
"Mengertilah, pernahkah kau diperlakukan begitu istimewa kemarin, dan begitu tidak diinginkan hati ini? Dicintai disuatu tempat, dan dibuang di tempat yang lain."
" Hati manusia itu bagaikan cermin air, apa yang dikatakan mungkin saja tidaklah sama dengan apa yang ada di dalam hatinya."
"Seseorang bisa berbohong kapan saja, karena hati manusia memang selalu bisa berubah-ubah. Maka dari itu agar tidak terlalu kecewa, jangan berharap apapun dari siapapun."
#Quotes_
🍂🍂🍂
Happy reading ...
Hanna yang sedang membersihkan meja makan tiba-tiba saja di kagetkan oleh Reyhan yang tiba-tiba saja datang memeluknya dari belakang. Sejenak Hanna langsung menghentikan aktifitasnya.
"Mas, jangan usil deh." Hanna sembari menoleh kearah Reyhan.
"Siapa yang usil, Honey." Reyhan mengangkat tubuh mungil Hanna dan didudukan di atas meja makan yang baru saja dia bersihkan.
"Ih, gitu amat lihatnya," ucap Hanna.
"Kenapa, hemm." Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
"Serem." Hanna sambil tersenyum manja.
Tanpa menjawab ucapan Hanna, Reyhan langsung saja mencicipi bibir tipis itu. Menelusuri setiap inci bagiannya. Hingga kehabisan napas dan baru di lepaskan pagutan di pagi hari itu.
"Napas, Sayang." Ucapnya sembari tersenyum melihat sang istri yang gelagapan.
"Kamu jahilnya kelewatan, Mas." Hanna dengan wajah merona.
Reyhan tidak menghiraukan ucapan Hanna, dia kembali memagut bibir mungil itu. Setelah puas barulah dia melepaskannya. Tidak sampai di situ saja, Reyhan kemudian menggendong sang istri di bawahnya kembali wanita itu kedalam kamar tidurnya.
__ADS_1
Sementara di kantor Reyhan, Dicky kelimpungan menghadapi begitu banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan. Kalau biasanya dikerjakan bersama-sama dengan Reyhan, kali ini dia harus bekerja keras sendirian, karena Reyhan mengambil cuti selama beberapa hari.
"Ini yang enak pengantin baru, nggak enak sama gue." Dicky sambil menata map di atas meja kerjanya
Dicky mengambil ponsel yang berada di atas meja kerjannya, dengan segera dia mencari kontak Reyhan. Berulang-ulang kali dia menghubungi Reyhan, namun nihil tidak satu pun panggilannya terjawab.
"Mentang-mentang pengantin baru, guenya jadi di cuekin. Nasib jomblo gini amat ya," omel Dicky.
🍂🍂🍂
Siang berganti malam, mlam berganti siang, tidak terasa pernikahan mereka kini berusia satu bulan, setelah melalui perdebatan panjang antara Reyhan dan Nana, akhirnya Reyhan mengalah menuruti keinginan Nana untuk pulang ke Jakarta. Nana yang ingin bertemu sang ibunda begitu bahagia karena Reyhan mengizinkan untuk pulang.
"Terima kasih, Mas. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan mama." Hanna memeluk tubuh atletis sang suami.
"Berani peluk-peluk ya, ini masih siang Sayang, jangan nyesel lho. Nanti si Belalai bangun dan minta masuk sarang gimana." Reyhan mempererat pelukannya.
"Mas, pesawat kita jam satu siang, siap -siap dulu yuk, biar nggak ketinggalan." Hanna mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya. Namun itulah Reyhan tidak begitu saja dia melepaskan Hanna. Pasti ada saja keusilan yang dia lakukan.
"Masih dua jam lagi, Sayang. Dua ronde pun masih sempat." Reyhan mulai melucuti satu persatu pakaian sang istri dan pakainya sendiri.
" Iya, Sayang. Nikmati saja, biar aku yang kerja." Reyhan sambil tersenyum.
Terjadi pergumulan panas di siang itu, suhu yang lumayan panas kota Surabaya, seketika menjadi lebih panas. Keduanya saling menikmati kenikmatan itu satu sama lain. Reyhan yang berusia lebih matang membuatnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk selalu menjelajahi kemolekan sang Istri, usia yang terpaut jauh tidak membuat keduanya kehabisan semangat.
Jam satu siang, pesawat mereka berangkat menuju Jakarta, sesampainya di Jakarta, Reyhan dan Hanna langsung menuju kediaman sang mama. Hatinya begitu bahagia setelah beberapa bulan lalu di harus pergi meninggalkan ibu kandungnya itu sendirian.
"Assalamu'alaikum, Ma." Hanna sambil mengetuk pintu rumah sederhana itu.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam.
Ketika pintu sudah terbuka, betapa bahagianya Rika, ibunda Hanna. Menghambur memeluk sang anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang, Nak." Rika sembari mengusap wajah cantik sang anak.
"Ma, kenalkan ini Mas Reyhan." Hanna sambil menoleh kearah sang suami.
"Reyhan, Tante," sapa Reyhan.
"Rika, Mamanya Hanna." Rika sambil tersenyum.
Rika mengajak keduanya untuk masuk, Hanna mempersilahkan Reyhan untuk duduk, sementara Hanna dan Rika masuk ke ruang tengah.
"Nak, siapa dia. Mama kok belum pernah melihatnya. Kelihatannya usianya juga lebih tua diatas kamu," Rika memberondong Hanna dengan banyak pertanyaan.
"Hanna ganti baju dulu, ya. Nanti Hanna cerita semua ke Mama." Hanna berjalan menuju kamar tidurnya.
Sementara Hanna sedang berganti baju, Rika disibukkan dengan dapur, membuat camilan dan minuman untuk tamu sang anak. Hanna memanggil Rita yang sejak tadi tidak kunjung kedepan.
"Ma, mama lagi bikin apa sih! Ayo ke depan, Mas Reyhan mau membicarakan sesuatu kepada mama." Hanna menggandeng sang mama, sementara Rika sibuk dengan jamuan ditangannya.
Setelah selesai dengan hidangannya barulah Reyhan dan Hanna menceritakan semuanya kepada Rika.
"Ma, sebelum Hanna minta maaf sama mama." Hanna mulai terisak.
"Sebenarnya saya dan Hanna sudah menikah beberapa waktu yang lalu, Tante." Reyhan menimpali.
Karena terlalu shok, Rika tidak segera menjawab atau berucap apapun kepada keduanya, sehingga membuat Hanna semakin merasa bersalah.
"Ma ...,"
🍂🍂🍂
Terima kasih, jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes. Like, komen, rate, gift, vote juga fav. Eh satu lagi gaess buat nemenin ramadhan jangan lupa mampir juga ke karya Syfa kali ini berbentuk chat story, di jamin bikin kocak. Karya ini akan terbit tanggal 1 April 2022.
__ADS_1
The Somplak Family.