Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 47


__ADS_3

Selamat membaca.


"Aisyah ...," ucap Hanna dan Reyhan serempak.


"Iya." Dicky menganggukkan kepala.


"Alhamdulillah, akhirnya saudara gue laku juga. Padahal aku mikirnya bakal jadi bujang lapuk," seloroh Reyhan.


"Hust! Kamu itu Rey. Mentang-mentang sudah nikah dua kali seenaknya aja ngatain Iky," omel Mama Rita.


"Dua kali nikah, tapi ngerasain surga dunia juga baru sama Hanna. Kalau sama emak ini anak berdua juga nggak pernah," Iky nggak mau kalah.


Sementara Hanna hanya tersenyum mendengar ucapan Iky." Sudah-sudah nggak usah dilanjutkan, habiskan sarapannya dulu," Rita menimpali.


Seusai sarapannya, mereka semua berkegiatan masing-masing, Wisnu dan Iky pergi ke perusahaannya, Reyhan ke kantor sembari mengantar kedua anaknya. Sementara Rita dan Hanna menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ria.


Sesampainya di rumah sakit, Ria menangis melihat keadaan Ria, meskipun dia sangat tidak baik, namun di juga masih menantunya yang sah.


"Ya Tuhan, kenapa bisa jadi seperti ini, Ria. Andai saja kamu bisa mengontrol emosi, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi." Rita melihat Ria dari luar ruangan, ini dikarenakan Keadaan Ria masih belum stabil. Jadi mereka hanya bisa melihat dari kaca yang yang terletak di pintu ruangan itu.


Sementara di ruangan lain, Bram terus saja mencari dan menanyakan Ria. Seburuk dan sebejat apapun Ria dia tetap darah dagingnya. Tidak ada orang tua di dunia ini yang tidak menyayangi anak-anaknya. Apalagi Ria, dia anak satu-satunya dan penerus keluar Bram.


"Tuan, sudah. Sebentar lagi non Ria pasti datang. Tuan yang sabar ya!" Edi sang supir mencoba menenangkan Bram.


"Ria ... Ria ...," Bram terus saja memanggil nama Ria.


Rita dan Hanna yang sudah berpindah ke kamar rawat Bram merasa khawatir melihat keadaan Bram." Kasihan kamu, Bram. Kenapa semua harus seperti ini. Semuanya sesuai dengan apa yang kamu pernah lakukan. Siapa yang menanam dia pula yang akan memanen," Seloroh Rita dalam hati.


"Ma, apa tidak seharusnya kita telpon mas Reyhan, kasihan pak Bram," usul Hanna.

__ADS_1


"Iya kamu hubungi saja Rey, biar dia jelaskan semua kepada Bram. Lagi pula mau tidak mau, Bram juga harus mengetahui kelakuan Ria, anaknya." Rita sambil mendudukkan bokongnya di sofa.


Sementara Hanna menelpon Reyhan, berharap Reyhan segera datang kerumah sakit. Dengan segera Rey pun berangkat . Sesampainya dirumah sakit, Reyhan bingung apa yang harus dia ucapkan kepada Bram.


"Pak Bram harus tau, apapun yang terjadi nanti. Setidaknya dia sudah mengetahui semua yang terjadi." Dengan tekad yang bulat akhirnya Reyhan mengatakan semua keadaan yang sebenarnya kepada Bram.


"Pa, Papa dengar Rey kan." Reyhan duduk di sebelah brangkar sembari memegang tangan tua yang mulai keriput itu.


Bram membuak mata perlahan, mencari sumber suara yang dia dengar, menoleh tepat melihat ke arah Reyhan.


"Rey, ucapnya lirih. Mana Ria, Rey. Papa khawatir sama dia," ucap Bram.


"Pa, maafkan Rey, dengan berat hati harus mengatakan ini semua kepada Papa. Reyhan juga sangat kaget dengan kelakuan Ria." Reyhan mulai menjelaskan.


"Apa, Rey. Ria berusaha membunuh istri kamu! Sekarang dimana dia Rey, laporkan saja dia, biar mendapatkan hukuman yang setimpal," Bram dengan nada yang sangat lemah.


"Ria, Ria dirawat di ruangan sebelah, Pa. Dia mengalami kecelakaan sewaktu melarikan diri dari kejaran petugas saat di gerebek kemarin. Dan keadaannya masih belum sadarkan diri," terang Reyhan dengan hati-hati.


"Papa jangan sedih, Ria sudah ditangani oleh dokter. Sebentar lagi pasti dia akan siuman," Reyhan mencoba menghibur Bram.


Bram menoleh," Reyhan, maafkan Papa belum bisa menjadikan Ria sebagai istri yang baik buat kamu. Dia hanya menyusahkan kamu saja selama ini." Bram dengan mata berkaca-kaca.


"Mana istri kamu, Rey."


Hanna berjalan mendekat ke arah brangkar Bram berbaring. "Iya, Om. Kenalkan saya Hanna, istri keduanya mas Reyhan," Hanna memperkenalkan diri kepada Bram.


" Buat Rey bahagia, kasihan dia selama ini selalu saja di injak-injak oleh Ria, Om juga titip kedua cucu Om, anggap meraka anak kandung kamu sendiri," ujar Bram.


"Iya, Om. Hanna janji akan menjadi ibu yang baik buat anak-anak." Hanna sembari memegang tangan keriput Bram.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Bram.


"Rey, Papa ingin melihat Ria," ucapnya semakin melemah.


"Tunggu ya, Pa. Reyhan panggil dokter dulu." Reyhan pun berjalan ke arah ruangan dokter yang menangani Bram. Tidak lama kemudian Reyhan datang bersamaan dengan dokter.


"Bapak boleh menjenguk anaknya, tapi sebentar saja ya, Pak. Karena kondisi bapak juga belum begitu baik." Dokter itu sambil memeriksa keadaan Bram.


"Terima kasih, Dok!" Sahut Bram.


Sesampainya diruang rawat Ria, Bram terkejut melihat keadaan Ria. Kedua kaki hingga pahanya di perban bak mumi. Bram menangis, juga sedih. Selama ini anak yang selalu dia harapkan menjadi orang baik ternyata ternyata lebih buruk dari apa yang dia harapkan.


Semua adalah kesalahan orang tua, semenjak kecil Ria tidak kekurangan suatu apapun. Kasih sayang kemewahan bahkan apapun yang dia inginkan selalu di penuhi oleh keduan orang tuanya. Apalagi Maria mendiang ibunya, jangankan lecet, ada yang membuat Ria kecil menangis saja selalu dia marahi.


Mungkin disinilah kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Anak yang seharusnya di beri pendidikan tentang tanggung jawab, rendah hati dan hidup sederhana. Bukan malah di biarkan, apapun yang dia lakukan selalu di dukung walaupun itu salah.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pembaca yang bijak, jangan lupa tinggalkan jejak ya,


Like


Komen


Vote


Rate


Gift

__ADS_1


Favorit.


Selamat menjalankan ibadah puasa, jaga kesehatan jangan lupa bahagia😘😘


__ADS_2