Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
AdM 38


__ADS_3

"Hallo, Bos!" Sapa seseorang dengan tubuh tinggi, hitam, berotot dengan rambut sedikit ikal.


"Wah kebetulan sekali, aku butuh bantuan kamu, " Ria memukul pelan bahu kekar itu.


"Apa yang bisa saya bantu,"


"Habisi perempuan ini," Ria menyodorkan foto yang berada didalam ponselnya.


"Sudah ku duga, pasti ada pekerjaan menyenangkan buat kami."


"Kerjakan dengan rapi, aku tidak mau ada jejak sedikitpun," tegas Ria.


"Siap, Bos!


*


*


*


Pagi-pagi sekali Hanna sudah terbangun, tubuhnya yang terasa remuk tak bertulang akibat ulah suaminya membuat dia tidak bisa tidur nyenyak. Segera dia membersihkan diri, tanpa menunggu Reyhan bangun.


"Berendam air hangat mungkin bisa membuat ku lebih baik," ucapnya dalam hati.


Setelah beberapa saat akhirnya dia keluar kamar, menjalankan tugas sebagai seorang istri, orang tua dan menantu. Dengan cekatan dia menguasai dapur cantik dirumah itu. Memasak beberapa menu untuk sarapan pagi ini.


"Pagi, Sayang." Rita sambil menuruni tangga.


"Pagi Ma." Hanna tersenyum.


"Wah sudah siap semua, Reyhan sama anak-anak mana?"


"Mas Reyhan, masih diatas. Anak-anak kayaknya masih siap-siap." Hanna sembari membereskan dapur.


Tidak lama kemudian, Reyhan turun dan dengan pakaian tidur dan rambut acak-acakan. Membuat sang mama, dan Hanna tercengang, karena penampilan Reyhan.


"Mas, kamu belum mandi?" Tanya Hanna menghampiri.


"Nggak ada yang mandiin." Jawab Reyhan dengan menyambar tempe goreng di depannya.


"Mentang-mentang sudah dapat istri yang cantik, dan perhatian, sekarang mulai manja ya," celetuk Rita.

__ADS_1


"Apa salahnya sih, Ma. Manja juga sama istri, bukan yang lain.


" Kan ada Ria, yang bisa diajak manja-manja juga, sampai nguber kamu terus lagi." Rita sambil tersenyum menggoda Reyhan.


"Mama mau punya mantu dia lagi," Rey tidak mau kalah.


"Ogah, wanita jadi-jadian, mantu ku cukup wanita cantik ini saja, yang lain nggak mau."


Terjadilah perbincangan unfaedah di pagi buta itu. Waktu telah menunjukkan pukul 06.25 pagi, saatnya Reyhan dan anak-anak pergi.


"Sayang, kamu antar anak-anak ya, aku ada meeting di hotel Cempaka, jadi beda jalan.


" Iya, Mas."


Keduanya pun pergi, Reyhan dengan mobilnya sementara Hanna masih menunggu taksi online pesanannya.


"Anak-anak, ayo! Sudah siang."


Tidak lama kemudian sampai Hanna di sekolah Aqila da Hafidz. Hanna mengantarkan keduanya hingga depan pintu masuk. Sesaat kemudian barulah dia kembali ke taksi onlinenya.


"Pak, lanjut ke Minimarket depan ya," ucapnya pada supir taksi.


"Baik, bu." Sopir itu melanjutkan perjalanannya.


Dua kantong belanjaan sudah dia dapatkan, kini saatnya menunggu kembali taksi online yang beberapa saat lalu dia pesan.


Ting, notif pemberitahuan dari aplikasi taksi online, Hanna segera bergegas menuju pinggir jalan.


"Katanya sudah dekat, tapi sudah capek nunggu belum juga datang," Hanna menggerut.


Tanpa Hanna sadari ada dua pemotor tiba-tiba saja datang dan berusaha menabraknya. Hanna kaget dia mundur dan terjatuh. Barang belanjaannya berserakan sementara pergelangan tangannya terasa sakit, telapak tangannya mengeluarkan sedikit darah akibat goresan dengan aspal.


"Mbak, kenapa Mbak, kok bisa jatuh?" tanya seseorang yang baru saja datang menolongnya.


"Ada orang yang berusaha menabrak saya, Mbak." Hanna berusaha bangun.


Beberapa orang membantu mengumpulkan barang belanjaan Hanna, satu diantaranya membantu Hanna bangun.


"Terima kasih ya, Mbak sudah mau membantu saya," ucap Hanna.


"Iya mbak, lain kali hati-hati ya."

__ADS_1


Hanna mengangguk, sembari mengucapkan terima kasih. Tidak lama kemudian taksi online pesanannya pun datang. Dengan segera dia masuk, ingin segera sampai di rumah. Tangannya mulai sedikit terasa perih, darah yang keluar pun lumayan banyak.


"Ini, Mbak. Bersihkan dulu darahnya." Supir taksi itu mengulurkan tissu ke arah Hanna.


"Terima kasih, Pak! Hanna mengambil tissu itu, dengan segera dia membersihkannya, namun tetap saja rasa perihnya tidak berkurang.


Sesampainya di rumah, Rita yang melihat telapak tangan Hanna penuh dengan lecet membuatnya segera mendatangi Hanna.


" Nak, kenapa tangan kamu?"


"Tadi ada orang yang mau nabrak Hanna, Ma! Hanna menghindar dan akhirnya terjatuh,


" Kok bisa, Nak! Siapa yang mau mencelakai kamu?"


"Ntahlah Ma, Hanna juga tidak tau." Hanna membilas telapak tangannya dengan air, kemudian diambilnya obat di kotak obat.


"Sini Mama bantu." Rita mengambil obat tabur dan segera membubuhi luka itu.


"Astaghfirullah, kita kedokteran saja ya, Na! Ini banyak sekali lecet nya." Rita meniup telapak tangan Hanna.


"Nggak usah, Ma! Sebentar lagi juga sudah nggak sakit lagi." Hanna tersenyum, ntah memang bener sudah berkurang sakitnya, atau hanya pura-pura.


***


"Hallo, bagaimana kerja kalian hari ini?


" Sesuai perintah, dia hanya kita serempet saja, mungkin hanya tangan sama bokongnya saja yang sakit, karena tadi dia jatuh dengan posisi duduk."


"Bagus, besok kalian ikuti lagi dia, buat dia menderita dulu, sebelum dia bener-benar kalian habisi," Perintahnya .


"Baik, Bos! Siap laksanakan.


Ria tertawa mendengar laporan dari anak buahnya," Berani kau mengambil milikku, jadi rasakan akibatnya. Tidak ada yang boleh memiliki Reyhan selain aku. Kecuali harta itu sudah menjadi milikku, maka aku akan melepaskan Reyhan dengan suka hati.


🍂🍂🍂


Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita semua dalam keadaan sehat hingga hari kemenagan tiba.


Terima kasih masih setia dengan karya receh yang alhamdulillah mulai banyak pembaca, Terima kasih buat kalian semua yang masih setia mendukung karya Syfa.


Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak, ditunggu Like, Komen, Gift, Vote, juga Rate nya ya.

__ADS_1


Jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘


__ADS_2