
Lepaskan yang menyakitimu, temui yang mencintaimu. Karena kita mencintai untuk dicintai, bukan untuk disakiti.
Satu hal yang pasti, Hati memang bisa sembuh. Namun dia tidak akan bisa kembali utuh.
Melupakan hanya soal waktu, Cepat atau lambat suka tidak suka semua akan lupa pada saatnya.
🍂🍂🍂
Happy reading ...
Waktu begitu cepat berlalu, hari demi hari dilalui Reyhan dan Hanna dengan begitu bahagia. Walaupun memang belum resmi menikah, namun kebahagiaan mereka terpancar begitu nyata. Hari ini orang tua beserta kedua anaknya akan berkunjung ke tempat Reyhan. Mereka merencanakan liburan beberapa hari di Kota Pahlawan itu.
Reyhan yang sejak pagi masih menikmati waktu dengan rebahan tiba-tiba saja terganggu oleh dering ponsel yang berbunyi. Segera diambilnya ponsel itu dan menggeser tombol hijau dilayar tanpa membaca siapa yang menelponnya.
"Masih pagi, Sayang!" Ucapnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Sayang-sayangan sama siapa kamu?" Tanya sang Mama.
Reyhan segera bangun dari tidur nyamannya itu, dia kebingungan harus menjawab apa kepada sang Mama.
"Eh, Mama. I-itu Ma! Temennya Rey!" Jawab Rey asal.
"Ya sudah, terserah kamu! Asal kamu bahagia Mama akan mendukung keputusan mu," terang sang Mama.
"Rey hari ini jemput Mama di Bandara ya, jam sebelas siang. Jangan telat titik!" Mama Rey mematikan sambungan telponnya, tanpa mendengarkan jawaban Reyhan.
"Ma, tunggu Ma!" Rey membanting ponsel ke ranjangnya.
'Waduh! Mana ada janji sama Hanna lagi, bagaimana ini!" Gumam Rey.
__ADS_1
Reyhan segera mengambil ponselnya lagi, dia segera menghubungi sang kekasih. Menjelaskan semua tentang jadwalnya hari ini. Untung saja Hanna yang penyabar bisa memaklumi hal itu.
"Na, maaf ya kita nggak jadi jalan hari ini. Mama, papa sama anak-anak mau berkunjung selama beberapa hari. Kita pending dulu ya rencana kita, " terangnya pada Hanna.
"Iya, nggak papa, Mas! Kita bisa lain kali jalannya. Keluarga Mas lebih membutuhkan Mas, saat ini," jawab Hanna.
"Sayang, sudah hampir jam sebelas, aku harus jemput mama di Bandara. Bisa-bisa nanti dia ngomel kalau aku telat." Rey sembari berdiri.
"Iya, hati-hati dijalan. Salam buat mereka ya. Assalamu'alaikum." Hanna mengakhiri panggilannya.
***
Jam sebelas lebih lima belas menit, Rey telah sampai di Bandara. Dengan segera dia mencari keberadaan sang mama, namun yang di cari tidak kunjung di temukan. Reyhan merogoh kantong celana, diambilnya benda pipih itu dari sana. Dia segera mencari nomor kontak sang mama.
"Assalamu'alaikum, Ma! Mama ada dimana? Tanya Rey.
" Di depan, Rey. Mama sudah menunggu dari tadi, kamu kemana aja, sih!" Cerocos sang Mama.
"Oh, ya sudah nggak papa kalau begitu," ucap sang Mama.
Mereka semua berjalan menuju mobil Reyhan yang sudah terparkir cantik di depan Bandara. Sang papa yang sejak tadi diam membuat Rey sedikit bertanya-tanya. Ntah apa yang ada di dalam pikiran lelaki 58 tahun itu.
"Pa, Papa baik-baik saja kan?" Tanya Reyhan.
"Papa lagi sariawan," sahut sang Mama.
"Sariawan-sariawan apanya, lha wong mulai tadi kalian nyerocos saja. Ya Papa diem, dengarin kalian ngomong. Rey ...." Sang Papa menoleh kearah Rey yang duduk di sebelahnya.
"Iya, Pa! Kenapa?" Tanya Rey.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu!"
"Perempuan yang mana, Pa!" Rey tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun, Pa." Rey menoleh ke arah Sang Papa.
"Sudah, sudah! Nanti saja dilanjut dirumah, kamu konsentrasi dulu sama nyetir. Bahaya sambil ngobrol," ingat sang istri.
Merek bertiga akhirnya berhenti berbicara, namun tidak dengan kedua anak Rey itu. Keduanya asik dengan berdebat ala anak kecil. Ada saja hal yang saling mereka rebutkan.
"Kakak, jangan! Itu punya Hafiz." Sambil berusaha mengambil kembali makanan ringan yang ada di tangan sang Kakak.
"Kakak minta sedikit, Dek. Jangan pelit-pelit." Aqila sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Sudah, jangan berisik nanti Papa belikan banyak buat kalian, sudah itu dimakan bareng-bareng dulu." Lerai sang Papa.
Hafiz yang mulai merajuk akhirnya memberikan semua makanan itu kepada kakaknya. Duduk tenang dengan melihat dan mengamati sepanjang jalan itu. Tanpa sengaja netra hitamnya melihat sosok cantik yang beberapa waktu telah menolongnya dengan sang Kakak.
"Kak." Hafiz mencolek lengan Aqila. Dan Aqila pun segera melihat apa yang ditunjuk sang Adik.
"Apa, tidak ada siapa-siapa!" Sambil terus menoleh kebelakang.
"Tante cantik!"
🐦
yuhuuuu ...
Sebentar lagi bakal ketemu tante cantik, apa yang akan terjadi selanjutnya? awal yang indah atau awal bencana ini, tunggu up besok ya gaess.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Like, Komen, Fav, Vote, Rate, juga Gift seikhlasnya ya. Biar Syfa tambah semangat nih nulisnya.
__ADS_1
Terimakasih, masih setia sama ADM, jangan lupa jaga kesehatan tetap bahagia 😘.