
Seseorang akan sampai pada titik di mana dia akan menjalani hidup dengan tenang, bahagia dan damai. Bukan karena hidupnya yang berkecukupan, bukan pula karena impian-impiannya menjadi kenyataan. Akan tetapi karena meraka telah ikhlas menjalani setiap ketentuan yang Tuhan berikan. Karena meraka hanya berharap ridho Allah semata dan semoga kita sampai pada titik itu. Untuk itu mari kita saling menghormati, menghargai, memaafkan serta mendo'akan. Selalu berusaha dan belajar agar kita bisa menjadi lebih baik. Serta semoga Allah selalu merahmati kita semua, Aminn.
πππ
Selamat membaca.
Hanna yang baru saja masuk ke rumahnya sudah di tunggu sang mama yang sudah duduk di ruang tamu. Begitu Hanna masuk, Rika langsung menyuruh Hanna untuk duduk disamping Rika.
"Sini, Nak! Duduk dulu." Rika sembari memukul sofa disampingnya. Hanna pun menurut apa yang di ucapkan mamanya itu.
"Iya, Ma. Ada apa!" Hanna berusaha setenang mungkin di hadapan sang mama. Walau sebenarnya hatinya benar-benar sangat dongkol atas perkataan Ria.
"Kamu kenapa, Nak! Cerita sama Mama, siapa tau Mama bisa membantu kamu." Rika mengelus kepala yang di balut hijab maron itu.
"Hanna baik-baik saja, Ma." Hanna tidur dengan kepala diatas pangkuan sang mama.
"Jangan sembunyikan apapun dari Mama, mama tau kesedihan kamu. Berbagi cerita lah dengan Mama. Siapa tau suasana dan beban di hati kamu bisa lebih baik." Rika sembari terus mengelus kepala Hanna yang berada di pangkuannya.
"Hanna takut, Ma! Takut mengecewakan bayak orang, takut menyakiti hati orang lain. Hanna tidak mau bahagia diatas penderitaan orang lain. Hanna hanya ingin melihat orang-orang disekitar Hanna juga bahagia. Tidak hanya Hanna saja yang bahagia." Air mata yang sejak tadi ditahan pun akhirnya lolos juga dipipi mulusnya itu.
"Sayang, kamu jangan hanya memikirkan kebahagiaan orang lain, kamu juga butuh bahagia. Mungkin saat ini Tuhan masih memberikan ujian kesabaran kepada mu, tapi Tuhan juga tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan seorang hambanya. Jika kamu memang sudah tidak kuat menjalani, jangan pernah dipaksakan. Karena di luar sana masih ada kebahagiaan yang lainnya. Ingat kata-kata Mama. Jangan pernah memaksakan apapun yang kamu tidak sanggup," Rika memberi nasihat.
__ADS_1
"Hanna nggak sanggup jika tanpa mas Reyhan. Tapi Hanna juga tidak mau melihat mbak Ria sedih. Hanna harus apa, Ma?" Tanya Hanna pada sang Mama.
"Sabar ya, Nak! Jika rencana mu saat ini gagal, berarti kamu lagi berada di dalam rencana Tuhan. Sebaik-baiknya rencana seorang hamba, pasti jauh lebih baik rencana Tuhan. Kuncinya kamu harus sabar," ucap Rika.
Hanna terdiam mengingat semua kenangan bersama Reyhan, sejak awal bertemu, hingga menikah dengan Reyhan yang berstatus istri orang. Kadang Hanna merasa sedih, kanapa harus ada di antara mereka yang pada waktu itu mungkin sedang bahagia. Namun Hanna mengingat cerita Reyhan kembali.
Sejak pernikahan dengan Ria tidak sekali pun Reyhan bahagia. Dirinya justru berada dalam keterpurukan. Mungkin dunia perbisnisannya sukses tapi tidak dengan hatinya. Reyhan selalu tersakiti apalagi saat mengetahui Ria hamil hasil hubungan gelap dengan kekasihnya sejak SMA.
.
Pagi hari Ria berlari kekamar mandi dan memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya, hingga membuat Reyhan khawatir setengah mati. Namun saat Ria keluar dengan memegang alat pendeteksi kehamilan secara dini membuat Reyhan merasa jijik dengan istrinya.
"Rey, aku lagi bahagia. Sebentar lagi seluruh harta papa akan menjadi milikku. Dan kamu bisa pergi dari kehidupan ku. Aku akan hidup bahagia bersama Alvin." Ria sambil menyodorkan test pack ke arah Reyhan. Reyhan hanya mendengus mendengar ucapan Ria.
"Brukk ..."
Tubuh Ria tidak seimbang dan mengakibatkan dirinya terjatuh, bukannya introspeksi malah memarahi Reyhan.
"Dasar laki-laki nggak peka, nggak tau apa kalau aku mau jatuh. Bantuin dong buat berdiri," teriak Ria pada Reyhan.
Reyhan langusung membantu Ria berdiri dan membawahnya ke tempat tidur. Dengan segera dia beranjak pergi keluar. Tapi itulah Ria tiada hari tanpa menyakiti hati Reyhan.
__ADS_1
"Mau kemana! Ambilkan minum dulu, haus nih gue," bentak nya.
Reyhan yang enggan berdebat selalu saja menuruti kemauan Ria. Hingga mengakui Aqila dan Hafizh sebagai anaknya. Padahal keduanya darah daging Ria dan Alvin.
.
"Sayang, kok diam saja." Rika menyentuh pundak Hanna hingga Hanna terkejut di buatnya.
"Nggak apa, Ma!" Hanna mengusap air mata yang tersisa di pipinya.
π
Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejaknya gaesss, terima kasih masih setia dengan Hanna dan Reyhan.
Like
Komen
Gift
Rate
__ADS_1
Favorit
Jaga kesehatan jangan lupa bahagia ya gaessπ