
Siang hari sinar mentari begitu terik, siapapun yang berada di bawahnya pasti akan mencari tempat untuk berteduh. Begitupun Hanna, suasana rumah suaminya yang mulai tidak nyaman membuatnya memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri selama beberapa waktu.
"Na, kok kamu pulang sendirian, mana suami kamu?" Tanya Rika, sang Mama.
"Mas Rey sibuk, Ma." Hanna sambil mengeluarkan baju-bajunya dari koper.
"Apa kamu lagi ada masalah, Nak!" ucap Rika lagi.
"Nggak, Ma. Hanna sama mas Rey baik-baik saja.
" Kalau ada apa-apa, cerita saja sama Mama, jangan dipendam sendiri ya," Pesan Rika pada Hanna.
"Iya, Ma." Hanna sambil tersenyum.
Setelah kepergian sang Mama, Hanna menutup pintu kamarnya dengan rapat, tangisnya pecah sesaat mengingat pernikahannya dengan Reyhan adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dulu, kenapa dia dengan mudah menerima Reyhan saat melamarnya. Kini tinggal penyesalan yang ada dalam diri Hanna.
"Penyesalan itu memang datangnya di akhir, kalau diawal namanya pendaftaran, benar nggak, author mode oleng๐คญ."
***
Tanpa menghiraukan panas terik sang mentari, Ria berangkat mendatangi kediaman Reyhan. Dalam pikirannya saat ini hanyalah Reyhan yang bisa menyelamatkan dirinya dari kemiskinan. Sesampainya di rumah Reyhan dia langsung menghambur memeluk sang ibu mertua yang saat itu sedang duduk santai di teras rumah.
"Assalamu'alaikum," sapanya pada sang mertua.
"Waalaikumsalam," jawab Rita.
"Ma, maafin Ria, Ma." Ria sembari menghambur memeluk kaki Rita.
"Apa-apaan sih kamu!" Rita menepis tangan Ria yang memegang kedua kakinya.
"Ria salah, Ma. Ria salah, Ria minta maaf." Ria dengan manik berkaca-kaca.
__ADS_1
Reyhan yang mendengar kegaduhan di bawah memutuskan untuk turun melihat secara langsung apa yang sedang terjadi di luar sana.
Begitu melihat Ria, Reyhan sudah tidak ingin lagi melanjutkan langkahnya untuk keluar. Dia lebih memilih kembali ke kamarnya. Sementara Ria yang melihat kehadiran Reyhan memutuskan untuk mengejarnya.
"Mas Rey, tunggu!" Ria mengejar Reyhan yang sudah berada di balik dinding.
"Mas Rey!" Ria sambil terus mengejar Reyhan.
Reyhan berhenti tanpa menoleh kearah Ria." Stop! Berhenti disitu kamu!" perintah Reyhan.
"Mas, maafkan aku! Aku janji akan berubah, Mas tolong pulang ya," pintanya kepada Reyhan.
"Mas! Sejak kapan kamu memanggilku dengan sebutan Mas. Yang ada aku geli dengar kamu manggil dengan sebutan itu." Reyhan tertawa getir.
" Sudah, pergilah! Aku tidak mau melihatmu lagi." Reyhan melangkah pergi.
"Tapi, Mas. Papa sudah menunggu kamu untuk pulang," ucapnya lagi.
"Untuk apa pak Bram menungguku, bukannya dia sudah tahu semua, bahkan rencana ku untuk bercerai dengan mu pun, dia sudah tahu," ucap Rey tanpa tebeng aling-aling lagi.
Ria menjalankan mobilnya dengan hati penuh kekesalan." Apalagi yang harus aku lakukan biar kamu kembali kepada ku Rey," teriak Ria di dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian, dia teringat akan perempuan yang selalu berada di rumah Reyhan.
"Perempuan itu, dimana dia, kenapa aku tidak melihatnya, siapa dia sebenarnya?" tanya Ria dalam hati. Ria melihat jam tangan yang bertengger di lengan kirinya, dilihatnya jam itu menunjukkan pukul 12.30 siang.
"Waktunya anak-anak pulang sekolah, aku harus segera menjemput mereka, jangan sampai wanita itu yang menjemput anak-anak ku." Ria sembari menambah kecepatan laju mobilnya.
Sesampainya disekolah, bel pertanda waktunya pulang berbunyi, Ria celingukan mencari keberadaan Hanna, namun nihil Hanna tidak dia temukan.
"Kemana wanita itu?" tanyanya dalam hati. Sambil terus mencari ternyata kedua anaknya Aqila dan Hafidz sudah berada di hadapannya.
"Mama, sedang apa disini? tanya Aqila.
__ADS_1
" Menjemput kalian." Jawab Ria lalu menggandeng kedua anaknya itu.
"Papa kemana? Kok tumben Mama yang jemput!" Hafidz ikut bersuara.
"Papa sibuk, Sayang. Kita pulang ke rumah Mama ya!" Ujar Ria.
"Mama Nana kemana?"
"Mama Nana siapa, Sayang!" Ucap Ria sedikit terkejut.
"Mama Nana itu istrinya Papa, dia orangnya baik, sayang sama kita, sama Papa, Oma, juga Opa," terang Aqila.
"Dia juga cantik, kalau masak juga enak, sering ngajarin kita belajar, temenin kita main juga," Hafidz menimpali.
Pernyataan keduanya membuat Ria semakin mendidih, pasalnya dia tidak pernah tau kalau Reyhan menikah lagi.
"Kalian tau, dimana rumah mama Nana ?" Ria mencoba mengorek tentang Hanna melalui kedua anaknya yang masih polos itu.
"Di Surabaya," jawab keduanya kompak.
"Sekarang mama Nana dimana?" tanya Ria lagi.
"Di rumah Papa," jawab Qila.
"Ya sudah, ayo kalian Mama antar pulang, sekalian Mama mau berkenalan sama mama baru kalian."
Ketiganya berada di dalam satu mobil, sesampainya di rumah Reyhan, Qila dan Hafidz sudah tertidur. Sehingga membuat Ria sedikit kerepotan.
"Hufftt ...," Kalau bukan karena harta, ogah ngelakuin ini semua." Ria sambil membuka pintu mobilnya.
๐๐๐
__ADS_1
Terima kasih, masih setia dengan karya receh Syfa, jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak๐, jangan lupa Like, komen, gift, vote, rate juga favoritnya ya.
Marhaban Ya Ramadhan, Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, jaga kesehatan jangan lupa bahagia ๐