Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 42


__ADS_3

Berjalan di lorong rumah sakit yang sudah malam membuat bulu kuduk Hanna berdiri. Hanna dengan kaki yang tidak terlalu panjang tidak dapat mengimbangi langkah bang Edi yang berjalan di depannya. Tanpa sungkan lagi Hanna yang benar-benar ketakutan memanggil supir Ria itu.


"Bang, tunggu!" Ucap Hanna.


"Iya, Non." Edi menghentikan langkahnya.


" Jalannya pelan-pelan saja," ucap Hanna.


"Eh, maaf Non, saya buru-buru karena istri saya sedang sakit. Jadi ini sekalian mau beli obat dulu, biar nanti tidak bolak balik lagi," terang bang Edi.


"Oh ya sudah, Abang beli obat saja saya tunggu di depan ya," Hanna berucap dengan sopan.


"Iya, Non. Terima kasih!


Keduanya berjalan beriringan hingga akhirnya sang supir berpamitan berjalan ke arah apotek dan Hanna menunggu di pintu depan rumah sakit. Lama Hanna menunggu dia mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tasnya. Belum sempat dia membuka layar ponsel yang dipegang tiba-tiba saja ada seorang laki-laki paru baya meminta tolong kepadanya.


"Maaf, Mbak!" ucap laki-laki itu.


"Iya Pak! ada apa ya," sahut Hanna.


"Boleh saya minta tolong?" Tanyanya pada Hanna.


"Iya Pak. Boleh!" Jawab Hanna tanpa ragu.


"Bisa di tunjukkan dimana mushola dirumah sakit ini," ucap laki-laki itu.


"Mari, Pak!" Hanna mengantar pria itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Laki-laki itu berjalan di belakang Hanna. Tempat mushola berada agak sedikit jauh dari pintu keluar rumah sakit. Melewati jalan yang benar-benar sepi. Tidak lama kemudian, datang sebuah mobil berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti di dekat Hanna berjalan dan tanpa di sangka laki-laki yang berjalan di belakang Hanna membungkamnya lalu dengan segera dimasukkan Hanna kedalam mobil itu.


Setelah berhasil membawa Hanna, mobil itu segera melaju dengan cepat. Pak Edi yang sudah selesai dengan urusan obatnya segera mencari keberadaan Hanna. Namun setelah mencari di sekeliling pintu keluar pencarian pak Edi ternyata nihil, Hanna tidak ditemukan.

__ADS_1


"Di mana ya Non Hanna, katanya di depan kok di cari nggak ada, apa mungkin kembali kedalam ya!" Edi menerka-nerka.


Edi pun segera menghubungi Reyhan menanyakan keberadaan Hanna.


"Assalamu'alaikum, maaf Tuan. Apa non Hanna kembali lagi ke dalam. Kok saya cari nggak ada," ucapnya pada Reyhan.


"Bukannya tadi keluar barengan sama kamu! Ya sudah aku kedepan sekarang." Reyhan sambil bergegas keluar dari ruangan itu. Setelah Reyhan keluar dering ponsel Ria seketika berbunyi, Ria menjauh dari sang papa untuk mengangkat panggilan di ponselnya.


"Iya," ucap Ria.


"Target sudah di tangan, Bos!" Lapor sang penculik kepada Ria.


"Rencana berubah, jangan di habisi dulu. Biarkan dia bersama kalian aku akan nego sama suaminya." Ria menjelaskan sembari menutup panggilannya.


Sementara Reyhan yang sudah sampai di depan dengan keadaan panik, dia segera bertanya kepada supirnya itu.


" Tadi saya minta izin beli obat dulu buat istri saya yang sedang sakit, dan non Hanna bilang mau nunggu di depan saja. Tapi, setelah saya kembali non Hanna sudah tidak ada tuan, sya kira kembali lagi ke dalam," terangnya.


Reyhan mulai menghubungi Hanna, panggilan pertama berdering, panggilan kedua pun masih berdering. Hingga panggilan ketiga ponsel Hanna tidak dapat di hubungi. Reyhan semakin panik karena nomor Hanna tidak bisa di hubungi lagi.


"Suaminya telpon!


" Matikan ponselnya," sahut yang lain.


Sesampainya di sebuah gudang Hanna di angkat oleh salah seorang penculik itu, di ikannya Hanna dengan posisi duduk dan mulut yang di sumpah kain, hingga nanti saat dia tersadar tidak akan berteriak.


Sementara Reyhan berlari ke arah resepsionis di dalam rumah sakit. Berharap bisa mendapatkan rekaman CCTV dari pihak rumah sakit. Setelah beberapa saat bernegosiasi akhirnya Reyhan di izinkan untuk melihat rekaman CCTV itu. Reyhan dan pak Edi yang melihat kejadian itu pun langsung shok.


"Pak Edi tolong di catat no plat mobil penculik itu, Pak!" Perintah Reyhan sambil terus memandangi rekaman CCTV itu.

__ADS_1


"Sudah terbukti Hanna di culik, ayo kita segera pergi mencarinya, Pak!" Reyhan berdiri seraya berpamitan kepada petugas rumah sakit itu.


"Bawah mobil saya saja, Pak!" Reyhan berlari ke arah mobilnya. Pak Edi pun menurut saja apa yang dikatakan oleh Reyhan.


.


Sementara Ria yang berada di rumah sakit sendirian mencari ide, apa yang harus dia lakukan setelah Hanna berhasil di culik. Banyak hal gila yang melintas di benaknya. Salah satu dengan menghabisi Hanna, namun otaknya masih sedikit waras, akan banyak resiko yang dia hadapi setelah berhasil menghabisi wanita berhijab itu.


" ****...!" Umpatnya.


"Gue akan bikin perhitungan saja sama si Reyhan, mau tidak mau dia harus mau dengan apa yang gue putuskan."


🦜


Pembaca yang bijak jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess.


Like


Komen


Vote


Gift


Rate


Favorit


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, jaga kesehatan jangan lupa bahagia 😘

__ADS_1


__ADS_2