
"Cepat! atau aku akan benar-benar menghabisimu." Alvin sambil mencengkeram lengan Ria dengan kuat.
"Sayang, maaf. Aku benar-benar tidak ada uang, semua disita sama Papa," terang Ria dengan sedikit meringis karena lengannya yang sakit.
"Bohong! Kau hanya tidak mau memberiku uang lagi." Lagi- lagi Alvin menguatkan Cengkeraman nya.
"Sakit, lepaskan! Ku mohon jangan sakiti aku lagi. Aku mau kita seperti dulu lagi.
" Apa! Seperti dulu lagi. Mimpi kamu!" bentak Alvin.
Ria menangis mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alvin, semua berawal dari kejadian malam tadi, saat Alvin datang dengan seorang perempuan ke apartemen miliknya.
"Sudah! Jangan pernah datang mencariku lagi. Kamu sudah tidak bisa diharapkan." Alvin melepaskan cengkeramannya. Ketika hendak berbalik betapa terkejutnya dia saat mendapati Bram dan Reyhan berdiri di belakangnya.
Alvin segera pergi, namun di cegah oleh Bram.
"Tunggu! Mau kemana kamu!" Bram dengan suara baritonnya.
Alvin hanya menoleh tanpa menjawab pertanyaan dari Bram, kemudian dia melanjutkan lagi langkahnya hingga...
"Berani kau pergi, apa kau mau cari mati!" Ancam Bram.
Alvin langsung menghentikan langkah kakinya. Dia diam tanpa menoleh ke arah Bram.
"Apa yang Anda inginkan?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Jelaskan semuanya, atau akan ku seret kau ke penjara." Tegas Bram sambil mendudukkan bokongnya ke sofa.
"Memang apa salah saya hingga Anda mau menjebloskan saya kepenjara," ucap Alvin tanpa ada rasa bersalah.
"Pemerasan dan pelecehan pada Ria," Bram berucap dengan tenang.
"Pa, sudah Pa, biarkan Alvin pergi, dia orang baik Pa!" Ria menghibah.
"Kamu masih mau membela dia, sementara suamimu sedang melihat semuanya, istri macam apa kamu, Ria." Bram mulai meninggikan suaranya.
Hening, sesaat tidak ada seorangpun yang bersuara, hingga akhir Reyhan memberanikan diri untuk berbicara.
"Maaf, sebelumnya saya tidak mau ikut campur urusan kalian, terutama Anda." Reyhan menatap jengah kearah Alvin.
"Ria masih berstatus istri saya, walaupun saya tau ini semua hanya sandiwara kalian.Tapi saya minta kepada Anda jangan pernah sekali pun Anda menyakiti Ria. Karena bagaimana pun juga Ria adalah ibu dari anak-anak Anda. Ingat! Anda juga mempunyai seorang anak perempuan dengan Ria. Bagaimana seandainya jika anak perempuan Anda yang sekarang berada di posisi Ria. Dan satu lagi ibu Anda juga seorang perempuan. Camkan itu baik-baik." Reyhan pergi menaruh barang yang sejak tadi di pegangnya, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari rumah itu.
Sementara Alvin hanya diam membisu mendengar ucapan Reyhan yang menohok. Otaknya bekerja dengan keras, kembali mengingat kejadian-kejadian di masa lalunya. Sejak bertemu dengan Ria hidupnya sangatlah terjamin, mulai dari Apartemen, mobil, hingga kebutuhan sehari-hari Ria lah yang selalu mencukupinya.
Tapi kini, sejak Reyhan mulai menginginkan perpisahan, sang ayah mulai mengatur semua keuangannya. Karena Bram tahu, bahwa selama ini Ria suka memberikan uang kepada Alvin dengan jumlah yang tidak pernah sedikit.
"Cepat katakan, apa yang kamu lakukan kepada Ria?" Tanya Bram penuh emosi.
Alvin terdiam, tidak menjawab sekatapun. Menjawabpun percuma karena Bram sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat dirinya mengancam Ria sambil mencekiknya.
"Kenapa kamu diam!" ucap Bram lagi.
__ADS_1
Tanpa menjawab Alvin langsung pergi dari rumah mewah milik Bram. Ria yang melihat hal itu semakin miris. Laki-laki yang selama ini sudah dia bela ternyata hanya seorang pengecut, pecundang yang tidak punya balas kasih kepadanya.
Ria beranjak dari tempatnya berdiri ingin segera menumpahkan air matanya yang sejak tadi dia tahan. Sesampainya di kamar dia langsung menangis sejadinya. Ria benar-benar tidak menyangka Alvin akan setega itu kepada dirinya.
"Alvin, kenapa kamu setega itu sama aku, apakah semua pengorbanan ku selama ini belum cukup. Harta, kemewahan, hingga tubuhku semua aku serahkan kepada mu," Ria bermonolog dalam hati.
Bram yang melihat Ria dari celah pintu yang sedikit terbuka itu sedikit iba melihat keadaan Ria. Di bohongi, di tipu, di peras hingga di lecehkan, namun dia tetap tidak sadar bahwa Alvin bukanlah orang baik.
*
*
*
Sementara di rumah keluarga Reyhan juga sedang terjadi perdebatan antara Reyhan dan Hanna. Rey bersih keras untuk menceraikan Ria, namun Hanna tidak mengizinkannya.
"Sayang, pokoknya Aku akan tetap menceraikan Ria, Aku sudah tidak sanggup lagi menyandingnya sebagai seorang istri. Biarkan saja dia mencari jalan hidup sendiri.
" Tapi, Be. Kasihan, dia masih membutuhkan support dari keluarganya, sementara keluarga yang dia miliki hanya kamu, pak Bram dan anak-anak. Pikirkan secara matang dulu, sebelum kamu mengambil keputusan, Be," Hanna mengingatkan.
"Dan satu lagi, Be. Aku minta izin untuk beberapa waktu aku akan tinggal dirumah mama dulu, sebelum semuanya selesai aku akan tinggal disana, aku tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang, dan memang pada kenyataannya aku hanya orang ketiga diantara kalian." Hanna sambil berkaca-kaca.
Reyhan memeluk tubuh mungil itu, di dekapnya dalam dada bidang itu, nyaman hanya itu yang dirasakan oleh Hanna. Walaupun pada kenyataannya kenyamanan itu bukan hanya miliknya, melainkan milik bersama dengan wanita yang di nikahi suaminya secara sah.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Marhaban ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankan.
Terima kasih, buat kalian yang masih setia nungguin Reyhan, Hanna dan Ria. jangan lupa tapi jempol ya, komen, rate, gift, vote juga favorit.