Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 91


__ADS_3

Sop kambing pesanan Hanna telah datang. Kuah bening dengan irisan tomat dan daun bawang di atasnya membuat siapapun yang melihatnya akan tergiur, begitu juga dengan Hanna, dia ingin segera menikmatinya.



"Silahkan, Mbak!" Pelayanan rumah makan itu menyajikan sop kambing di atas meja.


"Terima kasih, Mbak." Hanna sambil menggeser mangkok ke arahnya.


Aisyah dan Dicky tercengang melihat tingkah laku Hanna yang tidak seperti biasanya. Kehamilannya memang sedikit menyiksa. Namun, tidak dengan nafsu makannya. Makanan apapun akan dia lahab, asalkan tidak dengan bau-bauan tertentu yang membuat perutnya bergejolak dan memuntahkan isi perutnya. Belum sampai sepuluh menit, sop kambing itu telah tandas dilahabnya.


"Alhamdulillah," ucapnya selesai menghabiskan semangkok sop kambing dan diakhiri dengan lemon tea hangat.


"Mau nambah?" tanya Dicky.


"Terima kasih, sudah penuh ini perut." Hanna memegang perutnya.


Setelah selesai mengisi perutnya, mereka kembali lagi ke klinik Dokter kandungan. Sesampainya di sana mereka masih menunggu satu pasien lagi untuk bisa melakukan pemeriksaan.


"Duh, dikira sudah telat, ternyata tinggal satu lagi," seloroh Aisyah.


"Sabar kenapa sih?" tanya Dicky.


"Sudah nggak sabar lagi, Mas. Pingin lihat debay Hanna."


"Belum keliatan, Sya. Kan masih beberapa minggu. Nanti kalau sudah di trimester ke dua baru kelihatan, Sya," tutur Hanna.


Aisyah mengangguk, entah, dia paham atau tidak. Tidak lama kemudian, dipanggilnya Hanna oleh pihak klinik itu.


"Ibu Hanna," panggil perawat itu.

__ADS_1


Hanna segera berjalan menuju ruangan dokter untuk diperiksa, sementara Aisyah dan Dicky mengekor di belakangnya.


"Ini siapa yang hamil?" tanya sang Dokter melihat ke arah Hanna dan Aisyah.


"Saya, Dok!" Hanna memperkenalkan diri.


"Anda suaminya, Pak!"


"Bukan, saya saudaranya, suaminya masih di Jakarta," terang Dicky.


"Oh, saya kira Anda datang dengan dua orang istri yang sedang hamil bersamaan," ujar Dokter dengan nada bercanda.


Hanna tersenyum lebar mendengar perkataan Dokter cantik itu. Sementara Aisyah melirik Dicky dengan tajam. Dokter pun tersenyum melihat tingkah laku pasien dan kedua saudaranya itu.


"Maaf, Pak. Saya hanya bercanda. Saya kenal dengan Bu Hanna. Dia bekerja di salah satu resort milik saudara saya," ucap dokter itu.


"Keluhan apa yang Anda rasakan, Bu?" tanya sangat dokter.


"Mual, pusing juga, Dok!" Hanna sambil tersenyum.


"Ibu sudah menstruasi?" tanya dokter itu.


"Sudah hampir tujuh minggu belum," jawab Hanna santai.


"Sepertinya Anda sedang hamil, Mbak." Dokter itu sambil terus memeriksa kondosi Hanna. Mulai dari tekanan darah, berat badan, tinggi badan hingga LiLA Hanna di ukur dengan telaten.


Hanna hanya tersenyum mendengar penuturan sangat dokter. Pasalnya dia sudah mengetahui soal kehamilannya. Karena beberapa waktu lalu sejak dia mengetahui telat datang bulan dia sempat membeli alat pendeteksi dini kehamilan ( Testpack).


"Mbak Hanna, selamat Anda telah menjadi calon ibu. Di jaga kesehatannya, pola makannya, jangan capek-capek, trimester pertama kehamilan masih sedikit rentan. Jadi, harus benar-benar di jaga. Jangan lupa juga priksa tiap bulan agar keadaan calon bayi bisa terus terpantau," Dokter menjelaskan dengan detail kepada Hanna.

__ADS_1


"Satu lagi, ini resep untuk mengambil obat di depan." Dokter menyodorkan secantik kertas resep kepada Hanna.


"Terimakasih, Dok!" ucap Hanna.


Setelah itu Hanna turun dari brankar pemeriksaan, dia berjalan menuju Aisyah dan Dicky yang sedang menunggunya.


"Bagaimana, semua baik-baik saja kan?" tanya Aisyah.


"Semua baik-baik saja, Mbak. Hanya perlu menjaga pola makan dan istirahat yang cukup." Terang Dokter sambil tersenyum.


"Kalau begitu, kita permisi dulu, Dok. Terima kasih." Dicky mengulurkan tangan kearah dokter yang baru saja duduk di kursi nya.


"Iya, Pak. Sama-sama, tolong dijaga kesehatannya." Pesan dokter itu sembari menyalami Dicky.


*


Sementara di kediaman Ria, perempuan cantik itu tiba-tiba saja pingsan. Bibi sangat penjaga menjadi panik. Dia berlari mencari supirnya.


"Bang, bang! Buruan, nyonya Ria pingsan." Bibi menggoyang tubuh supirnya yang sedang istirahat. Mendengar ada yang memanggil, sang supir pun segera terjaga dari tidurnya. Dengan segera keduanya berlari ke arah dalam rumah. Tidak lupa pula bibi menghubungi Reyhan.


"Iya, Bi. Langsung bawah ke rumah sakit saja." Perintah Reyhan seraya berlari ke arah mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Reyhan berjalan berjalan menuju ruangan Ria. Dilihatnya bibi sedang duduk di depan ruang ICU. Iya, keadaan Ria yang kritis membuat dokter yang menanganinya segera membawanya ke ruangan itu.


"Bi, bagaimana keadaan Ria. Apa dokter sudah memberi informasi?" tanya Reyhan.


🍂


Terima kasih, jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, Like, komen, vote, gift, rate, juga favorit.

__ADS_1


__ADS_2