
Siulan burung bernyanyi begitu merdu, menandakan beralihnya malam yang penuh bintang dengan pagi yang begitu cerah. Hangatnya mentari menjadi saksi bahwa siang segera datang dengan kehangatan sinarnya.
Hanna yang telah selesai mengantarkan Aqila dan Hafidz segera pulang, menunggu kedatangan taksi online membuatnya sedikit jenuh. Dilihatnya layar ponsel yang sejak tadi dia pegang. Mengharap sang suami mengirimkan pesan kepadanya. Namun nihil, hanya ada jejak panggilan sang suami tadi malam saja yang terlihat.
Tiba-tiba saja Hanna dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan cantik, rambut coklat terurai, bibir dengan gincu berwarna sedikit orange, menggunakan dress seksi panjang di bawah lutut, warna senada dengan gincu yang dipakainya. Orange kombinasi biru. Membuat kecantikan perempuan itu semakin terlihat nyata. Hanna segera berdiri dari duduknya.
"Hei, kamu! Sedang apa kamu disini?" tanya Ria tanpa basa-basi.
"Sa-saya sedang mengantarkan anak-anak sekolah," jawab Hanna dengan terbata.
" Emang siapa kamu! Beraninya mengantarkan anak-anak ku sekolah, ada hubungan apa kamu sama keluarga mas Reyhan." Ria mendorong pelan Hanna. Karena tubuh Hanna yang mungil dengan dorongan pelan saja dia sudah hampir terpelanting.
"Apa yang harus aku katakan kepada istri mas Reyhan, jujurkah atau aku harus berpura-pura sebagai saudaranya," Hanna bermonolog dalam hati."
"Hey, jangan diam saja kamu ya, jawab!" Ria membentak Hanna dengan suara meninggi.
Untung saja taksi online yang beberapa menit lalu di pesannya segera datang, sehingga dia tidak perlu menjawab pertanyaan Ria. Lega itulah yang Hanna rasakan saat ini.
"Maaf, Mbak. Pesanan taksi online yang saya pesan sudah datang. Saya harus segera pergi." Hanna berpamitan seraya melangkah pergi.
"Hei, tunggu! Jangan jadi pengecut kamu," Ria berteriak.
"Brengsek, brengsek, brengsek!" Teriak Ria dengan kerasnya.
"Alhamdulillah ya Allah, untuk saja taksi ini segera datang, kalau tidak, jawaban apa yang harus aku berikan kepada mbk Ria," ucap Hanna dalam hati.
"Mbak, sudah sampai!" ucap pengemudi taksi online itu.
__ADS_1
"Eh, iya Pak! Terima kasih," Hanna sembari mengulurkan uang kepada sopir taksi itu.
"Kembaliannya, Mbak!
" Sudah ambil saja Pak, itu rezeki buat Bapak." Hanna sambil membuka pintu mobil.
"Terima kasih, Mbak. Semoga rezeki mbak semakin berlimpah," ucap supir itu.
"Amin." Hanna melangkah pergi.
Sementara di rumah sakit, Reyhan sedang duduk di sofa, menunggu kedatangan Ria untuk menggantikan dirinya menjaga Bram.
"Rey, panggil Bram.
" Iya, Pah." Reyhan berjalan mendekati brankar tempat Bram berbaring.
"Rey, maafkan Papa, sebenarnya tidak ada niatan untuk memaksa kamu bertahan dengan Ria, hanya saja Papa tidak bisa percaya dengan orang selain kamu yang bisa melindungi Ria, Semua perlakuan buruk Ria kepada kamu, Papa tahu semua, Rey.
"Jika kelak Papa sudah tiada, Papa titip Ria. Hanya kamu orang yang sabar menghadapi kelakuan Ria. Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa Papa percaya, Rey."
"Tapi, Pa. Rey tidak sebaik itu. Rey juga punya banyak kesalahan yang Papa tidak tau." Rey berusaha menolak keinginan Bram.
"Tentang pernikahan kamu dengan wanita berhijab itu! Papa tau Rey, Papa yakin kamu mempunyai alasan sendiri mengapa sampai menikahi perempuan itu."
"Tapi, Pa," ucap Reyhan lagi.
"Papa mohon, Rey." Bram mengatubkan kedua tangannya memohon kepada Reyhan.
__ADS_1
Reyhan terdiam, tidak tahu lagi harus berkata apa, Bram memang orang baik, namun tidak dengan Ria. Bimbang itulah yang Reyhan rasakan saat ini. Bertahan dengan Ria, lalu bagaimana pernikahannya dengan Hanna, mampukan dia hidup dengan dua istri?
"Papa mohon Rey," pinta Bram lagi.
"Papa tidak perlu memikirkan hal itu, sekarang hanya perlu fokus dengan kesehatan, tanpa memikirkan yang lainnya, Papa juga pasti akan segera sembuh," ucap Reyhan.
Sementara Ria yang baru saja datang mendengar sedikit pembicaraan antara Reyhan dan sang Papa membuat hatinya sedikit luluh. Dia langsung menghambur memeluk tubuh lemah sang Papa.
"Maafkan Ria, Pa." Ria menangis di pelukan sang ayah.
Sementara Reyhan hanya menyaksikan ayah dan anak itu saling meminta maaf. Ada rasa iba yang terselip didalam diri Reyhan. Dia mulai bimbang, apa yang harus dia lakukan setelah ini.
"Papa, Rey pamit dulu ya. Nanti Rey akan kembali lagi." Rey berpamitan seraya mencium tangan keriput itu.
"Iya, pikirkan ucapan Papa tadi Rey," ucap Bram.
"Iya, Pa. Rey pergi dulu, Assalamu'alaikum." Reyhan berjalan meninggalkan ruang rawat VVIP itu.
Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil Reyhan tidak hentinya mengutuki dirinya yang tidak bisa tegas tentang pernikahannya dengan Ria, seharusnya sejak dulu dia sudah menceraikan Ria. Hanya saja hutang sang Papa lah yang selalu menjadi pertimbangannya.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?
🍁🍁🍁
Yuhuuu ...
Apa yang harus Reyhan lakukan untuk menghadapi semuanya, tunggu up selanjutnya ya gaesss.
__ADS_1
Terima kasih, sudah setia dengan ADM, Alhamdulillah karya ini sudah lulus kontrak, sebagai penyemangat buat para reader, Syfa akan adakan doorprize di akhir cerita, bagi yang memberikan Like, komen, gift terbanyak nanti akan Syfa beri hadiah, tiga orang terpilih yah. Dan bakal Syfa umumkan disini juga. Untuk itu terus dukung karya Syfa ya gaesss.
Jangan lupa tap jempol ya gaess, komen, Vote, gift, juga Rate. Jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘😘