
Sementara di Jakarta Ria sedang kelimpungan mencari keberadaan Reyhan. Hampir setiap hari dia mendatangi kediaman Rey, namun disana dia tidak menemukan siapapun. Ayahnya yang selalu mempertanyakan keberadaan menantu dan kedua cucunya itu membuat Ria mati kutu di buatnya.
Bukan Bram tidak mau mencari keberadaan Reyhan, hanya saja dia ingin melihat bagaimana usaha Ria untuk membawa Reyhan kembali. Bram menginginkan Ria bisa hidup mandiri tanpa bantuannya. Karena selama ini Ria sudah terlalu banyak menghambur-hamburkan uang dan berfoya-foya.
"Kemana sih, tuh orang. Perasaan tidak punya tempat tinggal lain deh, selain Jakarta, keluar kota juga dia nggak pernah, apa gue salah waktu ya datang kesini?" Ria sembari meninggalkan rumah Reyhan.
Rumah, itulah tujuan Ria saat ini, ingin segera mandi dan berendam dalam bakal mandi, mungkin bisa membuat tubuhnya sedikit lebih rileks. Setelah hampir setengah hari mencari keberadaan Reyhan yang tak kunjung dia temukan. Belum sempat dia memanjakan dirinya, sang ayah ternyata sudah menunggu dirinya di dalam rumah.
"Ria, apa kamu sudah menemukan Reyhan?tanya Bram tanpa basa basi.
" Belum, Pa. Ntah pergi kemana tu orang. Sudah Ria cari kesana kemari tetap tidak ketemu." Ria sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
"Apa kamu tidak bertanya kepada mertua mu?" tanya Bram lagi.
"Rumahnya kosong, Pa. Nggak ada seorang pun disana," jawab Ria.
"Istri macam apa kamu, suami pergi kemana nggak tau," seloroh Bram.
Bram terdiam," Kemana perginya Reyhan hingga Ria tidak bisa menemukannya," ucapnya dalam hati.
*
*
*
Sementara di Surabaya, di sebuah masjid sedang berlangsung acara ijab qobul antar Reyhan dan Hanna, pernikahan yang hanya di hadiri beberapa orang itu, berlangsung secara khidmat dan sakral.
"Sah ...," ucap para saksi serentak mengiringi Reyhan selesai mengucap ijab qabul.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap Reyhan, Hanna dan orang tuanya.
Aisyah sebagai sahabat Hanna tidak menyangka, Hanna secepat ini menikah. Padahal sejak awal mereka bercita-cita ingin meraih mimpi bersama.
"Selamat ya, Na. Semoga selalu bahagia." Aisyah sambil memeluk Hanna.
"Makasih ya Syah." Hanna sambil terisak.
"Sudah jangan bersedih ini hari bahagia, sebaiknya kamu tersenyum bukan malah menangis." Aisyah sembari mengusap pipi Hanna yang basah.
Setelah melangsungkan ijab qobul di masjid pagi tadi, sorenya diadakan pesta kecil-kecilan dikediaman Reyhan. Hanya ada kerabat, dan beberapa karyawan termasuk Dicky, sahabat sekaligus tangan kanannya.
"Selamat, Bro. Loe bakal jadi laki-laki sebenernya kali ini," Dicky sambil memeluk Reyhan.
"Emang loe pikir selama ini, gue itu apa? Banci gitu," Reyhan dengan nada bercanda.
"Huss," jangan kencang-kencang ngomongnya, kedengaran orang bisa berabe, Dudul." Reyhan memukul Dicky pelan.
"Ups! Sorry lupa." Dicky sambil menutup mulut embernya.
Pesta kecil-kecilan yang di gelar keluarga Reyhan berjalan sangat meriah, begitupun Reyhan dan keluarganya, sangat bahagia dan bersyukur memiliki menantu seperti Hanna. Para tamu sudah berangsur-angsur pergi meninggalkan rumah Reyhan. Kini hanya tinggal Reyhan, Hanna, kedua orang tua Reyhan, Aqila dan Hafiz.
"Pa, sekarang tante cantiknya tinggal bareng kita, ya?" tanya Hafiz.
"Iya dek, kan tante cantik sudah menikah sama papa," jelas Qila.
"Sekarang kalian boleh panggil tante cantik dengan sebutan Mama," terang sang Oma.
"Iya Oma," sahut keduannya.
__ADS_1
"Sekarang siap-siap tidur ya sudah malam, besok kita harus kembali ke Jakarta, lusa kalian kan sudah mulai sekolah," terang Oma Rita lagi.
"Siap Oma," Keduanya sembari melangkah pergi.
Sementara Oma Rita juga beranjak dari ruang tamu, hanya ada beberapa orang yang masih disana, membantu membersihkan sisa-sisa pesta tadi sore. Sementara Reyhan dan Hanna yang sudah dulu masuk kedalam kamar membuat keduanya saling berdiam. Pertemuan yang hanya beberapa kali membuat mereka canggung.
"Mas, Nana ke kamar mandi dulu ya, sekalian mau ganti baju, sudah gerah." Hanna sambil tersenyum.
Reyhan hanya menganggukkan kepala. Selepas melihat kepergian sang istri Reyhan dengan segera menghubungi Dicky.
"Lama amat, sih!" Kemana lagi tuh lawang kobra."
"Iya hallo, ada apa pak bos, gimana uda gol belum, si belalai uda ketemu pawangnya kan?" Dicky sambil cengegesan.
"Brengsek loe, gerogi gue. Jangankan nemu sarang, liat Nana tersenyum aja gue sudah deg degan, loe punya solusi nggak?"
"Solusinya gampang, tinggal sholat sunah dua rakaat, baca do'a, tancap gas, beres," ucap Dicky.
"Ga ada guna ngomong sama loe, ntar kalau uda nikah baru tau rasa loe."
"Habisnya loe sih, uda nikah bertahun-tahun, nggak pernah nyicipin surga dunia, ya salah loe sendiri lah."Dicky masih dengan nada mentertawakan Reyhan.
Tanpa berucap lagi Reyhan langsung mematikan sambungan telponnya. Saat hendak menoleh, Rey dikagetkan oleh keberadaan Hanna yang sudah duduk di sampingnya." Astaghfirullah, sejak kapan kamu duduk disini sayang?" tanyanya pada Hanna.
"Baru saja kok, Mas!" jawab Hanna.
🐦
Maaf gaess telat up lagi, badan masih lemes ini. Terima kasih masih setia nungguin kisah Reyhan dan Hanna. Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess, jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘
__ADS_1