak kepergian Rey dan Dicky, Hanna dan Aisyah terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Eh, buruan siap-siap!" Itu si bos nggak bisa ada karyawannya terlambat. Nggak ada ampun buat mereka yang tidak tepat waktu," Pak Alif mengingatkan Hanna dan Aisyah.
"Ia, Om!" Keduanya berdiri dan bergegas untuk bersiap-siap.
Tiga puluh menit kemudian, ketiga orang itu telah sampai di kantor milik Reyhan. Pak Alif segera memberikan arahan kepada keduanya, dimana mereka harus menunggu beberapa saat untuk melakukan interview.
"Kalian tunggu disini, ya. Nanti akan ada yang memanggil kalian. Saya kerja dulu," pamit pak Alif.
"Iya Om, baik!" Ucap keduanya.
Dicky yang masih mengisi perut di sebuah rumah makan tak hentinya menertawakan Reyhan. Sementara yang ditertawakan tak menggubrisnya, dia lebih memilih menghabiskan sarapannya.
"Rey, loe yakin sama tuh cewek?" Tanya Dicky.
"Yakin," jawab Rey sepontan.
__ADS_1
"Terus gimana nasib pernikahan loe sama Ria, kalian belum cerai, loe cuma mau mainin ini cewek, kasihan bro. Dia masih polos," ucap Dicky.
"Gue nikahin dia lah, mana ada istilah gue mainin cewek, gue nggak pernah nyandang title playboy," jelas Rey.
"Yang penting sekarang gue dapetin dia dulu, masalah gimana kedepannya, itu urusan nanti," tegas Reyhan.
"Iya, terserah loe! Lagian nikah uda lima belas tahun itu anaconda kasihan belum pernah ketemu sama sarangnya," ledek Dicky.
"Brengsek, Loe!" Rey melemparkan tissu bekas yang ada di tangannya kearah Dicky.
"Emang bener kan, gue tau siapa loe," ujar Dicky.
"Iya, uda-uda, ngeledek aja loe. Buruan uda siang, gue tinggal disini mau loe." Rey sambil berdiri.
" Eh, tungguin!" Dicky berdiri sembari meneguk minuman yang masih tersisa di depannya, setelah itu dia seger mengejar Rey yang sudah lebih dulu mengejarnya.
Sesampainya dikantor, Rey langsung memasuki ruangannya, begitupun dengan Dicky. Mereka hampiri melupakan Hanna dan Aisyah yang sudah menunggunya sejak jam delapan pagi tadi.
Hanna dan Aisyah yang sudah mulai bosan dengan menunggu akhirnya berinisiatif menanyakan prihal interview kepada resepsionis yang bertugas di depan.
"Maaf mbak! Tapi, perusahaan kami sedang tidak membutuhkan karyawan tambahan," jelas wanita itu.
"Tapi, tadi pagi kita disuruh datang langsung kesini sama... siapa tadi namanya Sya!
" Kalau nggak salah tadi namanya, Reyhan sama Dicky deh mbak," tutur Aisyah.
"Oh, sebentar mbak! Saya tanyakan dulu sama beliau." Sambil mengambil gagang telpon didepannya.
"Mbak, silahkan sudah ditunggu sama pak Rey. Di lantai lima.
" Terima kasih, Mbak! Keduanya bergegas menuju lantai lima, sesampainya disana mereka berdua sudah disambut oleh Dicky. Dengan sigap dia segera menyuruh Hanna masuk terlebih dahulu ke ruangan Rey, sementara Aisyah ditemaninya ngobrol di ruangannya.
"Assalamu'alaikum, permisi," ucap Hanna.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk,"Rey mempersilahkan Hanna untuk masuk.
"Silahkan duduk," ucapnya lagi ketika Hanna sudah didepan meja kerjanya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Hanna dengan sopan.
Hingga beberapa menit, gak ada pembicaraan apapun diantara keduanya, Rey mulai gugup dan bingung apa yang harus dia tanyakan kepada Hanna. Semua posisi di perusahaan nya sudah terisi penuh.
"Maaf, Pak! Ini interview nya kapan ya dimulai?" Tanya Hana memberanikan diri.
"Eh iy, mana surat lamaran kerja kamu?
Hanna menyodorkan surat lamaran yang sejak tadi di pegangnya. Dia berharap bisa diterima bekerja di perusahaan ini.
Rey tersenyum melihat nomor kontak Hanna tertera disana, dengan segera dia menyalin nomor itu dan segera menyimpan di aplikasi ponselnya.
"Ok! Setelah saya membaca dan mengamati, selamat kamu saya Terima menjadi asisten pribadi saya." Rey mengulurkan tangan kearah Hanna, memberinya selamat.
"Asisten pribadi! Apa bapak tidak salah orang? Tanya Hanna.
" Tidak! ini sudah pilihan yang tepat." Rey sambil tersenyum.
" Terima kasih, Pak!" Hanna mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Sama-sama, Kamu bisa mulai bekerja besok." Rey menutup obrolannya.
Sementara Aisyah, masih ketar-ketir di ruangan Dicky. Dia takut kalau tidak lulus interview kali ini. Namun, sesaat setelah Hanna keluar, Rey memanggil Dicky untuk menginterview Aisyah.
"Ky, loe urus temennya Hanna, ya!" Terserah loe, mau kasih kerjaan apa, yang penting dia juga kerja disini." Rey dalam panggilan telponnya.
"Ok!" Jawab singkat Dicky.
*
*
*
Dah beres masalah kerjaan, besok up part apa ya🤭. Si Ria, apa bucinnya si Rey ya. Kasih komen gaesss. Jangan lupa tinggalkan jejak gaesss, Like, Komen, Vote, Rate, Fav. Ditunggu ya.
Terima kasih, masih setia dengan Aku Diantara Mereka. Selalu jaga kesehatan jangan lupa bahagia. 😘
__ADS_1