
'Jikalau kita letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang, dan kebaikan akan kekal. Namun, jikalau kita bersenang-senang dengan dosa maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal.'
"Umar Bin Khattab"
🍂🍂🍂
Happy Reading ...
Ria yang merasa bahagia karena bisa kembali menikmati kembali kesenangannya, kini harus pasrah. Dia yang sejak awal bertujuan kerumah Reyhan akhirnya harus kecewa. Beberapa kali mengetuk pintu tidak ada satupun jawaban dari dalam rumah itu.
Ria tidak mengetahui kalau seluruh penghuni rumah itu telah berlibur ke Surabaya. Umpatan demi umpatan terus keluar dari mulutnya. Itulah Ria, dia tidak pernah sedikitpun merasa menyesali atas semua perbuatannya.
"Brengsek, pada kemana ini penghuni rumah. Apa pada tuli ya, pintu digedor-gedor nggak ada yang buka." Ria sambil mondar-mandir.
Ria mengambil ponsel didalam tas jinjing yang berada di tangan kirinya. Berharap bisa menghubungi Reyhan. Di cari kontak Reyhan, dia segera menelponnya. Hingga beberapa kali panggilan namun tak ada jawaban di sang pemilik ponsel.
Karena merasa sudah tidak ada titik terang tentang keberadaan Reyhan, Ria mulai khawatir. Teringat akan janjinya kepada sang papa.
"Dimana lagi gue harus cari tu cupu. Ngilang kemana lagi dia, " omelnya tidak jelas.
Sementara Reyhan beserta orang tua dan kedua anaknya sedang duduk santai di teras samping rumah milik Reyhan di Surabaya. Reyhan beberapa kali melihat ponselnya bergetar, namun tidak dia hiraukan karena dia sudah tahu siapa yang menelponnya.
"Rey, ponselnya getar terus tuh, mulai tadi!" Ucap sang Mama.
"Biarin aja deh, Ma! Rey malas mau angkat.
" Siapa tau penting Rey," sahut Wisnu sang ayah.
"Ria, Pa. Palingan juga nyuruh Rey pulang," jelas Reyhan jengah.
"Rey, apa Papa boleh tanya?" Tanya Wisnu.
"Tanya saja, Pa! Kalau Rey bisa jawab ya Rey jawab." Rey sambil terus mengawasi kedua buah hatinya itu.
"Siapa wanita itu, Rey?" Tanya sang Papa.
"Wanita, wanita yang mana, Pa!" Jawab Rey.
"Wanita yang telah mengisi hatimu akhir-akhir ini."
Rey menarik napas panjang sebelum akhirnya menceritakan semua tentang Hanna kepada keluarganya. Rey sangat antusias bercerita. Tidak ada satupun yang terlewatkan.
"Ajak dia kemari, Rey! Mama ingin mengenalnya lebih dekat.
__ADS_1
" Semoga dia bisa membuat mu bahagia," ucap sang Ayah.
"Amin ...," ucap mama dan Rey secara bersamaan.
Rey mengambil ponselnya, segera mencari kontak sang pujaan hati, usia Rey memang tidak muda lagi, namun semangat untuk bahagia selalu berkobar di dalam hatinya.
"Assalamu'alaikum," sapa Rey dalam panggilannya.
"Waalaikumsalam, Mas!" Jawab Hanna.
Lama Rey terdiam, mendengar Hanna memanggilnya Mas membuat aliran darahnya berdesir, pasalnya selama ini tidak pernah sekalipun Hanna memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Kamu sibuk nggak hari ini?" Tanya Rey.
"Emmm, nggak sih, lagi santai aja," jawab Hanna.
"Ok, nanti jam tujuh malam aku jemput ya, tidak ada penolakan," ucap Rey tegas.
"Ok," jawab Nana pasrah.
Tepat jam tujuh malam Reyhan sudah berada di depan rumah milik pak Alif. Dengan hati yang berbunga-bunga Reyhan berjalan menuju pintu dan segera mengetuknya.
"Assalamu'alaikum, ucap Rey.
" Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam sana.
Rey pun masuk dan duduk di sebuah kursi panjang, sambil sesekali mengecek ponselnya dia menunggu Hanna dengan sabar. Tanpa sengaja dia melihat story Ria, di lihatnya berkali-kali, ternyata dia masih sama saja tidak ada perubahan sama sekali.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan! Suami macam aku, tidak bisa membawahi istri sendiri kedalam kebaikan, mungkinkah aku harus menceraikannya. Atau aku tetap membiarkan dia seperti ini." Rey menunduk memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Malam, Pak Rey!" Sapa Hanna.
"Malam, Rey mendongak,tebengong melihat Hanna, dilihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala tidak ada satupun kekurangan yang terlihat disana. Hanya kata cantik yang terlihat di dalam diri Hanna. Rey tersenyum terpukau melihat kecantikan Hanna yang bak bidadari surga.
"Jadi jalan sekarang, Pak!" Hanna membuyarkan pandangan Rey yang tidak berketip melihat Hanna.
"Eh, iya, ayo kita berangkat," ucap Rey terbata.
"Saya pamitan dulu sama Aisyah dan Om Alif ya. " Hanna sambil berlalu dari hadapan Reyhan.
Setelah mendapat izin keduanya berangkat menuju rumah Reyhan, Hanna tidak tau jika dirinya akan di kenalkan kepada orang tua Reyhan, yang Hanna tau dia hanya makan malam saja bersama Reyhan.
"Lho, Pak! Kita mau kemana ini?" Tanyanya pada Reyhan.
__ADS_1
"Kok panggil pak lagi?" Tanya Reyhan.
"Harusnya apa dong?" Tanya Hanna balik.
"Terserah kamu saja, asal jangan Pak, panggil Pak kalau kita lagi kondisi Formal saja." Jelas Rey sambil mengurangi laju kendaraannya.
"Panggil Mas aja deh kalau gitu." Hanna sambil menoleh ke arah Reyhan. Reyhan hanya mengangguk dan tersenyum setuju.
"Sudah sampai. Kita turun ya," ajak Reyhan.
Hanna telah berada di rumah Reyhan. Duduk di ruang tamu menikmati indahnya dekorasi ruangan itu. Tiba-tiba saja muncul rasa bersalah di benaknya. Aku harus bagaimana ini. Kalau aku menerima lamaran Pak Rey, pasti akan ada banyak hati yang terluka, istri, anak, kedua orang tuanya, pasti mereka akan kecewa kepada Pak Rey. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Hanna bermonolog.
Sementara diruangan lain Reyhan memberikan pengertian kepada Aqila dan Hafiz, berharap mereka mau mengerti dengan semua ini.
"Sayang, Papa mau kasih kejutan buat kalian, tapi kalian janji nggak boleh bilang sama Mama Ria, nanti Mama Ria bisa marah sama Papa." Rey sambil memangku kedua anaknya itu.
"Emang apa kejutannya, Pa? Tanya Aqila si sulung.
" Kalau Papa menikah lagi, dan kalian punya Mama baru, kalian mau apa tidak," ucap Rey penuh kehati-hatian.
"Kalau Mamanya itu tante Cantik, Hafiz mau Pa." Sambil turun dari pangkuan.
"Iya kita mau, mama baru kita tante cantik saja, Pa.
Reyhan mulai bingung, apa yang harus Rey lakukan jika mama barunya tidak sesuai ekspetasi kedua buah hatinya itu. Rey kemudian mengajak keduanya keruang tamu untuk menemui Hanna. Sementara di balik pintu sudah ada Wisnu dan Rita yang sedang mengintip Hanna. Rita segera berbalik sesaat setelah melihat Hanna.
"Pa! Rey tidak salah pilih, cantiknya MasyaAllah, Mama setuju Pa, sudah nikahkan saja mereka.
Karena tidak segera mendapat respon dari sang suami Rita segera balik badan, dan ...
" Papa, diajak ngomong masih asik ngintip aja." Rita sembari menjewer telinga Wisnu.
"Eh, eh, eh apa-apaan sih, Ma.
" Oma, Opa, sedang apa disitu," Hafiz dengan suara lantangnya.
" Sudah-sudah, ayo kedepan saja, kasihan yang sudah nunggu mulai tadi." Reyhan sambil menuntun kedua anaknya.
Dan begitu sampai di depan, Aqila dan Hafiz langsung menghambur memeluk Hanna.
"Tante cantik!" Ucap keduanya kompak.
🐦
__ADS_1
Nah, sekarang sudah ketemu sama si Hanna, langsung dinikahkan apa tunggu waktu yang tepat ini, 🤭
Terima kasih, masih setia sama Aku Diantara Mereka, jangan lupa kasih dukungannya gaesss, biar syfa tambah semangat nulisnya, like komen, rate, fav, vote, juga gift. Tetap jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘😘