
🕊
Hargai sekecil apapun perjuangan dan pengorbanan seorang laki-laki. Jangan pernah disepelekan apalagi tidak dihargai. Yang tulus hanya datang satu kali. Jangan sampai disia-siakan, selagi masih ada jaga baik-baik, genggam erat, jangan pernah engkau lepaskan.
Kalau dia sudah memutuskan untuk pergi, jangan pernah kamu menyesalinya. Selagi kamu masih bernafas rasa menyesal itu akan terus ada menghantui dirimu.
🕊
Selamat membaca,
Ria yang baru saja sampai di rumah Reyhan dengan segera dia masuk, menggendong Hafidz yang masih tertidur, sementara Aqila di tuntunnya.
"Mas, Mas Reyhan." Hanna memanggil Reyhan seraya berjalan menuju tangga, belum sempat naik ternyata Reyhan sudah duluan turun dari kamar tidurnya.
"Kamu! Apa lagi, sih." Reyhan yang masih berjalan menuruni anak tangga.
"Hafidz, Mas. Tidur dia, mana berat banget lagi," keluhannya pada Reyhan.
" Baru sadar kamu, gitu saja sudah ngeluh," sahut Reyhan ketus.
"Ya, maaf. Mas!" lagi-lagi Ria meminta maaf.
"Basi." Reyhan mengambil alih Hafidz yang sedang tidur di gendongan Ria. Reyhan berjalan ke kamar Qila dan Hafiz. Sementara Ria mengekor di belakang Reyhan.
"Mas, apa benar kamu menikah lagi?
Reyhan terdiam mendengar pertanyaan Ria, berusaha menutupi pernikahan itu, agar Ria tidak nekat mengganggu Hanna. Namun, nyatanya Ria sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
" Iya, ada masalah," jawab Reyhan santai.
"Status kita masih suami istri Mas." Ria meninggikan suaranya.
"Sejak kapan kamu perduli dengan status, bukannya selama ini kamu tidak pernah perduli dengan semua itu. Yang kamu perdulikan bukannya si Alvin, Alvin dan Alvin. Kenapa sekarang kamu malah mencari ku, bukannya si Alvin yang selama ini membahagiakan kamu."
Ria tidak menjawab pernyataan Reyhan, karena semua yang di katakan memang bener adanya. Selama ini prioritas Ria hanyalah Alvin, bahkan Aqila dan Hafidz yang anak kandungnya dengan Alvin saja selalu di abaikan.
"Kenapa diam, yang ku katakan benar semua kan, tidak ada yang meleset satu pun," ucap Reyhan lagi.
"Tapi kenapa kamu tidak memberitahu ku. Apa aku tidak berhak tau!" Ria mencoba mencari celah untuk membuat Reyhan percaya lagi kepadanya.
"Untuk apa, bukannya kamu tidak pernah perduli kepada ku. Apa kau lupa hampir lima belas tahun menikah, apakah kamu pernah memikirkan perasaan ku, sedikit saja. Apa pernah?"
Seketika Ria merasa bersalah kepada Reyhan, namun itu semua hanya sesaat, disaat apa yang dia inginkan tercapai, maka Reyhan hanya dianggap sebagai benalu yang menumpang kepada dirinya.
"Lebih baik kamu pulang, atau cari saja si Alvin, pasti dia dengan senang hati mau membantumu." Reyhan sambil mengambil air minum di dalam kulkas.
"Tapi Mas,"
"Nggak usah tapi, aku tau apa maumu sebenarnya, harta kan, kemewahan, foya-foya, itu kan yang kamu mau." Reyhan tersenyum simpul.
Ria hanya diam, mendengar semua apa yang dikatakan oleh Reyhan. Ingin menjawab namun masih memiliki rasa malu.
"Tenang saja, kalaupun aku menceraikan kamu, aku tidak akan pernah mengambil harta ayahmu sepeser pun, uang ku sudah lebih dari cukup untuk membiayai orang tua dan istriku, termasuk kedua anakmu," ucap Reyhan penuh penegasan.
"Apa maksud kamu, Mas!
__ADS_1
" Bukannya sudah jelas, harta ku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga ku dan kedua anak mu," ucap Reyhan lagi.
Ria sungguh terkejut mendengar ucapan Reyhan, memang selama ini dia tidak pernah sekalipun menghiraukan kedua anaknya itu. Menyesal, itu sudah terlambat. Semua sudah berjalan terlalu jauh.
"Pergilah, jangan pernah mengusik keluarga ku lagi, jika kamu ingin membawah anak mu, silahkan bawah, aku tidak keberatan. Karena mereka memang anak kandung mu." Reyhan berlalu meninggalkan Ria.
Setelah Reyhan pergi, Ria juga pergi meninggalkan rumah mewah dengan dua lantai itu. Lagi-lagi Ria kalah menghadapi Reyhan. Jika Ria tidak berhasil membawa Reyhan kembali, berarti harta akan jatuh ke tangan Reyhan. Itulah yang memaksa Ria berkeras hati untuk membawa Reyhan kembali.
"Apa lagi yang harus aku lakukan." Ria memijit pelan pelipisnya yang sakit.
*
*
*
Sementara dikamar ukuran 4x4 meter itu sedang terjadi pergulatan batin, ya, Hanna sedang merenungi nasib pernikahannya, disisi lain di sudah mencintai dengan apa adanya. Namun disisi yang berbeda dia mencoba untuk berontak. Dirinya merasa bersalah atas pernikahan itu. Tidak seharusnya dia menerima tawaran Reyhan untuk menjadikannya istri.
"Maafkan aku, Mbak Ria, semua terjadi karena aku. Tidak seharusnya aku berada diantara kalian. Namun kini, apa yang harus aku lakukan. Berpisah dengan mas Reyhan akan membuat dia sakit, bertahan dengannya juga akan menyakiti wanita yang lain," ucap Hanna dalam hati.
Hanna teringat kedua anak sambungnya, Aqila dan Hafidz. " Maafkan Mama, masih belum menjadi orang tua yang bisa kalian banggakan."
Tidak lama kemudian, sering ponsel Hanna berbunyi dengan nyaring. Dengan segera Hanna melihat layar ponsel itu, tertera nama Reyhan disana. Hanna bingung antara di angkat atau di biarkan saja panggilan itu.
🕊
Dilanjutkan besok ya gaes, Terima kasih masih setia sama Aku di Antara Mereka, karya receh yang berkat jejak kalian jadi di baca banyak orang. Jangan lupa like komen gift vote rate juga Fav nya ya. Eh, satu lagi akan ada doorprize di akhir cerita ya, simak kisahnya jangan lupa tinggalkan jejak. 🙏
__ADS_1