Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 94


__ADS_3

Sejenak Reyhan mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di ujung telepon. Reyhan mengerjapkan matanya mendengar penuturan orang di seberang sana.


"Baik, saya akan segera ke sana," ucap Reyhan sebelum akhirnya menutup panggilan itu.


"Ada apa, Be?" tanya Hanna.


"Ria kembali kritis." Reyhan sembari mengambil gelas berisi air minum di depannya.


Semua diam, menelaah ucapan yang baru saja Reyhan ucapkan. Beberapa detik berlalu, barulah Hanna membuka suara.


"Aku ikut ke rumah sakit, Be," pinta Hanna.


"Kita ke rumah sakit sama-sama!" usul Wisnu.


Mereka semua menyelesaikan makanan siang itu dengan sedikit terburu-buru. Beberapa saat kemudian barulah mereka semua berangkat ke rumah sakit.


Hampir satu jam ke dua mobil milik keluarga Wisnu itu menyusuri jalanan ibukota. Kini tiba saatnya mereka sampai di rumah sakit. Mereka berjalan menuju ruang ICU tempat di mana Ria dirawat.


Kaki Hanna seketika lemas tidak bertulang melihat kondisi Ria dari balik pintu dengan sebagian kaca itu. Di tangan kirinya terdapat dua infus, di dadanya juga terpasang beberapa alat pernafasan. Sungguh sangat memprihatinkan keadaan Ria saat ini.


"Mbak, kenapa harus seperti ini?" tanya Hanna dalam tangis nya.


Rita sang mertua segera mengajak Hanna untuk duduk. Tubuh kecil itu dirangkul, diajaknya duduk di kursi panjang di depan ICU. Hanna hanya bisa menangis melihat keadaan Ria.


"Sayang, sudah ya. Jangan menangis lagi. Kasihan calon anak kita." Reyhan mengusap pelan perut yang masih datar itu.


"Hanna, hamil?" tanya Rita.

__ADS_1


"Iya, Mama bakal punya cucu lagi." Reyhan menoleh ke arah sang mama.


"Alhamdulillah." Rita seraya mengusap ke dua telapak tangan ke wajahnya.


Dokter yang menangani Ria baru saja keluar dari ruangan ICU. Sontak semua orang yang sedang menunggu kabar tentang kondisi Ria segera berdiri dan menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Ria, Dokter!" seru Reyhan.


"Kita berdo'a saja, Pak. Keadaan bu Ria masih kritis. Kanker dalam tubuhnya juga sudah menjalar ke sebagian organ vital lainnya. Semoga saja Tuhan masih memberikan mukjizat kepada bu Ria," terang Dokter.


"Apa bisa dijenguk, Dok?" tanya Hanna.


"Bisa, namun hanya satu sampai dua orang saja yang boleh masuk," ujar dokter itu.


Setelah kepergian dokter itu, Reyhan dan Hanna masuk ke ruangan Ria dirawat. Namun, sebelumnya mereka telah menggunakan pakaian khusus, dan steril.


Sementara yang dipanggil tidak melakukan respon apapun. Wajahnya pucat, mata tertutup, dan bibir yang selalu dilapisi gincu merona itu pun kini terlihat pucat dan mengering. Ada selang oksigen di hidungnya. Hanna mendekati Ria, duduk di kursi yang telah disediakan di samping brankar.


"Mbak," kembali Hanna memanggil dengan lirih. Namun kali ini dengan memegang tangan Ria yang terpasang selang infus di atasnya.


Reyhan menepuk bahu Hanna pelan, melihat Ria sebenarnya dia juga tidak tega. Namun, apa yang bisa dia lakukan. Semua sudah takdir dan kehendak dari Sang Maha Pencipta.


"Kita do'akan saja semoga dokter bisa segera mengatasi semua ini," ujar Reyhan.


Hanna mengangguk pelan, tanpa disadari air matanya lolos begitu saja melewati pipi mulusnya.


"Maafin Hanna, Mbak. Hanna janji, akan menjaga dan membimbing anak-anak dengan baik." Hanna sambil terus mengelus tangan dengan selang infus itu.

__ADS_1


Alat-alat medis yang digunakan untuk memantau kondisi Ria tiba-tiba saja berbunyi. Sontak membuat Hanna dan Reyhan saling memandang. Beberapa saat kemudian Reyhan segera menekan tombol darurat pada bagian samping brankar Ria.


"Be, kenapa mbak Ria. Dia baik-baik saja, bukan?" tanya Hanna sambil terisak.


"Tenang, semua pasti baik-baik saja. Sebentar lagi dokter datang," ujar Reyhan.


Beberapa menit kemudian, dokter pun datang dengan dua orang suster di belakangnya. Kini giliran Reyhan dan Hanna yang keluar dari ruangan penuh bau obat yang menyeruak itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Rita begitu melihat Hanna dan Reyhan keluar.


"Ria kembali kejang," jawab Reyhan.


Aqila yang sejak tadi tenang tiba-tiba menangis mendengar berita sang mama yang kembali kejang. Dengan segera Hanna mendatanginya dan memeluk gadis kecilnya itu.


"Do'akan mama Ria, dia membutuhkan do'a dari kita semua." Hanna sambil memeluk Aqila.


Aqila mengangguk. Sementara dari balik pintu ruang ICU itu datang seorang suster yang tadi ikut memeriksa Ria. Sontak membuat Hanna dan Reyhan segera mendekatinya.


"Keluarga bu Ria," panggil suster itu.


"Iya, kita, Sus," ucap Reyhan.


"Bu Ria mencari saudari Hanna dan Pak Reyhan," ucap suster itu.


🍂


Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, like, Komen, gift, rate, vote juga favorit. Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2