Aku Di Antara Mereka

Aku Di Antara Mereka
ADM 40


__ADS_3

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankannya, jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia😘


Selamat membaca...


"Maafkan aku, Rey." Ria melangkah pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Reyhan. Dalam perjalanan Ria merenungi apa yang baru saja dia alami.


"****!!


Kenapa gue jadi melow gini sih!" umpat Ria. Dia terus terngiang bentakan yang di ucapkan Reyhan tadi.


"Gue harus kuat, nggak boleh lemah. Gue mau bujuk Reyhan buat dapetin hartanya papa, bukan malah baper gara-gara bentakan dari dia. Kan gue jadi lupa tujuan awal tadi kerumah Rey. Tuh cewek juga ga ada luka, dia baik-baik saja. Wah jangan-jangan mereka bohongi gue lagi. Untung komisi mereka juga belum gue transfer.


*


*


*


Dicky keluar dari kamarnya ketika mengetahui Ria telah pergi dari rumah itu, Dicky tertawa lepas saat melihat Mama Rita juga ikut keluar.


"Ky lagi ngetawain apa, sih!


"Ketawa lihat wanita jadi-jadian tadi itu, Ma." Iky sambil mendudukkan bokongnya di sofa.


"Itu Reyhan betah amat ya, hampir lima belas tahun bareng dia, apa nggak muntah denger ocehannya," Iky kembali tertawa.


"Ky, Reyhan ngelakuin itu semua demi kita," ucap Rita sedikit melow.


"Iya, Ma. Iky tau dan salut banget sama Reyhan. Demi kita dia rela mengorbankan kebahagiaannya. Tapi sekarang dia sudah mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari apapun, istrinya yang baik, dan keluarga yang selalu sayang sama dia." Iky sembari memeluk sang Mama.


"Mama juga terima kasih sama kamu, rela berpisah dengan keluarga demi mempertahankan perusahaan kita yang di Surabaya. Mama bangga punya kalian." Rita memeluk erat Iky.


"Sudah, jangan melow-melow lagi, Iky mau ngomong sesuatu sama Mama."


"Apa itu, Sayang!


" Iky mau minta izin sama Mama, Iky mau mengakhiri masa lajang Iky, Ma."


"Alhamdulillah akhirnya ketemu jodoh juga."


"Siapa wanita yang sudah memenangkan hati jagoan Mama ya?


" Yang jelas, dia sholeha, baik, pintar juga rajin. Nggak jauh beda sama Nana.


"Tanpa melihat orangnya pun Mama pasti setuju, kalau sebelas dua belas belas sama Nana." Mama tersenyum.

__ADS_1


"Mama bisa saja,"


"Kapan rencana kamu mau melamarnya, Nak!


" Secepatnya, tapi nunggu Papa dulu. Iky mau istirahat beberapa hari dulu di sini. Boleh kan Ma?


"Ya boleh dong, Sayang. Ini kan rumah kamu juga. Sekalipun kamu bukan anak kandung Mama sama papa tapi kamu sudah Mama anggap anak sendiri. Dan Mama tidak akan membedakan antara kamu dan Reyhan. Semua sama." Rita sambil menggenggam tangan Iky.


"Terima kasih, Ma. Sudah mau merawat, dan menyayangi Iky dari kecil, kalau tidak ada kalian, ntah apa yang terjadi sama Iky."


"Sudah malam, Sayang. Mama istirahat dulu ya, besok kita ngobrol lagi." Rita berdiri dari posisi duduknya.


"Iya, Ma. Iky bentar lagi juga tidur, kok.


*


*


*


Pagi-pagi sekali Bram sudah menghubungi Reyhan, dia menyuruh Reyhan untuk datang ke kantornya. Kantor yang beberapa saat lalu berada di bawah kuasa Reyhan kini sudah di kembali lagi kepada pemilik aslinya.


"Assalamu'alaikum, Pa!" Reyhan sembari masuk kedalam ruangan Bram.


Reyhan duduk, dengan antusias Bram menceritakan semua yang terjadi di perusahaannya, namun Reyhan hanya mendengarkan saja tanpa memberi solusi apapun kepada Bram.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan Rey?" Tanya Bram.


"Semua kendali ada ditangan Papa, apapun keputusan yang Papa ambil itulah yang terbaik buat perusahaan Papa," jawab Reyhan.


"Sebenarnya Papa itu tidak mau kamu keluar ataupun berpisah dengan Ria, karena hanya kamu yang bisa memegang kendali semua perusahaan Papa. Kalau boleh Papa meminta, jangan pernah ceraikan Ria Rey."


"Tapi, Pa! Reyhan juga sudah punya istri, yang harus Reyhan jaga hatinya."


"Iya, Papa ngerti kok Rey, Papa tidak akan memaksa kamu untuk tetap tinggal." Bram sembari bangun dari duduknya.


"Rey sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan. Tinggal tunggu waktu saja, Pa. Maafkan Rey, belum bisa menjadi menantu yang bisa Papa banggakan."


"Terima kasih, Rey. Kamu telah banyak membantu perusahaan Papa. Dan sesuai wasiat Papa, semua harta Papa akan jatuh ke tangan kamu, Ria hanya beberapa persen saja."


"Pa, Rey tidak meminta semua itu, Pa! Berikan saja semua kepada Ria, biar dia tidak mengganggu Reyhan lagi," ujar Reyhan dengan penuh hati-hati.


"Itu menjadi hak kamu dan kedua cucu ku. Asuh mereka dengan benar, jangan sampai salah jalan seperti Ria, Papa titip mereka sama kamu."


"Papa ngomong apa sih, Pa! Emang Papa mau kemana?"

__ADS_1


"Umur tidak ada yang tau. Kapanpun kita bisa di panggil sama yang kuasa." Bram berubah sendu.


"Sudah! Jangan bahas yang aneh-aneh lagi, bahas yang lain saja, Pa!


*


*


*


Sementara Ria yang baru saja mendapatkan surat perceraian dari pengadilan begitu histeris membacanya. Dia tidak terima Rey menceraikannya.


" Awas kamu, Rey. Lihat pembalasanku, jika aku tidak bahagia, maka kau pun tidak berhak bahagia." Ria menggebrak meja kayu yang ada di depannya.


Ria kembali menelpon orang suruhannya, kali ini tidak tanggung-tanggung, dia menyuruh orang untuk menghabisi Hanna dan orang tuanya.


"Habisi mereka semua jangan di kasih ampun, jangan menghubungi ku sebelum mereka semua mati," ucap Ria menggebu.


" Siap yang akan kamu habisi, Ria." Bram yang tiba-tiba saja datang.


"Papa!"


"Cepat katakan, siapa yang akan kamu habisi! Kalau sampai kamu membuat onar lagi, jangan harap kamu menerima se sen pun dari harta Papa, bahkan kau pun akan papa coret dari kartu keluarga."


Belum juga Ria menjawab, Bram sudah terjatuh ke lantai, serangan jantung yang dulu pernah menyerangnya kini datang menyerang lagi.


"Papa... " Ria histeris.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pembaca yang bijak, jangan lupa tinggalkan jejak ya,


Like


Komen


Gift


Vote


Rate


Favorit.


Terimakasih, 😘

__ADS_1


__ADS_2